Tak harus kugadaikan

Setiawan Tri Hardiyanto
Karya Setiawan Tri Hardiyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Mei 2016
Tak harus kugadaikan

 

Terbentang cakrawala yang damai dan sejuk, goresan rona awan jingga yang ranum terhanyut dalam rotasi, bulir-bulir embun menggulingkan dingin di pagi hari, semarak kicauan burung yang ramai bak pasar malam. Seolah seperti biasanya aku terkaca oleh jendela pagi yang selalu beku akan sikapku, aku selalu memandang kearah ufuk bumiku, aku menatap tajam tapi kosong, seolah gudang yang terbengkalai,aku tertatih untuk tetap menatapnya, ya hanya menatap, lukisan rindu yang sangat menyayat tapi tak sampai pada terindu.

Pagiku adalah rona harapan baru, harapan akan hadirmu, harapan akan belaianmu, harapan akan kasihmu dan harapan akan untuk menjadi kita, itu semua hanya sebuah harapan yang mungkin tak akan pernah terwujud, sudut gelap dan keluku seakan terpancar dalam harianku, aku berdiary dengan waktu yang mati, cintaku terhalang olehmu,  terhalang oleh batas yang hanya bisa dirubah oleh paradigma-paradigma yang wajar, tapi semua itu akan tidak mungkin lagi untuk dirubahnya, kuatnya dirimu seperti halnya mempertahankan keyakinan yang sudah melekat dalam nafasmu.

Kerongkanan ini tak lagi melafalkan kalimat syahdu lagi, bahagiaku hancur dan redam melihat kau telah memilih orang lain, walaupun kita sama-sama mengerti dengan status kita, senyum berkabut tertoreh di hariku, langkah terseok oleh dinginnya sikapmu, kilat berdendang seolah tau akan hal ini, entah mau mengejek ataupun menghibur, tetap saja itu tak mengubah waktu. Entah sampai kapan aku harus menunggu, menunggu ketidak pastian ini. Yang lebih tepat adalah menunggu hal yang takan pernah terwujud.

Apa yang membuat kita berbeda adalah hal yang sangat riskan, kita tak akan pernah bersatu, jika Tuhan menyatukan kitapun akan banyak pihak yang berlagak seperti Tuhan. Dengan menghalangi waktu pun aku tak akan pernah mampu lagi untuk tetap merindumu, aku coba untuk menitipkan cahayaku kepadamu, tapi itu semua menjadi seolah derai bagiku, aku terlalu mengharapkanmu saat itu bahkan hingga saat ini. Aku tak akan memaksa pihak manapun untuk membenarkan pernyataanku, aku tak meminta kepada siapun bahkan kepada Tuhanku untuk mempersatukan kita. Karena aku tau dampak yang kan terjadi, semoga langkah kita yang terbenteng oleh keyakinan ini selalu berdampingan dengan indah, aku berharap untuk dapat membuka hati yang termenung ini, bukan mencoba melupakanmu atau mengacuhkanmu, tapi mencoba membangun keberanian untuk menyapamu kembali dengan keadaan yang lain.

-Tak harus aku gadaikan Iman ini walau cinta hadiahnya-

Untunglah kita memiliki keyakinan yang kuat, jadi kita tak harus menggadaikan iman kita untuk cinta kita. Biarkanlah cintaku yang berbeda ini menanndakan kuatnya iman ku kepada Tuhanku. Aku relakan kau memilih imanmu sesuai dengan ajaranmu, dan biarkan aku memilih pasanganku dengan keyakinanku. marilah kita bertemu dengan keyakinan berbeda kita saat bahagia nanti. Dan marilah kita berpegang dengan ajaran kita beserta tangan yang bergandengan erat dalam kesatuan damai.

 

 

Pict:https://www.google.co.id/search?q=menggadaikan+iman&biw=1280&bih=693&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjK4rbX4tbMAhXjMqYKHdZiB9oQ_AUIBigB&dpr=1#tbm=isch&q=iman+kita+yang+berbeda&imgdii=-vqcfao7Oo73MM%3A%3B-vqcfao7Oo73MM%3A%3BLnlcPg5vsjnPEM%3A&imgrc=-vqcfao7Oo73MM%3A

  • view 114