Budaya Refleks

Sagita Resstiani
Karya Sagita Resstiani Kategori Motivasi
dipublikasikan 25 Juli 2016
Budaya Refleks

Alkisah..
 
Ada seorang gadis yang biasanya ceria terduduk diam bagai tak ada semangat hidup. Matanya menerawang mengarah pada satu titik didepannya. Ia melamun tanpa mengedipkan mata dan berpindah pandangan sedikitpun. Sepiring opor ayam dan ketupat tergeletak disampingnya, tak disentuh sesendokpun. Padahal hari itu adalah hari dimana kita seharusnya bersuka cita merayakan kemenangan setelah sebulan penuh kita berpuasa. Mungkin bagi sebagian orang, hari itu adalah hari dimana hanya satu tahun sekali bisa berkumpul dengan seluruh keluarga besarnya yang selama ini tinggal jauh. Seharusnya ia senang bertemu dengan nenek, kakek, om, tante, atau sepupu-sepupunya. Lalu mengapa ia hanya terduduk melamun di kursi teras depan, seolah enggan bercengkerama dengan sanak saudaranya? 
 
 
Mundur 30 menit ke belakang...
 
 
Seorang gadis duduk di jok mobil belakang. Ia tampak sumringah karena akan ikut ayah dan ibunya bertemu dengan keluarga besar di rumah nenek dan berlebaran disana. Ia tak kuasa menahan sabar ingin melihat sepupu-sepupunya yang selama ini hanya bersilaturahmi lewat grup chat saja. Sesampainya di rumah nenek, ia turun dari mobil dan segera berlari menyalami saudara-saudaranya satu persatu. Tampak di raut wajahnya rasa kangen bertemu sepupu-sepupu jauhnya. 
 
 
Sebut saja Amy, dia anak yang ceria, terkenal gaul di kalangan teman-teman kampusnya. Amy cukup pintar, supel dan ramah, bahkan hampir di semua jurusan kampusnya pasti ada saja orang yang mengenal dia. Karena dia senang mengisi kegiatan sehari-harinya dengan ikut organisasi-organisasi yang ada di kampus dan bersosialisasi. Setelah lulus pun dia tak pernah putus kontak dengan teman-teman maupun dosennya. Namun sudah 6 bulan setelah lulus ia belum juga mendapat pekerjaan.
 
 
Amy yang baru datang semangat sekali bergabung dengan sepupu-sepupunya yang sudah berkumpul daritadi di ruang tamu rumah nenek. Berhahahihi dan bertanya kabar mereka satu sama lain. Ada yang baru melahirkan. Ikut bahagia rasanya punya keponakan baru, jadi ada yang bisa diajak main. Setelah sedikit melepas kangen di ruang tamu, masuklah ia ke dalam dan bertemu yang lebih tua untuk bersalaman dan sedikit berbincang untuk kemudian kembali lagi berkumpul dengan sepupu-sepupunya di ruang tamu. Biasanya sih memang begitu kan, lebih senang berkumpul dengan yang seumuran. Tapi sopan santun harus diutamakan, salam sama yang lebih tua harusnya didahulukan.
 
 
"Amy..kerja dimana sekarang?" tanya seorang tantenya disaat yang sama setelah bersalaman.
"Belum dapet kerja tante hehe.." jawab Amy.
"Loh, lulusnya udah 6 bulan yang lalu kan My?" tantenya sedikit kaget. 
"Iya tan, tapi belum ada yang nyangkut" jawab Amy lagi sambil senyum. 
"Wah padahal ayah kamu kerja di perusahaan BUMN lho, ibu juga kan banyak link-nya, kenapa nggak minta dimasukkin aja? Liat Sella juga bisa dapet kerja kemarin abis lulus karena kenalan ibu kamu, sekarang malah udah nemu jodoh juga disana. Ayo kapan nyusul My?" ujar tantenya.
"Iya tante doain aja" senyum Amy mulai menipis dan ia pun berlalu meninggalkan tantenya.
 
