Ini Alasan Kenapa e-Wallet Mulai Ditinggalkan

Setyo Sudirman
Karya Setyo Sudirman Kategori Teknologi
dipublikasikan 12 Juli 2017
Ini Alasan Kenapa e-Wallet Mulai Ditinggalkan

Sistem pembayaran non-tunai (e-wallet) sukses menggeseser pembayaran tunai yang juga menggeser sistem barter (tukar-menukar barang dengan barang). Berkat pembayaran non-tunai, kita tak perlu susah harus membawa uang tunai dalam dompetnya dengan jumlah yang sangat banyak. Saat pergi keluar kota atau mudik, kita tak perlu mengantongi uang tunai dalam jumlah yang banyak.

Tren cashless dengan kartu ATM pun digandrungi. Tak perlu bawa kantongi uang tunai, kita sudah bisa melakukan pembayaran. Kemunculan kartu ATM (Anjungan Tunai Mandiri/Automated Teller Machine) suskes mengurangi beban saat harus membawa uang tunai.

Dengan ATM kita menjadi tenang bepergian tanpa uang tunai yang banyak di dompet. Dengan ATM kita tak lagi was-was dijambret. Semua menjadi praktis dan gampang.

Hanya dengan menggesek ATM di EDC Swipe dan masukkan PIN maka transaksi pembayaran pun beres. Tak mentok di kartu debet, kartu kredit pun menjadi alternatif pembiayaan plus tawaran promo.

Seiring dengan perkembangan zaman, terutama kemajuan teknologi, transaksi dengan ATM mulai ditinggalkan dengan kemunculan uang elektronik atau e-wallet. Uang elektronik (e-wallet) melekat di smartphone.

Adapun jenis e-wallet pun beraneka ragam mulai dari BCA (Flazz dan Sakuku), Mandiri (Indomaret Card, GazCard, E-Toll dan E-Cash), Bank DKI JakCard, Telkomsel Cash (T-Cash), BNI (TapCash), Indosat I-Pay, Bank Permata (BBM Money), GoPay, CIMB (Rekening Ponsel), Bank National Nobu (Nobu E-Money), Indosat Ooredoo (Dompetku), XL (Tunaiku), Doku Wallet, Skye Card, dan masih banyak lagi.

Terlihat jelas, pemain e-wallet adalah bank dengan teknologi contact-less module. Teknologi ini memudahkan pengguna e-wallet hanya dengan mendekatkan kartu e-wallet mereka dengan module tersebut.

Tak cuma mengubah uang kartal menjadi “kartu”, teknologi e-wallet mampu mengubah dompet kulit menjadi dompet digital yang dibenamkan di sebuah ponsel pintar.

Evolusi teknologi pun terus bergerak maju. E-wallet ketahuan memiliki kelemahan. Tak ayal, e-wallet berpotensi tak digemari lagi. Ada beberapa alasan mengapa e-wallet diabaikan:

Pertama, layanannya sangat terbatas. Menengok pengalaman negara yang sudah marak e-walletnya seperti Jepang, ratusan e-wallet yang ada harus menggunakan e-wallet reader yang berbeda. Ribet kita dibuatnya karena harus memiliki banyak aplikasi karena tak ada e-wallet yang bisa untuk banyak transaksi.

Kedua, saldo stagnan. Meski tak berkurang karena e-wallet tak membebani biaya administrasi, tetapi perusahaan e-waalet tidak menawarkan bunga atau imbal hasil (return) atas saldo yang tersisa. Nilai uang yang tidak digunakan merosot tergerus inflasi.

Ketiga, fasilitas pencairan dan transfer terbatas. Meski uang di dalam dompet elektronik ini bisa ditransfer, faktanya hanya bisa ditransfer ke sesama pemiliki aplikasi yang sama. Transaksi transfer e-wallet pun sangat terbatas. E-wallet hanya dapat menampung saldo sampai dengan 10 juta rupiah.

Melihat celah keterbatasan e-wallet ini, fintech platform pun muncul seperti IPOTPAY memberikan beragam layanan yang bisa untuk bayar, beli dan transfer, mampu memaksimalkan hasil saldo dan fasilitasnya melebihi e-wallet.

Kalau kita cermati, pemaksimalan saldonya tidak tanggung-tanggung yaitu di kisaran 7-9 % per tahun (gross). Ternyata, dana IPOTPAY secara otomatis disimpan di reksadana pasar uang.

Sebagai inovasi teknologi terkini yang lebih dari e-wallet, diskon atau potongan harga seperti yang ditawarkan oleh e-wallet tetap bisa diperoleh hanya dengan top up e-wallet dari platform ini. Semua kelebihan di atas tidak dapat diperoleh apabila kita hanya menaruh dana di e-wallet. Kita tunggu inovasi-inovasi terbaru yang bakal memajukan kesejahteraan rakyat.

  • view 239