Baru Mulai

Elfiyani Fauziyah
Karya Elfiyani Fauziyah  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2016
Baru Mulai

?Baru saja di mulai nak.?


Pikiranku menerawang ke atap langit-langit asrama kita. Sejenak aku masih ingat betul bagaimana perjuangan kakak-kakak kalian terdahulu. Begitupun kami yang sama juga seperti kamu. Perjuangan itu tidak mudah, sulit memang tapi begitu mengasyikkan. Melelahkan memang, namun begitu terbayar. Sungguh ini bukan tentang kami yang mengaku menjadi orang tua kalian dan dengan seenaknya memberikan wejangan. Kami bukan juga guru kalian yang dengan wibawanya memberikan nasehat kebaikan. Ini tentang kami, kami yang dulunya telah merasakan menjadi kamu. Kami yang dulunya pernah berada pada fase itu. Kami yang bahkan dengan bertumpuk-tumpuk jerih payah pun masih merasa belum bisa membahagiakan mereka yang tengah begitu besar memperjuangkan. Lalu bagaimana dengan kalian ?.


? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?#*#

?

Aku masih betah untuk duduk merebahkan badan pada karpet hijau dengan begitu banyak meja di depannya. Diatasnya, tumpukan buku-buku pelanggaran dan absensi berserakan setengah rapi. Beberapa santri masih banyak yang berlalu lalang untuk meminta surat ijin meninggalkan sekolah. Sebagiannya lagi tengah sibuk mempersiapkan diri untuk memperjuangkan nasib dan masa depan mereka.

? Assalamua?alaikum?mbak? ? Salam salah satu orang santri.

?Wa?alaikumsalam..iya mbak, gimana??. Kataku padanya.

?Mau minta surat ijin sakit??

?Memang siapa yang sakit? Kamar berapa? Kelas berapa??

?Kea Arum, kamar DN 1.10, kelas Zafran 6?

?Em?di catat di buku rekapan ijin sakit ya, nanti saya buatkan surat ijnnya..? Kataku menimpali
?Sebentar, lo bukannya tadi masih sehat-sehat saja mbak. Kok tiba-tiba jadi tidak masuk sekolah karena sakit??

?Iya mbak. Tadi katanya sakit perut, terus suruh minta surat ijin karena ndak mau berangkat sekolah.?

?Dia juga sudah kelas 3 lo, apa ada masalah? Tadi pagi saya lihat masih baik-baik saja. Kok tiba-tiba seperti ini. Lagian dia kan sudah kelas 3 mbak, ujian tinggal beberapa bulan lagi. Seharusnya jika masih bisa buat sekolah lebih baiknya berangkat. Perjuangan kalian baru saja di mulai, masih banyak hal-hal, orang-orang dan apapun yang harus kalian cari ridhonya. Harus kalian cari ikhlasnya, harus kalian cari dan dapatkan ilmunya. Apa ndak eman-eman jika hanya karena sakit kecil tidak menjemput ilmu mereka.?

?Ndak tahu lah mb?dia hanya berpesan begitu?? Jawabnya sinis.

?Ya sudah, nanti saya bilangin mbak kesehatan biar di cek sekalian. Tapi untuk kamu ingat mbak, saya hanya nitip pesan seberat apapun yang kalian lakukan saat ini jangan dianggap remeh, karena semuanya akan kembali pada diri sendiri. Suatu saat nanti pasti semuanya kan berbalas. Sikap kalian, kelakuan kalian disini, cara kalian mencari ridho yang punya ilmu disini, semuanya akan kembali pada diri kalian entah saat ini ataukah esok. Jika kalian hanya ingin menganggap remeh keberadaan kalian disini terserah. Tunggu saja apa yang akan terjadi di hari esok. Ingat itu, sekali lagi kalian harus ingat dan percaya? ? Panjang lebar perkataanku padanya.

Santri itu menjawab dengan sikap tidak senangnya dan nadanya yang enteng ? Iya mb?tenang saja aku ingat kok?

Tiba-tiba saja ia tengah berbalik muka dan berlari tanpa permisi.
*(Hanya sebagian contoh ilustrasi kecil )

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? #*#

Bukan kami yang patut kalian pegang perkatannya. Tapi mereka yang telah memberikan ilmu begitu besar dan banyaknya. Mereka yang tengah mengajarkan bagaimana menjadi orang yang lebih tahu dan mengerti akan sesuatu.

Bukan kami yang kalian harus akui kegigihan dan kerja kerasnya dalam menemanimu disini. Tapi mereka yang telah berusaha keras untuk menghidupimu hingga ke jenjang ini dan memberikan kasih sayangnya kepadamu dari dulu.

Bukan kami yang harus kalian cari keikhlasannya, karena sikap dan tingkahmu tapi Beliau-beliau lah yang ahrus kalian cari ridho dan ikhlasnya, yang rela menanggungmu secara lahir dan batinnya serta ikhlas menjadikanmu tanggung jawab sebagai santrinya.

Ingat kami sama seperti kamu. Kami juga sedang berproses nak. Kami juga belajar, belajar menjadi kami yang nantinya lebih baik. Jika sekiranya perkataan dan perlakuan kami tak baik maka jangan sekali-kali kalian menjadikannya contoh.

Sungguh ingatlah saja mereka-mereka yang tiap malam bersimpuh, menangis memintakan keberhasilan kalian, memintakan segala apa-apa yang baik untuk diri kalian.

Ingatlah saja perjuangan mereka yang tiada henti, rela berpanas-panasan dengan keringat bercucuran. Rela terguyur hujan hingga basah kuyup baju mereka. Tapi tak pernah mereka hiraukan.

Perjuanganmu baru di mulai, baru saja di mulai dalam tahap ini. Dan sekali lagi jangan buat perjuanganmu tidak terbayar dengan kelelahan yang tengah kalian hitung untuk tiap harinya. Mendikte kesalahan orang tidak akan pernah menambah permasalahan jadi tambah terselesaikan kan?. Cukup dikte-lah kesalahan diri, dan reka-reka lah apa yang sebenarnya harus di perbaiki?. You can do it sisters and brothers?Perjalanan masih panjang.Semoga apa-apa yang menjadi doa kalian dapat terkabul... apa yang dicitakan dapat tercapai ...amin

?

?

sumber foto :?http://kenfauzy.tumblr.com

  • view 146