"Di Balik Kisah Film Ip-Man 3"

Zenobia Lamos
Karya Zenobia Lamos Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Maret 2016

Bagi penggemar film kungfu atau bela diri. Sudah pasti mengenal sosok ahli Wing Chun yang bernama Ip Man. Sebenarnya saya sendiri, baru menyaksikan Ip Man 3 sedangkan Ip Man 1 dan 2 belum pernah saya tonton. Dari segi gaya pertarungan dan alur cerita, menurut saya pribadi memang sangat bagus.

"Lebay amat nih penulis. Padahal film itu biasa-biasa aja menurut gue" tidak masalah Apabila ada yang berkata seperti ini. Karena sebuah kata ?Relatif? sering kali terdengar namun tidak banyak yang memahami. Saya sendiri menyukai film yang berbau horor dan misteri. Tetapi film drama atau komedi pun seringkali saya saksikan. Baiklah kembali ke pembahasan awal.

Seorang ahli beladiri Wing chun ini mempunyai seorang istri dan seorang anak laki-laki. Sedangkan murid didiknya? Cukup banyak. Dari awal cerita hingga ke pertengahan scene film Hanya menceritakan tentang pertikaian memperebutkan dan mempertahankan sebuah gedung sekolah hingga bermunculan musuh-musuh sang Ip Man untuk mengusik ketentraman. Bahkan kemunculan salah satu musuh utama yaitu Mike Tyson. Mantan juara tinju kelas berat dunia, semakin mewarnai film tersebut

Namun bukan itu yang membuat saya tertarik sedemikian rupa. Melainkan saat Wing-Sing, istri dari tokoh utama yang bernama Ip Man terjangkit sebuah penyakit yang mematikan yaitu kanker. Sebagai ahli beladiri yang paling dicari, tentunya waktu untuk bersama keluarga tidaklah banyak. Sang istri pun merasakan kecemburuan sosial karena hampir di setiap hari suaminya tersebut selalu pulang larut malam serta hampir tidak pernah mempunyai waktu untuk makan bersama keluarga kecilnya.

Pukulan telak yang menikam dada pun harus diterima oleh seorang Ip Man. ketika diketahui istri yang sangat dicintainya itu tidak dapat lagi terselamatkan. Selain menunggu waktu untuk memisahkan mereka berdua. usai berkonsultasi dengan seorang dokter, Ip Man pun membawa istrinya ke seorang tabib. Bermaksud untuk mengharapkan keajaiban di setiap usaha yang telah dilakoni nya. Saat hendak pulang memasuki sebuah lift. Mereka berdua dihadang oleh seorang petarung bayaran yang diperintahkan oleh Frank ( Mike Tyson ) untuk menghabisi sang Ip Man.

Dengan Sigap Ip Man selalu menangkis Serangan yang bertubi-tubi. Dan berhasil memojokkan musuh hingga keluar lift. Kemudian membiarkan sang istri untuk pergi lebih dahulu. Ip Man menutup pintu Liftnya dan cepat-cepat menekan tombol bernomorkan lantai yang tertuju kepada tempat tinggalnya. Perasaan gundah pun dirasakan oleh istrinya. meski t'lah sampai. Wanita itu tidak beranjak sedikitpun, selain berdiam diri menantikan kedatangan suaminya yang tengah bertarung.

Setelah menyelesaikan pertarungan, Ip Man bergegas berlari menghampiri istrinya. Dan seakan-akan tidak pernah terjadi apapun, Ia menggandeng tangan wanita yang di kasihinya itu. Lalu melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke rumah. Dalam diam, sorot mata istri dari Ip Man tersebut memancarkan nanar kepedihan.

Hari demi hari. Keadaan Wing-Sing, semakin memburuk. Ip Man, telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menghabiskan waktu bersama sang istri. Menuruti semua keinginannya serta selalu berusaha untuk membuat istrinya terbenam dalam kebahagiaan. ?Berdansa? Ya, berdansa. Satu hal yang belum pernah di lakukan oleh seorang ahli bela diri wing chun yang bernama Ip Man. Sehingga, Ia pun rela untuk mempelajari cara berdansa sebaik-baiknya.

