Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 1 April 2016   17:05 WIB
"Parau"

"Dentingan asmara, terdengar elok nian kedalam gendang telingaku.
Ia, membawakan segelas air dingin penuh kasih, ketika matahari
tak lagi bersahabat. Menumpahkan derasnya keringat. Hingga tertumpah liar.
diantara kedua pelipis mataku..."

Dimana pun kita berada. Cinta, tidak akan pernah bisa untuk di prediksi.
Dia datang dan pergi sesuka hati. Kadang datang ketika kita enggan.
Kadang Ia pergi ketika kita begitu menginginkannya. Serupa dengan kejadian ku 2 Tahun silam. Ketika kembali merasakan jatuh cinta kepada seseorang. Melalui sebuah media sosial yang hingga kini masih selalu marak. Yaitu Facebook.

Katakanlah, perkenalan kami waktu itu sangat absurd. Usai menerima pertemanan darinya. Ia, mengirimkan sebuah pesan pribadi kepadaku untuk mengucapkan terima kasih. Baiklah, aku balas seperti biasa. Sekadarnya saja. Tanpa menanyakan siapa namanya, Dimana Ia berasal. Cukup malas melakukan semua itu. Karena seiring berjalannya waktu, dengan melihat status di beranda. Kita bisa saling mengetahui, bagiamana sikap seseorang dalam mencurahkan isi hatinya. Meskipun tidak terlalu dominan dalam mengungkapkan sikap asli dari seseorang. Setidaknya, ada sedikit gambaran yang dapat tersimpan.

?

***

Seminggu kemudian. sebagai seorang lelaki biasa. Dalam menanggapi semua candaan dari teman-teman yang meninggalkan komentarnya di statusku, selalu terbalas dengan gaya humorku yang memang sedikit urakan. Saat tengah asyik-asyiknya bersenda gurau. Seorang wanita yang baru saja ku kenal beberapa hari lalu. Ia mengomentari beberapa status update milik ku sekaligus. Sedikit risih memang. Tetapi bagaimana pun juga, bersikap ramah itu penting bagiku. Lantas, setiap kali dia mengirimkan pesan atau komentar, selalu aku balas sebisa mungkin.

"Asmara adalah peristiwa yang menyimpan banyak rahasia.
Kita hanya mampu memprediksi.
Walau seringkali penutupan kisahnya, berbeda jauh dengan semua estimasi.
Dari petuah yang bijaksana..."

Hari demi hari. Tanpa di perintah. Bibit-bibit cinta pun semakin tumbuh. Meskipun kami berdua, belum saling bertatapan mata. Tetapi kami t'lah berada di dalam satu frekuensi yang sama, ialah sama-sama saling mencintai. Wanita itu bernama "Julia" (Nama Samaran). Usianya terpaut 3 tahun lebih muda dariku. Dan akhirnya kami berdua pun memutuskan untuk saling bertukar nomor handphone.

"Nanti sore aku telpon kamu. Jangan kemana-mana ya"
Pintanya kepadaku melalui pesan pribadi.

Sekitar pukul 3 sore. Julia menghubungiku. Dengan perasaan senang hati. Aku pun bergegas menekan tombol "menerima panggilan" yang berwarnakan hijau muda itu. Namun, yang terdengar bukanlah kata sapaan. Melainkan suara tangisan dari seorang wanita. Detik itu juga, perasaanku sontak bercampur aduk. Antara Ketakutan dan penasaran. Kian mendesak satu sama lain.

"Ha...halo? Ju...julia?"
Ucapku gugup, mencoba untuk menyapanya.

Julia, tetap tak menjawab sedikitpun. Ia masih menangis tiada henti. Perasaan gelisah semakin mengganggu pikiran. Sehingga, aku putuskan untuk menyudahi panggilannya. Belum sampai kegundahan itu surut. Julia mengirimkan pesan singkatnya kepadaku. Ia menuliskan bahwa...

"Aku mohon, jangan dulu di tutup. Setidaknya, sampai air mata ini berhenti untuk menetes"
Pungkas Julia melalui pesan singkat.

Mengetahui hal itu. Aku pun tak bisa menolak. Setelah menyetujui permintaannya. Julia pun menghubungiku kembali. Tanpa banyak bicara. Yang aku lakukan hanyalah menjadi pendengar setianya. Berharap, tangisannya akan segera mereda. Dan Julia, sudi untuk menceritakan apa yang telah terjadi. 10 menit sudah berlalu. Hasilnya tetap nihil. Usai suara tangisannya menghilang.Tanpa mengucapkan sepatah dua kata padaku. Julia mengakhiri panggilannya. Dua sampai tiga kali SMS telah ku kirim. Namun tetap saja, wanita itu tidak juga membalas pesan dariku.

