"Earthside" (Sci-Fi)

Zenobia Lamos
Karya Zenobia Lamos Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Mei 2016

Tahun 2049...

 

Keindahan telah sirna di muka bumi ini. Pohon-pohon lebat. Taman-taman bunga. Dan udara udara yang menyejukkan. Serentak hilang secara bersamaan semenjak 20 tahun silam.

 Sikap arogansi dari beberapa pemimpin negara adalah penyebabnya. Mereka saling membangun senjata nuklir terhebat. dengan alasan yang sama, yaitu menjaga perdamaian dari ancaman peperangan antar negara. kemurnian hati dan naluri. Seakan tiada fungsi untuk menjaga kedamaian yang sejatinya.

 Eselon adalah satu negara pencipta nuklir paling "Mutakhir". Dan diberikan nama... Project " Partikel Deva" oleh para ilmuwan yang menciptakannya. Eselon Tengah menyalahi aturan yang disepakati oleh persatuan antar negara. komposisi dalam menciptakan "Partikel Deva" adalah penyebab utama kehancuran bumi pada saat waktu itu.

 Pemimpin negara Eselon. Merupakan sesosok yang keji dan rakus. Sehingga beberapa negara berhasil ditaklukan dengan memonopoli perekonomian dunia. Curang seakan tiada hati. bahkan tanpa segan, mengancam siapapun yang enggan menuruti perintahnya.

 Satu per satu negara pun mulai Jengah atas tindakan pemimpin negara Eselon yang selalu bersikap semena-mena dan picik tiada tara. Maka, terbentuklah aliansi negara untuk berperang melawan Eselon. Kabar tersebut tentunya cepat tercium oleh Adunis. Orang paling nomor satu di negara Eselon. Dengan penuh keyakinan. Adunis memerintahkan semua ilmuwan yang terhubung dalam Project Partikel Deva. Memberikan maklumat untuk secepat mungkin, mempersiapkan nuklir yang paling berbahaya tersebut.

 Ketua dari asosiasi para ilmuwan menjelaskan, bahwa project Partikel Deva belum sepenuhnya rampung. Mendengar kabar itu membuat Adunis semakin geram serta bersumbu pendek. Ia berjanji akan membunuh siapapun yang berani menentang perintahnya.

Tanpa daya. Ketua asosiasi pun akhirnya memberikan pengendali nuklir tersebut kepada Adunis.
“XTM-079” nama dari sebuah benda yang berbentuk seperti remote, namun menjadi sumber malapetaka dari project ‘Partikel Deva’. Aliansi negara yang di namakan ‘The Judgement’. Tengah siap menyerang republik Eselon dari bagian barat. Mobil-mobil perang berlapis adamantium. Pesawat-pesawat induk yang berukuran setara dengan gunung terbesar di bumi. Serta ratusan robo-tank tengah berbaris rapih. Menanti komando penyerangan terhadap negara Eselon.

Seorang general terbesar Eselon. “Jacylm” melaporkan kepada Adunis tentang penyerangan yang akan dilakukan oleh pihak aliansi. Adunis bergegas berdiri dari tempat duduknya dan segera meminta titik kordinat bala tentara aliansi itu berada. Sekitar beberapa detik terdiam. Pimpinan negara Eselon. Yaitu Adunis,  menyampaikan satu perintah...

“Segera aktifkan SOC, setelah itu kalian tinggal duduk dan nikmati pertunjukan...”
Perintah Adunis kepada Jacylm.

“Seperti itu sajakah tuan?”
Balas Jacylm sedikit ragu.

“Cepat laksanakan. Tidak perlu banyak tanya!!”
Ketusnya.

“Ba.... baiklah tuan Adunis”
Timpal General itu. Lalu melangkah mundur dan keluar dari ruangan.

“Tamat sudah riwayat kalian! Setelah ini. Yang berkuasa di bumi adalah kami! Masyarakat Eselon!”
Ucap Adunis dengan tersenyum simpul.

