"Earthside" (Sci-Fi) Chapter 1.2

Zenobia Lamos
Karya Zenobia Lamos Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Mei 2016

 

Markas Enrign Re-light, berpusat di ibukota negara Sortise. Yaitu kota Zalonir. Bangunannya sangat luas. Menjulang tinggi layaknya istana pada ratusan abad yang lalu. Selain terdapat benteng-benteng kokoh. Penjagaannya pun begitu ketat.

Ratusan prajurit tengah bersiaga menjaga keamanan. Di setiap penjuru benteng pun tidak luput dari pengawasan. Mereka memakai baju besi berwarna putih serta beberapa jenis senjata yang dikenakan. Seperti pedang, tombak, dan panah. Masing-masing prajurit membawa satu jenis senjata.

Meski seakan-akan kembali kemasa lampau. Serupa tapi tak sama. Perbedaannya terlihat dari alat-alat modern yang masih digunakan. Termasuk helm bermasker yang dikenakan oleh seluruh prajurit Enrign. Pencahayaan dari lampu. Serta adanya beberapa lift di setiap pilar bangunan, yang pastinya menggunakan arus listrik.

Keadaan bumi telah berubah sedemikian besarnya. Tidak terlihat satupun pepohonan yang rindang bersama daun-daun hijaunya. Selain seperti sebatang kayu. Kering. Lapuk yang tak pernah sedikitpun tersentuh oleh tetesan air.

Aliran sungai yang seharusnya seperti sebingkai cermin nan bening. Kini hanya terlihat buram dan terbungkus oleh violet yang tampak pekat. Retakan-retakan tanah hampir selalu terukir di setiap alas yang akan terlangkahi oleh kaki-kaki sang manusia.

Gedung-gedung pencakar langit tengah rata dan menyatu dengan dataran bumi. Tidak ada satupun kendaran bermesin yang berlalu-lalang. Selain hembusan angin malam, mencuat dan menusuk kulit.

***

Malam itu. Ferlon masih terduduk diatas kursi. Ia menghadap satu meja yang cukup luas. Nampaknya, pemuda tersebut tengah menuliskan sesuatu diatas kertas. Sedikit bergumam, dengan tatapan serius. Mengarah ke setiap kalimat yang telah tertuaikan olehnya.

Pena pun terlepas dari tangannya. Ia menyandarkan tubuh yang nampak letih itu diatas tempat tidur. Kemudian, Ferlon membaca kembali yang telah ditulisnya dalam selembar kertas tersebut...

“Ruang gerak manusia tak seluas
seperti gambaran-gambaran indah terdahulu...
Dimana anak-anak kecil bisa bermain dan bernyanyi riang di sebuah taman...
Dimana anak-anak muda berpetualang
mencari jati diri dalam bersosial...
Serta dimana para orangtua, telah lupa caranya untuk tersenyum
di kala pagi telah datang menjelang.

Saat ini, umumnya manusia hanyalah sebagai penunggu keajaiban...
Siang hari, ketika matahari mencuat.
Manusia harus berdiam diri didalam sebuah ruangan.
Sedikit saja tersentuh oleh sinar matahari secara langsung.
Kematian adalah kepastian akhirnya...
Melepuh...
Menciut...
Karena berbagai macam efek dari radiasi nuklir yang telah membungkus bumi
Bumi yang sangat kita cintai...

Tetapi...

Bagi kami, Human-Evo. Manusia yang telah bermutasi oleh keajaiban.
Efek radiasi tidak akan berpengaruh sedikitpun...
Kami tidak seperti manusia lainnya...
Kami memiliki kekuatan.
Refleks yang cepat.
Tenaga yang kuat.
Bidikan yang akurat.
Dan kemampuan lainnya dan sudah pasti, diluar jangkauan manusia biasa...

Perselisihan...
Korupsi...
Scandal...
Kejahatan...

Semua itu pasti akan selalu ada.
Dan kami sebagai Human-Evo, bertugas menangani dan membasmi itu semua...
Setelah melalui banyak ujian yang berat dan hampir merenggut nyawa.
Akhirnya, aku terpilih menjadi anggota dari divisi utama ‘Enrign Re-light’...

Maafkan aku jika telah menentangmu Ibu. Semua ini harus aku lakukan.
Demi mencari cara menghentikan penderitaan umat manusia, terutama untuk mu Ibu...
Aku tidak tahan lagi melihatmu ketakutan...
Aku tidak bisa hanya berdiam diri saja melihatmu menderita bu...

Tenang saja, kami bukan seperti mesin tempur
yang hanya melakukan pertarungan tiada henti...
Karena kami pun melakukan banyak penelitian
untuk mengakhiri semua penderitaan ini...

Aku akan selalu menyayangimu...
Aku akan selalu mencintaimu...

Dari anak mu yang tidak mampu
untuk berbakti.


‘Ferlon Zelusca’... “


Selesai membaca, secarik kertas itu pun tersimpan. Diatas sebuah meja yang bersampingan dengan tempat tidurnya. Ferlon merebahkan badannya kembali, kemudian menarik selimut hingga keseluruh wajahnya. Dan menutup mata, hendak tuk tertidur lewati malam.