"Ahhh mungkin dia kelelahan. Yasudahlah. biarkan saja Ia beristirahat"
Pikirku saat itu, Sembari menahan sedikit kecewa.

Esok hari, melalui akun facebook. Aku meninggalkan satu pesan singkat kepada Julia. Mengajukan beberapa pertanyaan. Sudah pasti, berhubungan dengan sikap anehnya kemarin sore. Sekitar tengah siang. Julia telah membalas pesan dariku. Ia menjelaskan semuanya dengan ringkas. Sekaligus membuatku terkejut karenanya.

?Aku adalah seorang wanita kupu-kupu malam. Aku pernah menjadi pecandu narkoba. Apakah mungkin, kamu mau mencintai wanita sepertiku? Rasanya, tidak mungkin.?
Tanpa berfikir panjang. Ucapannya tersebut langsung saja ku bantah.

?Aku tidak peduli siapa kamu. Aku tidak peduli darimana kamu berasal. Asalkan, tolong ceritakan semuanya padaku. Mengapa kamu bisa sampai terjerumus dalam lembah hitam seperti itu julia...?
Tandasku dengan Tegas. Kemudian, Julia pun mulai bercerita.

Tentang Julia...

Selesai lulus SMA. Pengalaman terburuk di sepanjang jalan hidupnya pun mulai terjadi. Ibunya Julia, yang bernama Alessa. Mengalami sakit keras. Sehingga membutuhkan biaya pengobatan. Dan pastinya tidaklah murah. Lalu apa saja yang di lakukan oleh Ayahnya Julia? Beliau hanya berjudi bersama teman-temannya. Bahkan dengan kejinya, Pria paruh baya tersebut seakan tidak peduli dengan keadaan sang Istri yang tengah berjuang melawan penyakit.

Tidak hanya sampai disana, ketika Pak Aldo, Ayah dari Julia mengalami kekalahan besar-besaran dalam berjudi. Di mulai dengan perhiasan. Berlanjut kepada permata. Emas putih dan barang-barang berharga lainnya. Semuanya telah habis. Tidak ada lagi yang tersisa. Kemudian, Julia pun menjadi korban kebiadan sang Ayah. Anak perempuan satu-satunya itu pun menjadi alas taruhan kepada teman-temannya. Bagaimana jika Pak Aldo kalah? Jelas, Julia lah yang menjadi ujung tombak. Tubuh wanita itu harus tergadaikan karena kebiadaban sang Ayah.

Telah kesekian kali. Julia ingin memberontak. Namun, disisi lain. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Alessa, Ibu dari Julia yang tengah sakit. Usaha selalu di upayakan. Akan tetapi, Tuhanlah yang menentukan. Di tengah konfilk yang harus di tanggung oleh Julia seorang diri. Ibunya Julia akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Sebelum meninggal dunia. Ternyata sang Ibu terlebih dahulu, mengetahui perangai buruk dari Ayahnya Julia. Maka, beliau pun menitipkan sertifikat rumah kepada sahabat karibnya, untuk di berikan kepada Julia suatu saat nanti.

Dan berakhirlah, kepada satu lini terberat. Julia terjerumus kedalam dunia prostitusi. Wanita malang tersebut, di bawa paksa oleh seorang mucikari. Ia memberitahukan kepada Julia bahwa Ayahnya mempunyai hutang yang sangat banyak. Serta dengan kejinya, Pak Aldo mengorbankan Julia sebagai jaminan nya. Tidak banyak upaya yang bisa di lakukan oleh seorang Julia. Ia pun meninggalkan tanah kelahirannya, Kemudian terjebak dalam lingkaran nestapa yang membelenggunya dari kebebasan.

***

?Mencintai terkadang memerlukan alasan. Meskipun sulit untuk di ungkapkan.
Mencintai itu tidak akan pernah terjadi. Andai saja, keterikatan hatipun tidak pernah terpadu.
Bahkan mencintai pun membutuhkan sebuah penghargaan. Bukan hanya tentang memberikannya tanpa saling menerima...?

Sebagai seorang lelaki yang tidak pernah sempurna. Aku tidak perlu memerlukan waktu yang lama untuk menimbang sebuah keputusan tentang perasaanku kala itu. Aku tetap mencintai Julia apa adanya. Aku tidak peduli apa yang pernah terjadi di dalam masa lalunya. Bagiku, Julia tetaplah Julia. Seorang wanita biasa yang pantas mendapatkan cinta dari siapapun. Maka kami berdua pun memilih untuk mempertahankan hubungan ini, sampai kelak bisa berjumpa di kemudian hari.

