"Kehidupan yang berbalik arah"

Zenobia Lamos
Karya Zenobia Lamos Kategori Motivasi
dipublikasikan 12 Maret 2016

"Pernah merasa bangga? sudah pasti, siapapun pernah merasa bangga.
ketika berbagai macam hal mampu untuk di miliki.
Kekasih yang di dambakan, mampu tuk tergenggam.
Kehidupan yang di impikan, terwujud dengan gemintang.
Tahta yang di inginkan, telah tersaji untuk di nikmati..."

Bak raja dan ratu yang bersandar dalam singgasana nan mewah
Bak napoleon yang bersorak kemenangan menggenggam pedang.

Namun jangan pernah luput untuk memandang takdir ini teman.
Tidak ada yang tidak mungkin. Sebab keadaan bisa saja berubah
sedemikian drastisnya.
Ini bukan tentang permainan Tuhan, karena Tuhan tidak akan
pernah sekeji itu memperlakukan umatnya.

Takdir adalah lembaran buku kosong yang berjalan bersama waktu.
Yang akan terus terisi kata per kata. Bait per bait.
Oleh semua sikap yang telah kita perbuat
selama ini.

Ketika kita harus merasakan kehilangan, mungkin sudah saatnya kita segera belajar
untuk lebih menghargai atau bertanyalah kepada diri sendiri.
"Sudahkah kita menjaganya sebaik mungkin? ataukah terlambat untuk menyadari
arti dari berharga?"

Tak perlu menyalahkan. Tak perlu mencaci maki. Ketika kita di tempatkan dalam satu keadaan
yang menyakitkan. Ada baiknya, bertenanglah diri. Tarik nafas dalam-dalam. Kemudian...
Pejamkanlah mata, ingat kembali semua kejadian yang terasa menghancurkan kehidupan mu.

Apapaun itu! apapun itu meski harus tentang cinta!...
Apabila t'lah nampak dalam angan, cobalah anggap semua peristiwa itu terbentuk menjadi
sebuah sketsa dalam hati.
Dengan berjudul kan....

"Pernah kah kita melakukan hal yang sama buruknya kepada orang lain?"

Jika YA! aku PERNAH!, maka meminta maaflah walau harus menanggung malu.
Jika TIDAK! aku tidak PERNAH! maka meminta maaflah kepada diri sendiri yang selalu
kurang pandai untuk bersyukur.

Sesungguhnya, pengganti yang paling pantas atas kehancuran adalah
berdamai dengan diri sendiri serta berdamai dengan orang lain.
Sejauh manapun kita berlari untuk mencari kebahagiaan.
Niscaya, semua itu hanya akan berakhir sia-sia, jika terlampau dalam
memijakkan jejak-jejak noda yang tak segera di bersihkan.

Ini bukanlah soal munafik atau tidak.
Tetapi, kebenaran yang hakiki adalah belajar menyadari.
bahwsannya pembenaran diri sendiri tak selamanya bernilai kebenaran
yang sejatinya harus terjadi.
Melainkan, memperbaiki dan membuka pikiran.
bahwa tiada kesempurnaan yang mampu kita miliki.
selain hidup untuk saling menyempurnakan...





Penulis:
Aghana V Idents.
gambar:
Source By Google.


  • view 337