DUA Laki-laki Terhebat Ibu

Elfiyani Fauziyah
Karya Elfiyani Fauziyah  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Mei 2016
DUA Laki-laki Terhebat Ibu

Sebelum aku beranjak dari sofa ruang tamu, aku masih memperhatikan ibu yang begitu teliti menjahit baju adikku dengan kaca mata tebal hampir 1 cm. Ku perhatikan, tangannya mulai keriput, ia tak lagi selincah dulu ketika memasukkan benang ke dalam lubang kecil jarum jahit.

Aku mendekatinya, menyapanya dengan sapaan lembut. Aku merayunya, memaksanya untuk kembali bercerita. Ah, aku memang selalu begitu pada ibu. Ia selalu saja jadi narasumber terhebat ketika aku pulang.Bagiku ia penasehat terbaik dalam segala hal. Karena sifat dan sikapnya lah, banyak pengalaman-pengalaman dan cerita menarik yang selalu aku tunggu-tunggu.

“Bu…”

“Iya Ra… Jangan bilang kamu ingin meminta ibu untuk kembali bercerita”

“Heem…Ayolah bu. Aku ingin belajar dari ibu. Setidaknya aku bisa  meneladani ibu”

“Nak, ibu belum bisa menjadi teladan yang baik… Jika kamu ingin bertanya siapa teladan yang baik, maka bukan ibu orangnya”

“Bukankah dalam keluarga kita hanya ada aku, ibu dan adik. Dan kau adalah ibu terbaik dan terhebat. Lalu siapa yang ibu sebut sebagai teladan terbaik itu?”

“Bukan nak. Ada dua orang yang harus kamu jadikan teladan baik kini maupun nanti, selain Nabi Muhammad dan Gusti Allah”

Aku menatap wajah ibu. Dalam manik-manik matanya ia sedang mencoba menyelami kenangan-kenangan itu. Entah kenangan apa yang sedang ia simpan, namun sesekali matanya terlihat berkaca-kaca, tetapi ia tetap mencoba tegar di depanku.

“Siapa orang itu bu?”

“Nak, jika kamu ingin tahu, sejujurnya teladan itu adalah ayahmu. Ayah yang menjadikanmu ada, ayah yang menjadi sumber kekuatan ibu untuk membesarkanmu. Ayah yang kasih sayangnya tidak pernah kurang bahkan sedikit pun. Ia selalu bisa membuat ibu menjadi perempuan terbahagia. Ayah yang menjadi penyemangat ibu untuk mengandungmu. Ayah adalah suami terhebat ibu. Ia tidak pernah kasar pada ibu. Sungguh nak, walau ibu tahu dalam keluarga pasti ada masalah, semarah apapun ayahmu ia tidak pernah kasar pada ibu. Ia selalu meminta maaf pada ibu terlebih dahulu dan selalu mengatakan ingin menjadi suami terhebat untuk ibu.”

Aku melihat bulir-bulir mata itu mulai jatuh. Aku tahu, dalam keadaan seperti itu ia sudah tidak kuat lagi untuk menahannya.

“Ibu..sungguh tidak ada orang yang dapat mengenal ayah sebaik ibu. Bahkan aku tidak pernah bisa mengenalnya seperti ibu. Untuk bertemu dengannya pun aku tak bisa.”

Aku mendekapnya, tak ku hiraukan lagi jika air mataku harus berkali-kali membasahi baju ibu.

“ Nak..kamu bisa berjumpa dengannya. Kamu bisa bertemu dengannya melalui doa. Doa terbaik dari anak perempuan terhadap ayahnya. Doa agar ia selalu tenang di sisi-Nya. Doa yang insyaallah akan menghantarkan ayahmu kedalam alam yang baik disana. Doa ikhlas dan tulusnya seorang anak, itu bukti cinta dan sayangmu padanya nak. Bahkan doa akan lebih syahdu dari pada pertemuan secara langsung.”

“Ayahmu begitu merindui kehadiranmu nak, bahkan sejak saat kau tumbuh dalam kandungan ibu. Ia selalu mengajakmu bicara. Dan kamu pun sangat senang pada waktu itu, responmu sangat aktif hingga kamu menendang-nendang perut ibu. Sebelum kita terlelap, ia selalu membacakan dongeng. Bahkan ia tengah berlatih untuk membisikkan suara pertama kalinya pada telingamu. Ia selalu membayangkan betapa bahagianya bisa melihat dan menemani putrinya tumbuh menjadi seperti sekarang, hingga nanti rambutnya mulai memutih dan kamu pun berpindah teladan”

“Maksud Ibu?”

“Iya nak. Ayahmu selalu bilang pada Ibu, kita akan kehilangan bu, tetap saja suatu saat nanti kita akan menjadi orang yang sangat begitu kehilangan. Anak perempuan yang selalu kita sayang, yang selalu kita didik untuk menjadi bagian dari perempuan hebat (semoga). Suatu hari nanti Ia akan pergi, tidak lagi menjadi tanggung jawab kita melainkan menjadi tanggung jawab orang lain. Apa yang harus ayah katakan pada orang itu nanti. Apakah ayah harus memarahinya karena dia telah berani mengambil tanggung jawab itu dari kita? Apakah ayah harus rela melepaskan kepada orang yang berani mengakui bahwa ia ingin menjadi teladan kedua? Apakah ayah harus percaya padanya, bahwa di tangannya nanti anak perempuan kita baik-baik saja? Ayah harus bagaimana bu? Suatu saat nanti hari itu pasti akan tiba.”

Suara ibu terdengar begitu berat. Aku tahu ia begitu kehilangan. Iya sangat merindui sosok ayah

“Lalu apa yang ibu bilang pada ayah?” Kataku penasaran.

“Ibu bilang pada ayah, jangan khawatir yah. Yang nantinya berani mengorbankan dirinya menggantikan tanggung jawab kita adalah orang yang tidak jauh dari apa yang kita harapkan. Ia pasti sosok orang yang begitu menghargai dan berani menjamin keraguan atas apa yang ayah katakan. Ia juga pasti orang hebat seperti ayah. Kelak ia juga akan menjadi pendamping dan pemimpin terhebat untuk anak kita, seperti halnya ayah sebagai pendamping dan pemimpin terhebat ibu. Percayalah. Dan kita pun harus menyanyanginya, seperti anak kita sendiri….”

“Iya bu…ayah akan meletakkan perasaan percaya pada orang yang bisa mempercayai ayah. Dan ia juga harus bisa menjadi teladan yang baik untuk anak kita dan keluarganya kelak.”

Aku mengusap air mata Ibu. Lau kembali mendekapnya. Kali ini lebih lama dan lebih erat, kurasakan kerinduan-kerinduan ibu mulai tercurahkan. Ku bisikkan lirih pada telinganya

“Terimakasih bu, terimakasih karena tengah menjadi perempuan terhebatku dan terhebat ayah. Terimakasih karena tengah mengenalkan ayah hebatnya Ibu. Semoga aku benar-benar bisa meneladaninya”

 sumber foto : http://kisah-motivasi.com/blog/2015/06/ayah-terima-kasih-atas-pelajaran-berharga-darimu

 

 

  • view 212