Satu waktu, Julia menyampaikan satu kabar baik kepadaku. Dalam kurun waktu kurang lebih sekitar 6 bulan. Ia berjanji akan pulang. Dan sebuah kabar lainnya yang membuatku cukup terkejut adalah kampung halamannya Julia, berada di satu kota yang sama dengan tempat tinggalku. 6 bulan tidaklah singkat. Tetapi untuk membuktikan keseriusan dalam menjalin hubungan, aku pun berjanji akan selalu menunggu kedatangannya dengan tangan yang terbuka.

Kehidupanku dan keluarga. Memang tidaklah mewah. Kami hidup berkecukupan dalam keadaan yang sederhana saja. Bisa berjumpa dengan makanan di setiap hari, sudah sepantasnya kami bersyukur. Meski keadaan Ibuku, tengah mengalami stroke selama belasan tahun lamanya. Aku selalu berusaha untuk tidak mengeluhkan keadaan. Kesibukanku di setiap hari adalah merawat sang Ibu. Dan mengais rezeki di rumah. Asalkan halal pasti akan ku lakukan. Tentunya, tidak sampai meninggalkan Ibuku di rumah seorang diri.

Sunyi adalah teman terbaik ku. Meskipun memiliki 2 orang sahabat. Bukan berarti mereka harus selalu menemaniku di setiap hari. Maklum saja. Bagaimana pun juga, setiap orang pastilah memiliki jalan sendiri dalam menata masa depan. Waktu luangku tidaklah banyak untuk keluar rumah. Bermain. Nongkrong. Ataupun bergaul. Waktu terbanyak yang aku miliki hanyalah di rumah. Menemani Ibuku.

Tentunya, mendengar Julia akan datang. Menjadi sebuah acuan terbesarku dalam mencari jalan peluang untuk menambah pundi-pundi. Setidaknya, dalam hati kecilku berharap. Ia adalah wanita terakhir yang Tuhan berikan kepadaku. Menjadi partner terbaik ku dalam meraih kebahagiaan bersama. Terutama dalam hal merawat sang Ibu.

Fatamorgana...

3 bulan sudah hubunganku dan Julia berjalan. Entah kenapa, sikap Julia semakin menunjukan keanehan. Semenjak Ia mengakui memiliki kelainan jantung kepadaku. Perlahan-lahan perubahan sikapnya semakin tampak jelas. Terutama ketika aku mengalami sebuah kecelakaan kecil dan menceritakan kepadanya melalui pesan singkat. Julia bergegas menghubungiku, lalu kemudian Ia menangis sejadi-jadinya. Sebenarnya, bukanlah hal yang aneh. Ketika seseorang begitu mengkhawatirkan keadaan orang-orang yang teramat di sayanginya. Tetapi yang membuatku tercengang adalah pernyataan Julia. Ia mengatakan bahwa.

?Ayah tiriku, pernah mengalami hal yang sama. Namun Ia sampai meninggal dunia karenanya...?
Tutur Julia padaku...

?Ayah tirinya!? Bagaimana Bisa??
Ketusku dalam hati.

Sementara itu. Aku tidak memikirkan hal yang lain selain berusaha menghentikan tangisannya Julia. Karena pikirku, kebenaran semuanya akan terungkap. Saat kita berdua telah saling bertatap muka secara langsung.
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Dan Bulan berganti bulan.
Dimana waktu perjumpaan kami berdua semakin dekat.

Tanpa sepengetahuannya, aku menghubungi teman-teman wanita satu persatu. Berharap, semoga saja salah satu diantara mereka, kelak bisa ku titipkan Julia ketika Ia t?lah pulang. Aku tidak mungkin bisa menemaninya setiap hari, apalagi di saat malam tiba. Akhirnya, aku menemui seorang teman wanita yang tepat. Dia adalah seorang guru bahasa inggris. Namanya Anna. Ia sudah ku anggap sebagai kakak. Begitupula sebaliknya. Ia menganggapku sebagai adiknya. Anna memang lebih tua dariku. Tetapi Ia selalu mampu menempatkan diri di hadapanku. Selain santun. Ia pun sangat ramah kepada siapapun.

?Orang yang tepat dan pantas untuk menemani Julia...?
Ungkapku saat itu.

