The Latte Factor: Hal Remeh-temeh yang Menguras Kocek

Setyo Sudirman
Karya Setyo Sudirman Kategori Ekonomi
dipublikasikan 11 Agustus 2017
 The Latte Factor: Hal Remeh-temeh yang Menguras Kocek

The Latte Factor. Istilah ini mungkin masih asing bagi sebagian dari kita. Maklum bahasa Inggris. Istilah ini diperkenalkan oleh penulis finansial asal Negeri Paman Sam bernama David Bach merujuk pada pengeluaran sepele atau terkesan remeh temeh yang acapkali dilakukan seseorang tanpa sadar hingga menjadi rutinitas. Padahal, hal yang remeh-temeh ini kadang nominalnya justru gede.

The Latte Factor sendiri dipahami sebagai secangkir kopi yang selalu dibeli orang sebelum memulai aktivitas harian. Bila dikalkulasi, nominal pembelian ini gede juga. Cobalah berpaling ke Indonesia, sebenarnya banyak hal yang terkesan sepele karena rutin dilakukan, tetapi itu kalau diitung dengan rinci nilainya cukup besar. Padahal, nilai yang tak sedikit itu kalau dialihkan ke investasi hasilnya cukup signifikan. Mari kita bedah.

Kebiasaan orang Amerika tentu beda Indonesia Indonesia terkait hal-hal yang remeh-temeh. Di Indonesia, saat beraktivitas di luar, orang acapkali memilih untuk membeli kemasan (botol) di minimarket atau warung kecil dibanding membawa sendiri dari rumah.

Anggap saja kita beraktivitas di luar rumah 26 kali dan harus membeli air kemasan minimal dua kali sehari masing-masing Rp. 4.000. Total dalam sehari kita mengeluarkan uang sebesar Rp.8.000,- dikali 26 hari dalam sebulan maka uang yang harus kira keluarkan sebesar Rp. 208.000,-. Dalam setahun tinggal dikalikan 12 maka ditemukan angka yang tidak sedikit yaitu sebesar Rp. 2.496.000,- Kalau saja mau membawa mininuman dari rumah maka dalam setahun kita bisa menambah dana investasi sebesar Rp. 2.496.000,-. Ini baru air mineral kemasan, ada lho yang bawanya minuman berkelas (entah untuk gaya-gaya atau kebiasaan beneran) untuk mengawali aktivitas hariannya.

Kalau ambil contoh lain, misalkan nyambung dengan orang Indonesia yang paling demen dengan yang namanya gorengan atau cemilan harian. Mau di rumah hingga di kantor, yang namanya cemilan itu favorit bagi orang Indonesia. Memang harga gorengan boleh dikata murah meriah. Karena murah, kita terbiasa membeli gorengan di kisaran Rp. 5.000-Rp. 10.000,- . kalau dikalkulasi maka jumlanya lumayan. Taruh saja sekali beli Rp. 5.000,-  dan kebiasan membeli dalam seminggu 4 kali maka akan didapati Rp. 20.000,-. Selanjutnya dikalikan  4 minggu dalam sebulan maka akan ditemukan angka Rp. 80.000,- plus kali 12 dalam setahun maka uang yang dilakokasikan untuk gorengan sebesar Rp. 960.000,-.

Nah bagi para penggemar film, kalau di setiap akhir bulan harus harus ke bioskop untuk nonton film, tentu akan boros dan bikin bokek. Saat akhir pekan harga tiket bioskop biasanya lebih mahal dari hari biasa. Harga di akhir pekan sebesar Rp.50,000,-. kalau dikalikan 4 kali maka akan didapati angka cukup gede sebesar Rp. 200.000,-. Belum lagi cemilan, transporr hingga parkir. Dalam setahun dana yang dikeluarkan untuk nonton sebesar Rp. 2.400.000.

Dalam setahun untuk hal-hal sepele yang dicontohkan untuk 3 hal di atas, angka yang tidak sedikit Rp. 2.496.000 + Rp. 960.000,- + Rp. Rp. 2.400.000 menjadi Rp. 5.856.000,-. Jumlah ini tidak sedikit dan kalau diinvestasikan misalkan di platform modern IPOTPAY yang memberikan imbal hasil 7-9% per tahun, hasilnya terbukti signifikan lebih dari tabungan dan deposito. Tak perlu ribet memperhatikan pergerakan pasar modal, dana di IPOTPAY sudah ditaruh secara otomatis di reksadana pasar uang. Tinggal santai di rumah, dana di IPOTPAY bertambah.

So, beli air minuman kemasan, gorengan atau jajan pasar, nonton bioskop dan hal remeh-temeh lainnya itu tak ada yang salah, namun mengurangi frekuensi dan mengalihkan uang untuk keperluan investasi tentu lebih seru hasilnya. Belum lagi, kalau kita memiliki kebiasaan yang terkesan remeh-temeh seperti kebiasaan nongkrong di kafe hingga pergi ke tempat-tempat hiburan malam. Berapa tuh jumlahnya?

  • view 46