Siapakah kamu baginya? Mungkin, hanya selembar alas.

Zenobia Lamos
Karya Zenobia Lamos Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Maret 2016
Siapakah kamu baginya? Mungkin, hanya selembar alas.

"Dia selalu membuatmu merindukan akan kehadirannya.
begitu peduli dan sangat peduli. Sehingga tak jarang
engkau menghabiskan waktu bersamanya. Selalu
ada untuknya, meski Ia seringkali tak ada untukmu.."

Sesaat, mungkin kamu selalu menyadari ketidak-seimbangan ini.
rasa segurat pesakitan selalu tersirat. Ingin mempertanyakan.

Namun kamu selalu mempertimbangkan. Sehingga mulai mengaranag cerita
diatas sebuah kertas. Seakan Ia sibuk karena bekerja. Sibuk merangkai kebaikan.
meski kamu lebih tau, Ia tidak pernah memperdulikan kamu walau hanya untuk
sedikit saja.

"Engkau adalah sesosok yang bijaksana. Pemaaf. Pemberi motivasi.
Santun dalam berkata. Sangat penyayang di setiap situasi. Namun?
semua itu terlaksana, hanyalah untuknya... Kepadanya...
Kepada yang menganggap semua perjuangan mu, tidaklah nyata.
Sedangkan kepada diri sendiri, engkau teramat acuh.
seakan tidak peduli. Kusam. Kumut. dan Kelam..."

Entah apa yang berada di dalam hatimu.
Mampu berjuang bagai super hero.
Akan tetapi, sesungguhnya...
jiwamu seperti kertas yang terguyur ketika hujan tiba.
Tak jarang, amarah itu tiba untuk mengetuk pintu kesadaran.
tetapi kamu berusaha selalu menekannya, agar tak ada
pemberontakan dalam sanubari hatimu.
Meskipun secara sadar, kamu selalu menyadari
Ia tidak menilai mu berharga seperti kamu memperlakukannya...

"Laksana pelakon romansa dalam panggung drama.
rangkaian katamu mampu menerjemahkan keindahan cinta.
berikan kesejukan dan keharuan yang tiada tara. Engkau adalah
seorang penyair yang melankolis, menyuguhkan beribu-ribu sanjungan
demi membuatnya selalu merasa bahagia memiliki mu..."


Memang benar adanya, tak semua pecinta mampu mengucapkan kata-kata manis.
Tetapi jika Ia bersikap dingin kepada mu.
namun sanggup menebar rayuan kepada orang lain. Inilah cinta yang seharusnya
kamu sebut "Kisah yang tak lagi sehat" . mungkin saja kamu telah menyadarinya.
tetapi, atas kebebalan yang kamu miliki. Pengharapan kepada keajaiban. Selalu
di nantikan akan kehadirannya. kenapa kamu harus tampil sehebat itu?

"Engkau bagaikan dinding kerajaan. Sekuat mungkin kokoh tuk bertahan.
melindungi semua peran yang berada di dalamnya.
tidak peduli siapapun yang akan membantah mu dengan nasehat.
Bagimu, dialah sumber kehidupan yang selalu pantas di pertahankan.
Tidak ada satupun yang mampu menggoyahkan, walau nyatanya
hati mu tengah terkoyak sekalipun"

Kepedihan yang selalu kamu rasakan, begitu cepat hatimu menyibaknya.
apapun kesalahannya, kamu selalu berusaha memaafkannya meski ada atau tidak
adanya sebuah permintaan maaf yang terucapkan di telinga mu.
Ahh, tidak jarang. Air matamu menjadi saksinya. Menyimpan harapan kepada keadilan.
Semoga Ia membalas cintamu yang teramat besar. Maka keraguanmu, tergusur kembali.
Oleh doa-doa yang syahdu, meskipun kamu mengetahuinya, semua ini...
pasti akan terulang kembali di kemudian hari.



Tabik.



Penulis:
Aghana V Idents.
gambar:
Source By Google.

  • view 240