 
Seolah sudah menjadi budaya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu menjadi refleks diucapkan bukan hanya oleh seorang, tapi kemudian tante dan omnya yang lain juga bertanya dengan format yang sama. Amy jadi sedikit muram dan tidak sesemangat saat pertama kali datang. Memang sudah 6 bulan ini dia juga tidak putus berusaha, dan bukannya dia tidak mau masuk perusahaan BUMN tempat kerja ayahnya atau dapat kerja dari link ibunya, tapi perusahaan-perusahaan yang ditawarkan itu tak satupun membuka lowongan yang posisinya sesuai dengan latar belakang pendidikan Amy. Lagipula dalam bekerja harus ada passion bukan?   
 
 
Amy jadi semakin malas ketika topik itu menjadi perbincangan hangat di kalangan om dan tantenya di ruangan itu. Seharusnya moment bahagia seperti lebaran ini tidak rusak begitu saja hanya karena membahas masa depan orang lain yang jangankan mereka tahu, bahkan Amy sendiri juga tidak tahu kapan ia akan mendapat pekerjaan impian pertamanya itu. Andai saja ia langsung mendapat pekerjaan setelah lulus, apalagi dia supel, mudah bersosialisasi, tak pernah putus kontak dengan teman-teman sekolah dan kuliahnya. Harusnya ini mudah, begitu kata batinnya sendiri. Kemudian ia berjalan ke arah teras depan lewat pintu dapur samping seraya membawa sepiring opor ayam dan ketupat yang ia ambil dari ruang makan dekat dapur tadi. Namun tak dapat dipungkiri, pertanyaan-pertanyaan tante dan omnya tadi begitu kuat menempel di kepalanya. Sehingga untuk makan saja ia sebenarnya sudah tak bernafsu, dan ia hanya bisa terduduk melamun di teras depan.
 
Ini hanyalah sebuah ilustrasi...
 
Kadang saking udah males, jawabnya bisa sambil ogah-ogahan plus senyum kecut gitu. Karena rentetan pertanyaan seperti ini biasanya ada formatnya, seolah-olah sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia yang kehabisan bahan obrolan saat bertemu.
 
 
Kapan lulus?
Kapan kerja?
Kapan nikah?
Kapan punya anak? atau Udah isi belum? (risoles kali ah ada isinya)
Kapan ngasih adik? (yaelah baru juga brojol nih, jahitan masih perih grrrr..)
Kenapa cuma jadi IRT, nggak kasian liat suami survive cari nafkah sendiri?
Nggak sayang sama gelar sarjananya, kok di rumah aja?
Kenapa kerja, nggak sayang ninggalin anak di rumah?
Kenapa hidupnya LDR, pisah sama suami, nggak kasian suami nggak ada yang ngurus?
 
 
Ya tuhan secara nggak sadar kita suka mengeluarkan pertanyaan refleks itu walau nggak ada untung-untungnya amat buat diri kita kalau tahu. Pertanyaan itu memang sepele, tapi siapa yang bisa melawan takdir kalau memang Allah belum memberi jalan. Semua juga pasti menjawab pengennya cepat, mudah, dan sesuai dengan yang diharapkan. Apalagi jika orang yang diberondong pertanyaan itu adalah orang yang dianggap mampu mendapat sesuatu dengan mudah seperti yang ada di pikiran orang lain. Kadang dari hal-hal kecil seperti bertanya dengan format di atas, kita seolah sudah ikut mencampuri urusan orang lain, mencoba menyempitkan pikiran mereka, menyalahkan cara mereka menjalani hidupnya. Padahal kita semua terlahir berbeda, kenapa juga harus hidup dengan jalan yang sama? Jangan suka ikut mencampuri urusan orang lain ah, kamu bukan mixer...
 
 
Memang cara paling mudah untuk mengetahui sebuah informasi adalah dengan bertanya. Tapi bukan berarti kita juga bebas bertanya tentang kehidupan pribadi seseorang dong, kecuali kita orangnya memang kepo maksimal seperti sudah menjadi fetish atau kelainan yang bikin kita nggak bisa deh kalau nggak kepo, mungkin bisa langsung datang ke psikolog aja. Beda ceritanya kalau kita hanya sekedar bertanya, kemudian ikut mendoakan saja yang terbaik atau cukup mendengar jawabannya sekali setelah itu jangan diperpanjang lagi dengan pertanyaan lain yang beranak pinak bikin kesal. Kecuali orang tersebut memang curhat secara langsung dan minta pendapat kita, barulah kita boleh tanyakan hal-hal yang berhubungan dengan itu untuk kepentingan memperjelas duduk permasalahan.
 