Keanehan lainnya pun mulai terjadi. Entah memang di sengaja atau tidak. Usai kami berdua saling bercerita. Julia membahas tas branded khusus wanita yang harganya bisa sampai ratusan juta rupiah. Selain Ia mengetahui secara seksama tentang seluk-beluk tas untuk kalangan kelas atas tersebut. Yang membuatku tercengang adalah....
Ia memiliki beberapa tas branded. Dan apabila di jumlahkan harganya bisa mencapai 1 milyar rupiah. Spontan saja, dalam hatiku berkata.

?Bagaimana bisa, kamu mendapatkan tas dengan harga semahal itu?. Sedangkan untuk melunasi hutang piutang Ayahmu yang berjumlah kurang lebih 130 juta saja. Kamu sampai bekerja menjadi seorang kupu-kupu malam untuk melunasinya? Kenapa kamu tidak menjual saja tas itu agar lekas terbebas dari genggaman sang mucikari??
Kataku keheranan seraya terdiam beberapa saat. Berlanjut kemudian....

?Setelah kamu bercerita tentang Ayah tiri. Sekarang kamu berkata memiliki barang mewah seperti ini. Sebenarnya kamu itu siapa Julia??
Timpalku kembali dalam hati.

Sembari menarik nafas dan menyandarkan bahu. Aku pun memutuskan untuk tidak mempertanyakan semua hal itu kepada Julia. Biarlah, waktu yang akan menunjukan siapakah ?Dia? yang sebenarnya. Tepat dimana bulan untuk menyambut kedatangan Julia akhirnya telah tiba.

6 bulan menanti tidaklah mudah. Bukan karena jangka waktu. Melainkan, menahan perih yang selalu aku rasakan di setiap hari. Bagaimana tidak? Pekerjaannya sebagai seorang kupu-kupu malam. Mau tidak mau. Aku harus memendam pilu ketika terbayangkan ?Ia harus di jamah? oleh pria hidung belang. Sedangkan di sisi lain. Aku tidak mampu membantunya dalam segi materi. Selain hanya berpasrah diri bersama ketulusan yang aku miliki.

Tidak hanya itu. Ucapan janji atas nama Tuhan yang telah puluhan kali Ia katakan padaku. Sanggup untuk meruntuhkan semua keragu-raguan yang pernah ada. Ia selalu berani menjanjikan untuk ?selalu setia? dan berjanji ?akan pulang kemudian melanjutkan hidup yang baru bersamaku? . Entah memang bodoh atau bagaimana. Yang jelas, terlanjur dalam menyayanginya adalah satu-satunya alasan ku tuk bertahan.

Bagai punguk yang merindukan rembulan. Penantian yang selama ini selalu aku persembahkan. Tidak berakhir dengan di indahkan oleh Julia. Wanita itu berkelit. Bahwasannya Ia berkata tidak akan pulang. Dan entah kapan Ia akan datang. Akal sehatku telah sirna untuk memakluminya. Amarah tak mampu lagi terbendung. Emosiku meledak sedemikian hebatnya. Kemarahan itu bukanlah tanpa sebab. Melainkan harga diri seperti terludahi. Terludahi tepat di atas kepala. Kemudian Julia pun mengucapkan sesuatu kepadaku.

?Pokoknya aku nggak bisa pulang bulan ini. Mau nunggu yah syukur. Nggak mau ya gak apa-apa?
Ujar Julia dengan mudahnya.

Semenjak kejadian itu terjadi. Aku memutuskan untuk pergi jauh dari kehidupannya. Kekecewaan ku telah terlampau besar. Tidak mungkin bisa memaafkannya begitu saja. Beberapa orang teman dekat yang telah mengetahui hubunganku dengan Julia sedari awal. Sebagian besar dari mereka tidak pernah merestui. Tetapi karena sikapku yang memang keras kepala. Aku memilih untuk percaya kepada Julia. Tidak hanya kekecewaan yang aku dapatkan. Melainkan rasa malu yang teramat luar biasa. Karena telah memberikan kabar kepada teman-temanku bahwa Julia akan datang. Dan ternyata harus berakhir dengan sia-sia.

Seakan tidak pernah puas. Julia kembali mengganggu kehidupanku. Ia menjelaskan, bahwa dirinya telah datang di kota yang sama dengan ku. Namun hatiku telah mati untuk mempercayainya. Maka, setelah Ia berkata seperti itu. Aku pun lantas menantangnya.