*SOC  adalah singkatan dari Shield Of Chaos... Salah satu pertahan tercanggih dan terkuat. Berbentuk seperti lapisan pelindung, menyelimuti seluruh wilayah negara Eselon.

Perang t’lah dimulai. Pasukan aliansi mulai meluncurkan serangan secara bertubi-tubi untuk menghancurkan SOC. Masyarakat Eselon tampak ketakutan. Berlari tunggang langgang. Teriakan demi teriakan kian terdengar nyaring, memekakkan telinga. Di istana negara. Adunis berdiri tegak. Ia menyaksikan penyerangan tersebut secara langsung. Jeda beberapa saat, Adunis menutup matanya.

Sedetik...
3 detik...
5 detik kemudian...

“XTM-079” yang telah berada didalam genggaman tangan Adunis. Tidak ada rasa keragu-raguan sedikitpun yang terlintas dalam benaknya. Ia akhirnya menekan tombol berwarna merah darah, yang artinya project “Partikel Deva” tengah diluncurkan. Terdengar suara sirine yang bergema dengan keras. Hingga terdengar oleh seluruh pasukan aliansi. Dan seketika itu juga, mereka pun menghentikan serangannya.

 Tiba-tiba, sebuah ledakan dahsyat terlihat dari arah timur. Sangat jauh dari negara Eselon. Kemudian disusul dengan ledakan hebat yang lainnya dari berbagai arah mata angin. Pemimpin pasukan aliansi yang tengah terpaku menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Dikejutkan kembali oleh sebuah kabar. Bahwa, senjata nuklir yang terletak di beberapa negara, tengah meledak dengan sendirinya tanpa sebab.

Diatas awan, tampak kepulan asap tebal tengah menyelimuti sinar matahari yang terpancar. Disusul dengan ledakan-ledakan maha dahsyat. Tidak hanya itu, guncangan besar pun menimpa bumi. Retakan tanah terhampar disetiap pelosok negara. Seluruh lautan bak si jagoan merah yang menari-nari, menimbulkan ombak setinggi ratusan meter.

Langit tak lagi tampak biru merona. Selain terlihat gelap, layaknya menyambut tengah malam tanpa pencahayaan. Bukan gelap karena pekatnya hitam, melainkan terlapisi warna merah lahar yang seakan-akan siap melelehkan bumi dan seisinya. 

“Akhirnya, akhirnya aku berhasil!! Dan inilah akhir dari riwayat hidup kalian!!! Munculah mesin penghancur ‘partikel Deva’ !!! ”
Teriak Adunis, seraya menekan sebuah tombol berwarna hitam yang terdapat di XTM-079.

Di sebuah bukit, berdekatan dengan perbasatan wilayah Eselon. Terlihat satu benda asing menyerupai bola berukuran raksasa, perlahan melayang tinggi dan semakin tinggi. Pandangan seluruh pasukan aliansi pun teralihkan. Mereka tampak membeku melihat benda asing tersebut. Di satu kondisi, assisten dari komandan aliansi nampak panik. Dengan tergesa-gesa, Ia pun bergegas bertanya.

“Ko... komandan! Itu... itu benda apa?”
Ucapnya penuh ketakutan.

“Tamat sudah riwayat kita... Adunis memang orang yang sangat kejam... Dia akan menggunakan cara apapun untuk menundukan kita...”
Jawab sang komandan sembari menundukan kepalanya.

Ditengah-tengah kepanikan. Benda yang tengah melayang itu. Memancarkan cahaya terang. Menyilaukan mata. Menutup semua pandangan. Dalam hitungan detik. Satu persatu kendaraan perang milik pasukan aliansi, lenyap tak berbekas. Bahkan pesawat induk yang begitu besarnya. tidak lebih seperti seekor semut terbakar bara api.
Sisa-sisa hanyalah tanah yang gersang. tidak ada bukit. Tidak ada Ilalang maupun rumput yang tersisa. Semua terlahap habis karena sentuhan dari sinar misterius tersebut.