 
Lalu disini ada sebuah note menarik yang kemarin marak diposting teman di Path, menurut gue ini merupakan perkembangan mengerikan dari pertanyaan-pertanyaan berformat di atas. Kalau budaya refleks ini sudah mengarah ke kepo berlebihan dan nyinyir, akhirnya bisa benar-benar berpengaruh untuk kehidupan orang lain.
 
 
 
 
Mengerikan dan nggak enak bukan kalau ada orang yang nyinyir terhadap hidupmu? Makanya jangan lakukan itu pada orang lain kalau kamu juga nggak suka digituin. Pada dasarnya kita semua sama kok, nggak suka kalau kehidupan pribadinya diusik. Sekalipun dia ini orangnya adalah tipe exhibitionist yang senang sekali memperlihatkan tetek bengek kehidupannya di medsos, tapi gue yakin dia juga nggak akan suka kalau ada orang lain nyinyirin dia. Padahal sebenarnya wajar aja kalau orang lain jadi nyinyir, karena dia juga terlalu gampang ngupload foto atau status tentang kehidupan pribadinya sendiri. Apalagi sudah masuk medsos, mau nggak mau pasti jadi konsumsi publik dan memancing berbagai komentar orang. Ya pokoknya jangan lakuin hal itu sama kehidupan orang lainlah kalau kehidupan kamu aja masih banyak cacat yang bisa dicari dan semua itu udah bertebaran di medsos kamu.
 
 
Pada akhirnya budaya refleks yang sepele ini seolah membawa dampak buruk bagi perkembangan kehidupan orang lain. Bisa diambil contoh lain juga dalam kehidupan sehari-hari, misalnya orang yang udah lama belum nemu jodohnya, saking sering ditanya kapan nikah bisa-bisa jadi beneran nganggep dirinya nggak menarik makanya nggak laku atau bahkan jadi hopeless. Padahal dia bukannya nggak laku. Mungkin aja banyak laki-laki yang ngedeketin tapi karena dia punya pertimbangan sendiri seperti kriteria calon pendamping hidup atau mencari yang serius, semua jadi ngeblur karena dikejar target harus nikah karena udah ditanyain terus, dibandingin sama orang lain yang nikah muda atau udah lewat masa deadline jadinya ketar-ketir. Akhirnya nggak jarang malah ada yang ngambil calon asal-asalan. Ya asal bisa bikin orang lain diem ajalah. Apakah segitu dangkalnya makna sebuah pernikahan? Hal asal-asalan seperti ini yang nantinya bisa mengakibatkan asal juga mengambil keputusan untuk cerai, soalnya nikahnya juga asal comot sama orang nggak jelas sih. Akhirnya kita semua menyepelekan janji suci yang sakral itu dan kawin cerai jadi tren. Naudzubillahimindzalik....
 
 
Itu semua berawal hanya dari sebuah pertanyaan sepele yang kini sudah ada formatnya itu kemudian berkembang jadi kepo dan nyinyir. Tampaknya memang sepele, lagipula siapa sih yang melarang kita untuk bertanya? Tapi kalau pertanyaan itu bisa mengubah yang optimis jadi pesimis, ikhlas jadi nggak ikhlas, nyantai seperti air mengalir jadi tergesa-gesa, rendah hati jadi sombong ingin membuktikan, kita harus banyak introspeksi diri sendiri, jangan-jangan kitalah penyebabnya. Ya Allah apa yang bisa dibanggakan dengan menjadi agen kerusakan di muka bumi ini coba? Jangan kaget bila di sekitar kita sudah mulai tumbuh bibit-bibit kerusakan itu dan jangan sampai kita bertindak sebagai pemicunya, karena hal seperti ini mudah membudaya. Lindungilah diri sendiri dulu, lebih baik lagi bila melindungi orang lain juga dari dosa akibat budaya refleks kita. Hal pertama yang bisa kita semua lakukan untuk mengendalikan kerusakan seperti ini adalah minimal dengan menjaga lisan. Bukankah lidah itu terkadang lebih tajam dari pisau? 

Dilihat 138