Ini yang ku pilih

Setiawan Tri Hardiyanto
Karya Setiawan Tri Hardiyanto Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Juli 2017
Ini yang ku pilih

 terlalu lama sendiri dan menikmati ini semua  dalam waktu yang tak singkat, aku memutuskan tidak mengikat batin ini untuk siapapun, aku terlena bahwa sendiri itu indah, banyak  orang yang mempertanyakan apa yang aku lakukan ini

“apa yang kau lakukan itu menyenangkan?”, aku hanya menjawab dengan selembar senyum tak berarti padanya.

Umurku di katakan  tidak muda dan tidak juga tua tapi jiwaku seperti anak-anak autis  yang suka dengan kesendirian dan keanehan imajinasi yang selalu bergelayut dengan jiwa ini. Ketika banyaknya perubahan di sekelilingku akupun merasa semua seolah sama, dan hal itu membuat aku berhenti di waktu dan dimensi yang aku cintai, aku bersumber kebodohan yang tidak ingin melanjutkan kisah nyataku, aku terlalu jatuh cinta dengan khayalan ini, khayalan tentang kehidupan indah yang tak terjadi masalah apapun. Teguran dan hinaan kerap muncul, aku tau bahwa itu semua tanda kepedulian mereka kepadaku, tapi seolah egois aku tetap melangkah kepada kesendirian yang aku rasa kekal.

“aku selalu berulang bertanya kepadamu, apakah kamu suka dengan ini semua?”.

 kini aku agak tegas menjawabnya, “aku sudah berulang kali untuk menjawab, dan jawaban itu masih sama !, aku suka sendiri !,  aku suka tidak mengikat jiwaku pada manusia, aku sudah mencoba mengikat hati ini kepada seseorang, dan pada akhirnya taliku terputus dan aku terbawa arus kesendirian hingga sampai saat ini, apakah aku perlu menjelaskan kepadamu betapa sakitnya hal  itu?”

Dia hanya senyum, dan menjawab “kau tidak akan tau betapa indahya berusaha dan menikmati usahamu” , dan betapa berharganya waktumu jika kau gunakan untuk berbagi dengan seseorang  yang kau cintai.

Aku tertunduk mendengar ocehannya kosong itu dan seolah berfikir, tapi aku ingin beralibi dan tak terima atas pernyataan itu aku hanya senyum dan tak menjawab. Tapi  seolah-olah terbesit dalam otak ini atas pernyataan itu aku bergumam apakah benar dengan hal itu? , aku mulai goyah. Hal yang dapat aku lakukan adalah berjalan di ruang kosongku dan merasakan sepinya keraiman, agak konyol bukan ?

Bagiku sendiri adalah waktu untuk mengenal siapa diri ini. Sendiri menjadikanku seseoarang yang sangat tegar menghadapi banyak hal, tak banyak orang tau tentang dalamnya hati manusia,  aku tak mau berbagi derita dengan siapapun, aku menyimpan rahasia besarku sendiri dan hanya aku dan tuhanku yang tau itu. Keras kepala ku ini berlanjut pada tahap dimana mereka hanya terdiam seolah seperti menabur garam di samudera. Banyak sosok hadir didalam hidupku tapi aku seolah tak bergeming dengan lintasan itu, aku hanya tak ingin menyadari banyak orang yang masih ingin bersamku. Luka yang tergores dulu seolah membuat radang hingga kini, padahal hanya satu orang saja melakukan itu padaku, tapi betapa naifnya aku menolak mereka yang peduli terhadapku . padahal mereka tidak pernah salah saat ini, hanya aku yang salah menafsirkan, aku terlalu kolot dengan pola pikir konvensional.

Berlanjut dengan angan-angan bahagia yang aku ciptakan sendiri, bahagia dengan kesendirian. Yes….!! That my way…!!, hanya itu yang bergumul di dalam sempitnya pikir ini. Aku merasa bahwa banyak orang membuat bahagia mereka dengan menjatuhkan harapan dan kebahgian orang lain. Yang pada akhirnya mereka berjalan di atas hidup orang lain apa itu yang disebut kebahagian?, relative sih karena cara bahagia orang berbeda-beda.

Aku mulai berpikir dan beralibi jika aku harus melabuhkan lagi hidup ini kepada seseorang apakah kisah yang dulu tidak akan terulang? Dan aku mulai mengambil angan jika  pada  akhirnya akan sama, akan ada yang tersakiti, jika hal ini akan ku coba, karena aku hanya menjalani masa lalu yang menurut ku akan membuat kesakitan ke orang lain jika aku belum siap untuk mengubah kegilaan ku.

“Kau ini orang yang sangat keras kepala yang pernah aku kenal, tapi kau orang yang paling sabar dan lembut yang pernah aku kenal juga”

Kata terakhir yang aku dengar dari mulutnya.

Diam diantara kami membelenggu, dan aku berfikir pada akhirnya dia menyerah pada jawaban keras kepalaku. Aku memulai ini sejak aku putus asa dengan tali yang putus saat aku menambatkan kepada seseorang, aku merasa terluka saat itu yang pasti hingga saat ini aku merasa “aku nyaman dengan ini semua”, aku nyaman untuk menjalani semua sendiri, apapun itu aku menyadari bahwa ini semua bukan hal yang baik untukku.

  • view 56