?Aku tidak butuh ucapan. Mari kita buktikan. Dimana kamu sekarang? Tidak usah repot-repot untuk menemuiku. Karena akulah yang akan mendatangi kamu. Jika memang benar kamu datang. Aku akan mencium kaki kamu... Bagaimana??
Tegasku kepada Julia. Tak lama kemudian, Julia pun membalas.

?Meskipun dulu kita terpisah oleh jarak. Dan sekarang jarak bukanlah penghalang. Itu semua tidak akan merubah keadaan...?
Tidak heran. Julia sudah pasti akan berkelit. Sebagai penutupan sekaligus menjadi perbincangan kami yang terakhir. Aku pun menjelaskan...

?Dari bulan pertama...
Kamu telah menyuguhkan kebohongan!! Dengan cara memberikan foto palsu kepadaku...
Dan apa yang aku lakukan?
Aku memaafkan kamu! Kemudian memaklumi alasan kamu karena merasa malu, apabila aku harus sampai mengetahui wajahmu ketika masih bekerja sebagai kupu-kupu malam. Hebatnya selama 6 bulan dalam penantian. Aku tidak tau wajah kamu...!!!

Selain itu, tersimpan banyak kebohongan dalam kisah hidupmu yang pernah di ceritakan kepadaku Julia!! Terutama... kisah tentang Ibumu yang telah meninggal dunia ketika masih bersama-sama dengan Ayah kandung mu. Sedangkan satu waktu, kamu berbicara tentang kebahagiaan keluargamu yang hidup dengan Ibu dan Ayah tiri!!
Apakah aku mempermasalahkannya? Tidak!! Aku diam saja dan pura-pura tidak tau!!

Kebohongan terbesarmu adalah...
Kamu bekerja kepada seorang mucikari. Karena tergadaikan oleh Ayahmu yang tidak mampu melunasi pinjaman yang tak terbayar bukan? Berjumlah 130 juta! Sedangkan dengan hebatnya...

Kamu mengakui memiliki beberapa barang mewah dan jika di rupiahkan bisa berharga milyaran!! Mengapa kamu tidak menjualnya saja dan segera keluar dari lingkaran iblis itu!!!
Dan lagi-lagi apakah aku mempermasalahkan hal ini??? Tidak Julia!!!

Dan sebenarnya tidak hanya itu...
Banyak keganjilan-keganjilan lainnya yang aku diamkan...
Tetapi aku selalu berusaha untuk mempercayai kamu karena tersihir akan janji-janji yang selalu mengatas-namakan Tuhan!!
Aku memang bukanlah orang baik Julia!! Tetapi aku tidak pernah berani mempermainkan sumpah dengan membawa-bawa nama Tuhan!!!

Kamu telah menginjak harga diriku.
Kamu telah membuatku malu di hadapan teman-temanku.
Tetapi...
Maafkan aku Julia...

Mulai hari ini aku akan hapus semua tentang kamu. Aku akan mengganti nomor ponselku.
Aku ingin menghilang selamanya dari kehidupan kamu...
Cukupkan sampa disini saja! Selamat Tinggal Julia...

Semoga hanya aku saja yang tenggalam dalam permainan kamu...
Lekaslah sembuh dari ketidak-sehatan akal dan pikiranmu itu!!?

***

Mencintai siapapun itu adalah hal yang wajar.
Namun jangan pernah mengabaikan logika yang seharusnya bisa menjadi pembuktian tentang arti dari kebenaran yang sejati...
Jangan pernah mengharapkan hal-hal yang besar. Andai hal-hal yang kecilpun tidak mampu terlaksana...
Cintailah dengan nurani. Bukan dengan nafsu.
Cintailah dengan bukti. Bukan dengan janji semata.
Cintailah dengan kesungguhan. Bukan dengan keraguan.
Cintailah dengan kejujuran. Bukan dengan sejuta kebohongan...
Jangan pernah merasa layak untuk di perjuangkan oleh orang lain. Apabila tidak pernah berusaha untuk memperjuangkannya sekalipun...
Jangan pernah dendam dan Jangan pernah membenci
Jika cinta harus berakhir dengan menyakitkan...
Tetapi yakinilah dirimu sendiri. Sudah sehebat apakah kamu untuk di hargai...

Kisah pun berakhir dengan pembalajaran yang berharga. Tidak pernah sekalipun untuk merasa jera.
Karena aku selalu meyakini. Tuhan akan selalu menyediakan yang terbaik dari yang terbaik.
Ketika kita terus berusaha untuk membenahi diri...

Sayonara...



Tabik...




Kisah nyata dari Penulis:
-Aghana V Idents.

?

Karya : Zenobia Lamos