Adunis menghentikan pergerakan benda tersebut, menggunakan XTM-079 yang digadang-gadang sebagai pengendali dari Partikel Deva. kedua bola matanya berdecak kagum. Ia seakan tidak percaya, bahwa rencananya berakhir dengan sukses. Masyarakat Eselon hanya terperangah
tanpa mengetahui apapun yang tengah terjadi. Semua prajurit negara Eselon bersorak-sorai kemenangan. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka. Peperangan telah usai dan diakhiri  dengan kemenangan yang diraih.

Belum mencapai lebih dari 3 menit. Kebahagiaan itu begitu cepat untuk surut. Adunis dikejutkan oleh retakan yang terdapat dari Partikel Deva. Benda itu seolah seperti telur yang akan terbelah. Kemilau pekat cahayanya, tampak muncul dari dalam. Guncangan dari Partikel Deva semakin kuat. Sehingga menciptakan badai angin yang cukup besar. Menghempaskan segalanya hingga layaknya seperti debu.

“Ap... apa yang telah terjadi!”
Ucap Adunis dalam ketakutan.


Di hadapan kedua bola matanya. Adunis menyaksikan kehancuran Partikel Deva. Dan justru menjadi ancaman terbesar bagi masyarakat Eselon.
Keangkuhan Sang Adunis, tak sedikitpun terlihat kembali. Ia hanya berdiri. Terbujur kaku. Tetesan air keringat yang bercucuran. Memenuhi dan Membasahi seluruh wajahnya.

Kehancuran dunia telah dimulai. Bersamaan dengan meledaknya Partikel Deva. Shield Of Chaos yang melindungi seluruh wilayah negara Eselon. Tidak dapat lagi menahan tekanan energi yang luar biasa besarnya dari senjata nuklir tersebut. Lapisan pelindung itu harus lenyap. Semua mata hanya memandang.
Tak bersua sedikitpun. Adunis dan rakyatnya, tertutupi sinar keemasan...

20 Tahun kemudian...


“Setelah kejadian itu. Peradaban manusia hanya tersisa tidak lebih dari seperempatnya saja. Seperti yang telah kamu ketahui saat ini. Udara tidak dapat lagi dihirup dengan bebas oleh semua orang. Terkecuali yang telah mampu bermutasi seperti kita, Ferlon...”
Tutur seorang wanita. kepada sesosok pria yang berada disampingnya. Ia berambut merah. Berkulit putih. Serta berparas cukup cantik.

“Maka dari itulah. Aku bekerja keras demi bergabung dengan Enrign Re-Light. Aku ingin sepertimu Amanda. Menjaga kedamaian dunia. Sekaligus mencegah kehancuran dunia dari tangan-tangan manusia yang menciptakan senjata nuklir. Sehingga berdampak buruk seperti saat ini dan kitalah menjadi korbannya...”
Balas Ferlon kepada Amanda, wanita berambut merah yang sedang menatapnya.

“Dan akhirnya, kamu sekarang bergabung dengan kami, Enrign Re-light. Aku sudah tidak sabar menjadi partnermu dalam bertugas.”
Ucap Amanda seraya tertawa kecil.

“Hahaha... Sepertinya, aku masih butuh petuah darimu Amanda. Bagaimana pun juga, kamu adalah seniorku.”
Timpal Ferlon dan membalasnya dengan tawa.

“Kita sudah berteman sedari kecil. Tidak usah sungkan. Sudahlah, lebih baik sekarang kamu beristirahat dan aku akan kembali keruanganku. Jangan lupa, besok adalah misi pertama mu...”
Amanda pun beranjak dari kursi. Kemudian tersenyum.

“Baiklah, terima kasih telah menemaniku berbincang Amanda. Selamat malam...”
Balas Ferlon. Dan gadis itu pun melangkah keluar ruangan.

 


Bersambung....

Penulis:
Aghana V Idents
Gambar source by Google

  • view 118