Di waktu yang bersamaan. Seorang saudara seperguruan Ip Man yang bernama Cheung Tin-chi. Penganut bela diri wing chun garis keras. Menantang sang Ip Man untuk menentukan siapa yang layak menyandang gelar Grand Master. Media cetak menjadi khalayak ramai. Oleh berita tentang tantangan dari Cheung Tin-chi tersebut. Dengan di saksikan oleh para ahli bela diri wing chun, Ip Man tidak menghadiri undangan yang di berikan kepadanya. Ia merelakan harga dirinya sebagai tokoh penting dari dunia wing chun terjatuh. Ia rela melakukan semua itu, tak lain hanyalah demi memenuhi nazaar untuk membahagiakan sang Istri. Seorang wanita yang telah berhasil membuatnya memahami arti dari kehidupan yang sebenarnya.

Akhirnya, gelar Grand Master pun harus terjatuh kepada Cheung Tin-chi. Karena ketidak-hadirannya Ip Man dalam acara itu. Tanpa di sengaja, istri dari Ip Man pun mengetahui kabar tersebut. Dengan sengaja, Ia meminta kepada suaminya untuk berfoto bersama. Sebagai sesi terakhir atas keadaannya yang semakin memburuk. Meskipun telah menundukan banyak pertarungan. Ip Man hanyalah seorang manusia biasa. Ia pun meneteskan air matanya. Berusaha untuk mengikhlaskan, meskipun terasa sangat sulit baginya.

Saat Ip Man pergi. Diam-diam Wing-Sing menulis sebuah surat untuk di sampaikan kepada Cheung Tin-chi. Mengatur ulang jadwal pertarungan harga diri itu. Selesai melakukan foto bersama, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah. Wing-sing meminta kepada Ip Man untuk berlatih di depan kedua bola matanya. Tanpa membantah sedikitpun, walau dalam keadaan yang sangat memilukan. Ip Man beranjak dari tempat duduknya dan mulai berlatih. Gerakannya tak selincah seperti biasanya, bukan karena jarangnya berlatih. Melainkan memikirkan keadaan Istrinya yang semakin menurun.

Hujan lebat mengguyur seisi pedesaan. Di temani sang Istri, Ip Man menghadiri tantangan Cheung Tin-chi yang telah di rangkai kembali oleh Wing-Sing. Akhir dari cerita, mengisahkan tentang kekalahan Cheung Tin-chi. Dan mengakui bahwa Ip Man lah yang pantas menyandang gelar Grand Master Wingchun yang sebenarnya. Scene terakhir, pasca istrinya telah meninggal dunia. Ia tampak duduk sendirian seraya meminum segelas air.

?Tidak ada yang lebih penting, dari orang yang kau kasihi, selalu berada di samping mu?
-Ip Man...

Harga diri dan orang-orang yang terkasih adalah 2 hal terpenting. Namun tidak semestinya, mengorbankan siapapun yang telah sudi memberikan kasih sayangnya kepada kita. Demi sekedar mendapatkan arti dari sebuah harga di mata banyak orang.
Saya sendiri pernah mengalami kejadian seperti ini. Meskipun belum sampai kedalam jenjang pernikahan. Setidaknya, dalam kebanggaan tanpa penyesalan. Saya pernah menjadi sebuah ?Tameng? untuk di pandang buruk oleh banyak orang dan menelan segala spekulasi demi seseorang yang saya cintai agar kehormatannya selalu terjaga dengan baik di mata orang lain. Meskipun semua itu harus berakhir dalam ketiadaan.

?Setidaknya, kita jangan pernah berusaha untuk menyesali perjuangan yang pernah terlampirkan. Tetapi berfikirlah untuk memberikan perjuangan yang lebih baik. Kepada seseorang yang lebih tepat dari sebelumnya...?


Penulis:
Aghana V Idents.

  • view 1.1 K

  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    1 tahun yang lalu.
    Saya penggemar wing chun dan sempat berlatih bela diri ini. Mungkin yang saya agak bingun di film tersebut adalah, istri Ip Man meninggal dunia, dengan 1 anak saja, yaitu Ip Chun ... sementara di kehidupan nyata Ip Chun memiliki adik yang bernama Ip Ching. Sekarang mereka berdua punya perguruan wing chun di Hong Kong (kalau tidak salah). Atau mungkin saja setelah itu Ip Man menikah lagi? Entahlah ... by the way, ulasannya bagus!

    • Lihat 1 Respon