Spiritualitas Uang dan Kekayaan di Balik Pasar Modal Syariah

Setyo Sudirman
Karya Setyo Sudirman Kategori Ekonomi
dipublikasikan 27 Juli 2017
Spiritualitas Uang dan Kekayaan di Balik Pasar Modal Syariah

Sebagai suatu sistem yang tak terpisah dari pasar modal secara keseluruhan, pasar modal syariah memiliki keistimewaan nilai-nilai di baliknya. Memahami pasar modal syariah tentu tak lepas dari spiritualitas uang dan kekayaan.

Karakteristik khusus pasar modal syariah dalam konteks spiritualitas merujuk pada produk dan mekanisme transaksinya yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

Para penggagas pasar modal syariah mamahami betul bahwa uang atau kekayaan perlu diperoleh melalui aturan-aturan agama baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena pada dasarnya cerdas finansial tak semata-semata pandai mengakumulasi uang dan kekayaan, tetapi perlu dipahami bagaimana uang diperoleh.

Secara spiritual ada dasar keyakinan: hanya ada satu jalan keselamatan yaitu menjadi orang yang beruntung, yang mendapatkan dan menggunakan uang dan kekayaan dengan benar.

Eko P. Pratomo menyebutkan empat kategori bagaimana orang memperoleh dan menggunakan uang dan kekayaannya dalam bukunya "50 Financial Wisdom". Pertama, orang beruntung adalah mereka yang mendapatkan dan menggunakan uang dengan benar. Kedua, orang yang merugi adalah orang yang mendapatkan dengan benar, tetapi menggunakannya dengan tidak benar. Ketiga, orang yang celaka adalah orang yang mendapatkan tidak dengan cara benar, tetapi menggunakannya dengan benar dan Keempat, orang yang celaka dan merugi adalah orang yang mendapatkan dan menggunakannya dengan tidak benar.

Secara konkret dalam penerapan syariah dalam pasar modal tentu saja didasarkan pada Al Quran sebagai sumber hukum tertinggi dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, ilmu fiqih mengelaborasi soal muamalah yaitu hubungan di antara sesama manusia terkait perniagaan.

Syukur alhamdulillah, pada 18 April 2001 silam Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) untuk pertama kalinya mengeluarkan fatwa yang berkaitan langsung dengan pasar modal yaitu Fatwa Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah. Pengesahan UU Nomor 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 7 Mei 2008 menjadi tonggak sejarah baru.

Adapun produk syariah di pasar modal sendiri berupa surat berharga atau efek. Kehadiran produk syariah seperti IPOT Syariah lantas menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat yang ingin berinvestasi dan bertransaksi secara halal sesuai dengan kaidah-kaidah agama Islam.

IPOT Syariah adalah salah satu platform berinvestasi di pasar modal secara syariah karena telah mengikuti dasar peraturan pelaksanaan Fatwa Dewan Syariah Nasional sehingga memberikan fitur-fitur transaksi saham secara "halal" yaitu hanya melakukan transaksi pada saham-saham yang masuk di dalam DES (Daftar Efek Syariah), tidak mengandung "RIBA" karena limit transaksi hanya sebesar saldo kas nasabah dan terhindar dari "BA'I AL-MA'DUM" (menjual yang bukan miliknya) karena di IPOT Syariah tidak diperkenankan untuk melakukan short-selling. Secara sederhana, prinsip-prinsip syariah tentu tak lepas dari larangan riba, perjudian, spekulasi dan sebagainya

Pada dasarnya, memang tidak mudah untuk mendapatkan status syariah karena harus memenuhi fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), termasuk 14 larangannya yaitu front running, misleading information, wash sale, pre-arrange trade, pump and dump, hype and dump, creating fake demand/supply, polling interest, cornering, marking at the close, alternate trade, insider trading, short selling dan margin trading. Akhir kata, spiritualitas yang paling kentara yaitu uang dan kekayaan yang harus diperoleh dan digunakan secara benar.

  • view 57