kau persilahkan aku pergi

Setiawan Tri Hardiyanto
Karya Setiawan Tri Hardiyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Agustus 2016
kau persilahkan aku pergi

rangkain kata yang tak terangkai dengan sempurna ini mengawali sebuah kisah yang membuat perubahan besar bagi ku, terbata-bata untuk berucap kepadamu adalah keindahan yang tak terlukis oleh ku, memang agak aneh tapi ketika aku berkata kau seolah mendengarkan semua yang ku ucap kadang kau mengembangkan senyuman kecil yang berubah menjadi bahak-bahak yang ternilai arogan, kisah ku terhadapmu adalah kisah yang tak akan pernah terputus oleh banyaknya dimensi waktu yang ada.

Aku melihat banyak kebohongan dan ketulusan yang ada, tapi aku hanya melihat kasih yang ada pada dirimu, tatapan penuh harap dan iba selalu terpancar mengarah kepadamu, seolah-olah pemilik cinta terbesar kau mengulurkan rangkain kasih layaknya seorang ibu, kau mengayunkan tanganmu dengan lembut dan ramah, kau wanita tangguh yang siap menghujamkan anak panah yang siap menembus tubuhku, kau wanita cerdas yang selalu membuat hal-hal baru dalam hidupku, dan kau wanita bodoh yang mau menerimaku apa adanya, aku laki-laki yang tidak memiliki apapun untuk di banggakan bahkan raga ini pun tak pantas untuk kau banggakan, rentetan peristiwa yang ada dalam hidupku kau selalu ada tertulis di dalam buku kehidupanku dan kau mau untuk menjadi pahlawanku dan siap untuk menjadi tamengku, aku sedih dan bahagia, dua sisi yang sangat tragis bukan ?.

Aku adalah laki-laki yang tak bisa apa-apa untuk kau jadikan pasanganmu. Aku pernah bertanya kepadanya

"kenapa kau mau memilihku dan mau bertaruh untuk ini semua?''

dia hanya menjawab "haruskah aku memberi alasan yang ilmiah untuk bisa meyakinkanmu bahwa aku yang memilih mu jadi konsekuensinya harus aku terima",

tangisku tak terbendung lagi dadaku sesak karena menahan ledakan emosi ini, aku sangat mengerti dia pasti terluka dan tersakiti oleh pertanyaanku, betapa bodohnya aku yang melakukan itu, aku pernah mencoba untuk meninggalkannya dan mencoba bertahan sendiri, seolah alampun menolak pula dengan apa yang aku lakukan, dia hadir dengan anggun dan merengkuhku dan berkata

"terimalah segala kehendakNya, karena aku adalah kehendakNya juga'',

Dia wanita pemaaf yang selalu saja memaafkan diriku jika aku berbuat salah, dia tidak pernah menuntut untuk apapun terhadapku bahkan dengan hubungan ini, seolah balon yang terbang tanpa ada pengikat yang hanya bisa menunggu meletus atau mendarat karena tidak tertiup oleh angin, aku lelaki keparat yang hanya bisa menunduk dan mengharap belas kasihnya, tapi aku tidak mau menyakitinya lebih daripada ini di kemudian hari. Aku tidak mau membuatnya lebih dungu seperti halnya dia memilihku. Aku sudah tau luka yang akan timbul jika aku melakukannya.

Seolah-olah berdiri dan termenung kini waktuku sebentar lagi akan berakhir, aku tak dapat lagi menangis atapun berteriak, aku menyesal tidak bisa mencintaimu sampai kau menutup mata, tapi aku bahagia aku akan dapat mencintaimu sampai aku menutup mata, sebelumnya aku pernah berkata kepadanya tentang kondisi ku yang tak akan untuk bertahan hidup, tapi dia sekali lagi menjawab dengan jawaban yang sama 

"terimalah kehendakNya, karena ini semua adalah kehendakNya juga" pucuk matanya menggambarkan jeritan yang tak dapat ku dengar, senyum dan tangisnya pun telah bersatu, membaur oleh pelukku. Saat kondisiku mulai memburuk dia sangat telaten merawatku dan sabar dengan keadaanku, aku sudah mulai melemah dan pasrah saat sang malaikat pencabut nyawa sudah hadir di sampingku untuk menjemputku, aku tersenyum pilu kepadanya dan mulai mengatakan pesan-pesan dan kata-kata perpisahan.

Aku melihatnya menangis dan berkata "berangkatlah untuk mengakhiri semua perjuangnmu, aku sudah siap menerima ini semua saat aku mengenalmu, inilah konsekuensi yang harus aku terima, melihatmu berjuang dan melihatmu untuk pergi selamanya, aku akan mencintaimu sampai aku kan menutup mata seperti halnya dirimu yang tak membiarkan sesorang membawa cinta ini, berangkatlah sayang"

 

Pict:  

https://www.google.com/search?q=aku+yang+pergi&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj8g5GF367OAhXHqI8KHX-tBLYQ_AUICCgB&biw=1280&bih=693#tbm=isch&q=senja+yang+menghilang&imgrc=21IAnCenyGU1DM%3A

  • view 192