Mencintai patah hati

Ira  Shafira
Karya Ira  Shafira Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Oktober 2017
Mencintai patah hati

Sore itu, kamu sedang bermain-main diberanda kenangan. Berjalan kesana kemari, bersama lagu rindu yang selalu dinyanyikan. Matamu tertuju pada taman luas dihadapan, taman yang indah, meskipun dipenuhi bunga berduri. Membuat kamu ingin menetap dan menatap lamat-lamat segala yang ada disana.
Kamu terduduk, sambil sesekali tersenyum. Kemudian angin seakan menjambakmu dengan kuat, membuat senyummu mengartikan segala kepedihan.
Pedih, karena taman ini kini hanya ditunggui olehmu.
Pedih, karena taman ini telah membawamu pada seseorang yang dulu datang, dan secepat itu juga pulang.

Kamu kemudian ingat, saat dia datang, dengan setangkai kembang. Dia menamainya dengan nama mu. Kamu begitu bahagia. Bagaimana tidak ? Kamu menjadi dunia bagi seseorang.
Kamu sedikit tersenyum. Ingat. Lalu menghirup ranum di bunga itu. Terlalu menyengat, hingga membuat matamu berair. Berlinang.
Kamu juga ingat, bagaimana akhirnya kamu tau, dia telah menginjak rumput yang kau senangi, yang telah kamu tata dengan sepenuh hati.
Hari itu, dia memilih pergi.
Pulang pada entah apa.
Kembali pada apapun yang kamu tidak ketahui.
"Terimasih atas hari-hari yang telah kita lewati. Hati-hati.." kalimat itu, yang menjadi pamungkas kepergiannya yang kamu kira tidak pernah sungguh-sungguh.
Apa yang harus kamu ikhlaskan dari sebuah kebersamaan yang prematur ?
Menyebut kehilangan, kamu tidak pernah berhak untuk memiliki. Tapi hatimu begitu terluka.
Kamu bimbang. Tidak seimbang.
Menyebut-nyebut takdir mempermainkan.
Menggenggam semua hal yang telah pergi, hingga tanganmu berdarah-darah sampai ke ujung kaki, tempat dimana kamu bisa menuju.
Setiap kali senja, begitulah kamu. Senja akan selalu memantik sukmamu yang temaram.
Menyalakan tungku yang hanya sisa serakan.
Merah yang tercipta, menggurat kepedihan yang amat dalam, seakan tersayat oleh belati yang tajam.
"Kenapa harus aku ?" Tanyamu entah pada siapa.
Pertanyaan itu selalu berputar dikepalamu, menarik ulur hingga pening.
Sayangnya, meskipun senja begitu menyakitkan, kamu selalu seperti orang gila, maniak terhadap langit dan segalanya. Berlari menuju atap rumah, dan berusaha mengabadikan segala tentang senja. Kamu selalu berharap memiliki lensa sejeli mata, yang bisa melihat semua dengan apa adanya, senja yang benar-benar nyata. Orang-orang yang bersama denganmu, akan selalu bilang, "kamu lebay, kamu alay!" Kemudian kamu hanya tertawa, melepas apapun untuk menutupi segala yang bergejolak di dada.

Padahal, senja adalah waktu yang berharga, untuk hatimu sendiri.
Hari itu, senja ke 11 kali kamu menyatakan kepada dirimu sendiri, bahwa kamu jatuh cinta padanya. Dia, orang yang mencuri hatimu dari sejak awal pertemuan. Kamu melihatnya sedang memotret sekitar, dan kamu tiba-tiba tertarik. Pada hari ke duaratus enampuluh, kamu kemudian mulai berkata pada hati mu dengan sungguh-sungguh, "aku, sepertinya benar-benar jatuh cinta."
Sejak hari itu, kamu benar-benar suka dengan senja. Dengan semua hal yang dimiliki nya. Mengabadikannya adalah bagian dari caramu mencintainya, seakan-akan kamu sedang memberikan berbagai tanda dan percakapan-percakapan lewat setiap senja.
Sayangnya, senja yang kamu abadikan, hanya tersimpan dikotak hitam paling legam di ingatanmu. Tidak pernah sempat dikabarkan. Bagaimana tidak ? Dia dengan terburu-buru pulang, menuju entah apa. Meninggalkan kamu yang bahkan belum sempat berkata apa-apa. Memaksamu pamit dari sesuatu yang bahkan tidak datang dengan benar.

Sampai akhirnya kamu tau, dia hanya bertamu. Sebab kamu bukan tempat kepulangannya. Kamu terdiam, dalam sepi yang amat. "aku tidak pernah memiliki apapun bukan? Bahkan dirikupun, tiadalah berdaya menggenggam dirinya sendiri."
Walaupun begitu, kamu tidak pernah pamit dari menyukai senja. Kamu pergi kemanapun untuk menikmati senja. Kamera, handphone, semua adalah tentang senja. Kamu selalu mengabadikannya, menyimpan di media sosialmu, ditambahi dengan caption-caption patah hati. Ah, senja yang dilema untukmu.

Kamu terhentak oleh hujan yang tiba-tiba rinai, seolah membasuh lusuh, meluruhkan benteng pertahanan yang kamu buat dari segala macam angan. Kemudian kamu segera berlari, mencari tempat berteduh dibawah menara Eiffel. Menara yang dibangun atas nama cinta. Dan hari ini, kamu sedang memperkenalkan karya patah hatimu pada dunia. Pameran Fotografi, yang mengantarkanmu untuk melihat senja dari belahan dunia yang berbeda. Kamu tidak pernah mengira, jatuh cinta pada patah hati bisa mengantarkanmu untuk berkeliling dunia, mengabadikan senja dan belajar tentang makna mencintai. Kadangkala kita perlu menyukai kehilangan, karena selepas itu, akan dekat dengan kedatangan. Kedatangan yang dulu, atau yang baru.
Pelan-pelan kamu merelakan segalanya, bahkan kamu berterimakasih pada patah hati. Atas segalnya, kamu menyerahkan dengan pasrah, pada pemilik keabadian. Apa yang harus digenggam dari sebuah ketiadaan ? Tidak ada, kecuali hanya doa.

  • view 22