Dua sosok berjubah hitam, tengah berdiri dibalik sebuah bongkahan batu. Keduanya menatap kearah markas Enrign Re-Light. Wajah mereka tak terlihat sedikitpun. Terbalut bayangan hitam, terbiaskan sinar purnama yang berlawanan arah. Mereka, berperawakan tinggi besar sedangkan satunya yang lain, tampak tidak terlalu tinggi, sama halnya dengan manusia.

“Ayo kita hancurkan markas mereka”
Ucapan dari sosok berjubah dan tinggi besar tersebut.

“Hancurkan? Apakah kau masih ingat tugas utama kita!?”
Balas kerabatnya itu dengan nada bicara yang sedikit tinggi.

“Membosankan sekali...”
Ketusnya.

Salah satu dari mereka yang berwujud seperti manusia, menjulurkan tangan kanannya kearah langit. Bibirnya berdecap. Seakan-akan berbicara sesuatu hal, namun tidak jelas terdengar. Tepat diatas markas Enrign, sebuah diagram muncul mengkhiasi kelamnya langit malam. Hampir semua prajurit pun menyadarinya, mereka saling menyahut dan menatap dalam kegundahan.

Perlahan-lahan kepala se-ekor monster muncul dari diagram tersebut. Kepalanya mirip dengan se-ekor Naga pada masa-masa Mythologi kuno. Ia berwujud sangat besar, bahkan bayangannya seperti gumpalan awan yang menutup daratan. Mulut sang monster menganga sangat lebar. Kemudian menyemburkan api berwarna hitam dan mengarah kepada semua prajurit Enrign.

Anehnya, api yang keluar dari mulut monster tersebut tidaklah membakar. Melainkan membuat seluruh pasukan itu terdiam, berdiri dan tak bersuara. Seakan disulap menjadi patung.
Patung berbahan kulit dan daging manusia.

Merasakan adanya sebuah keganjalan. Ferlon pun akhirnya terbangun. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya. Kemudian mengintip dibalik jendela untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi diluar sana. Ferlon nampak terkejut. Kedua matanya terbelalak seketika. Dihadapannya, api hitam itu masih terlihat. Dan tampak menyelimuti ke sekeliling markas Enrign. Dalam keadaan tertegun, terdengar seseorang tengah mengetuk pintu kamarnya cukup keras.

“FERLON CEPAT KELUAR!”
Pungkas seorang wanita dibalik pintu kamarnya.

“Ba-baiklah, tunggu sebentar! Aku memakai perlengkapan dahulu”
Balas Ferlon dan bergegas mengenakan pakaian lengkap dengan sebilah pedang yang akan dibawanya.

Untuk pertama kali, Ferlon memakai baju besi khusus divisi utama. Ia tampak gagah bak ksatria. Kedua tangannya mengepal. Matanya terpejam sesaat. Lalu menarik nafas dan bergegas membuka pintu kamarnya. Amanda, sahabatnya sedari kecil itu tengah berdiri. Menunggu Ferlon selesai berpakaian. Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka.

“Ayo cepat kita keluar!”
Ajak Ferlon kepada sahabatnya.

“Ba-baiklah...”
Jawab Amanda dengan sedikit terkejut. Tanpa basi-basi. Mereka berdua pun lekas berlari.

Di depan gerbang markas Enrign. Nampak 5 orang dari divisi utama tengah berdiri. 2 orang berjubah misterius dan pembuat onar itu melangkah, mendekati mereka dengan tatapan dingin tanpa merasa takut sedikitpun. Salah seorang dari divisi utama Enrign, maju beberapa langkah dan memberikan sebuah kata sambutan kepada keduanya.

“Selamat datang, Razua The Gatekeeper  dan Albanir The Dark knight, divisi teratas dari pasukan Zanabis Ark-hellion
Sambut pria berambut panjang sebahu dan berjenggot putih itu kepada mereka.

***

“Apa yang dilakukan dua orang itu disini Amanda?”
Ucap Ferlon, disaat mereka berdua tengah memasuki ruangan lift.

“Mungkin saja, mereka akan memberikan jawaban dari perjanjian perdamaian yang telah kami buat”
Tutur Amanda yang nampak tegang.

“Perjanjian perdamaian? Maksudnya?”

“Perjanjian untuk menghentikan perseteruan yang selama ini telah terjadi Ferlon...”

“Tapi, mereka adalah tokoh kriminal dunia tingkat tinggi Amanda. Kenapa kita yang harus membuat kesepakatan tersebut?”

“2 bulan lalu, sebelum kamu terpilih menjadi anggota divisi utama. Beberapa negara, meminta kami sebagai perwakilannya...”

“Dan jawaban dari mereka sudah pasti adalah...”

Perbincangan antara Ferlon dan Amanda pun beralih kepada perbincangan antara Kepala divisi utama Enrign Re-Light dan divisi Zanabis Ark-Hellion..

“Rasanya, kalian tidak perlu lagi meminta jawaban dari perjanjian perdamaian yang konyol itu dari kami...”
Ungkap sosok berjubah yang tingginya sepadan dengan manusia itu.
Dalam menguraikan senyuman, seseorang yang mewakili Enrign pun berkata.

“Benar sekali, dengan melihat cara kedatangan kalian berdua, sudah cukup menjadi jawaban untuk kami”
Balasnya tampak tenang.



Bersambung....




Chapter sebelumnya:
  Chapter 1
Penulis:
Aghana V Idents.





 

 

  • view 95