Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 8 September 2017   14:56 WIB
Pesan Kecil dari Warren Buffett

Jangan salah sangka kalau dunia pasar modal itu dunia yang kering dan tidak memiliki kisah humor. Pasar modal yang identik dengan angka-angka memang bisa membuat orang langsung pusing begitu melihatnya.

Oya, para pelaku di pasar modal bukan hanya mereka-mereka yang berwajah serius lho. Nyatanya, ada kisah-kisah lucu yang sering dialami para pelaku di pasar modal seperti kisah kocak berikut ini.

Alkisah ada seorang investor yang cemas dan takut berlebihan melihat kondisi ekonomi yang tidak menentu. Ia pun pergi ke perencana keuangan (financial planner) dan bertanya apakah dia sama sekali tidak khawatir dengan volatilitas pasar modal akhir-akhir ini. Penasaran dengan jawaban si ahli keuangan tersebut?

Perencana keuangan (ahli uang) itu justru menjawab bahwa dia pede dan tidak khawatir dengan gonjang-ganjing perekonomian.

Dengan tenang ia berkata bahwa ia tidur nyenyak seperti bayi.

Investor yang kecemasannya sudah membuncat itu pun heran dan takjub. Bagaimana mungkin si perencana keuangan itu bisa tidur nyenyak, padahal ia juga membeli saham dalam jumlah besar seperti dirinya.

"Benarkah? Bahkan dengan semua fluktuasi yang seperti itu?"

"Yup. Saya tidur selama beberapa jam," jawabnya mulai sendu.

Sambil mewek ia melanjutkan," Setelah tidur beberapa jam, saya bangun kemudian menangis selama beberapa jam." Gubrakkkk!

Begitulah dunia pasar modal, ada suka, ada duka. Untung saja, banyak pelaku pasar modal yang menjadikan kerugian sebagai hiburan karena bagaimanapun, investasi yang sukses membutuhkan waktu, disiplin dan kesabaran seperti dikatakan Warren Buffett yang dijuluki “Oracle of Omaha” itu.

Bahkan Buffett menegaskan, tak peduli seberapa berbakat diri kita, kita harus mampu bersabar agar mampu mendapat hasil yang maksimal. Satu hal yang pasti, kita tidak perlu melakukan semua hal dengan benar, tetapi kita harus berhati-hati agar tidak melakukan terlalu banyak hal salah. Salah boleh, tetapi jangan terlalu banyak.

Karya : Setyo Sudirman