Buket Hidup Yang Tak Sempurna

Setiawan Tri Hardiyanto
Karya Setiawan Tri Hardiyanto Kategori Lainnya
dipublikasikan 15 April 2016
Buket Hidup Yang Tak Sempurna

Terbelenggu oleh kebencian yang ada di dalam hatiku yang terkutuk, aku mengalah bersama hati yang kotor, aku terbuai oleh dengki yang menjeratku kedalam kepicikanku, ya akulah manusia biasa yang bersumber dari kebodohan, aku sedikit bingung kenapa Tuhan menciptakan sifat itu di dalam lahiriahku, aku terngiang-ngiang dengan antonym kebaikan sikap dasar manusia.

Tapi semua itu tak membuat aku berkubang dengan kenistaan hati dan pikiranku sendiri terhadap orang lain, aku masih belajar untuk merangkai buket bunga kebaikan, ku coba menyatukan bunga ikhlas, bunga syukur, bunga tulus, dan banyak lagi bunga yang akan ku rangkai dalam satu wadah yang tak terjangkau oleh kemunafikan, kebodohan, fitnah, dan kebencian. Bukan hal yang mudah untuk merakit bunga-bunga tersebut karena aku harus mendapatkan ditempat-tempat yang kadang sangat sulit ku jangkau. Nah itulah sifatku, berusaha menjangkau yang sulit di ambil, “kenapa aku tidak menanam bunga-bunga tersebut?” , ya aku harusnya mencari bibit unggul untuk menyemainnya. Darimana aku mendapatkannya? Sedangkan aku bersumber dari ketidaktahuan. Bersyukurlah aku karena Dia Sang Maha Pemberi meberikan satu wadah bibit yang aku inginkan, Tuhan memberikanku bibit itu dari sang pencerah dunia dan penutup akhir zaman. Aku mulai berusaha menjaga dan menumbuhkan bibit itu, melibatkan dan mempercayakan Sang Maha Karya untuk ikut bekerja di dalam rangkaian buketku, ku teguhkan diriku untuk tidak berkilah-kilah akan karyaku.

Banyak ku melihat pohon dan buah kemunafikan nan rindang meneduhkan yang menyilapkan mataku, seolah-olah aku mencoba untuk berteduh, dan ternyata aku ikut bersandar untuk menjadi orang munafik, tapi lekas ku sadari bahwa itu akan membusukan  bibit bunga buketku, segeralah aku berlari sekuat tenaga kembali kerelung hatiku untuk menjaga bibit-bibitku yang sudah tumbuh tunas-tunas kecil, begitu bahagianya aku, hanya sekedar melihat tunas-tunas harapan hidupku, aku mulai bekerja keras untuk tetap menjaga pot-pot tergantung di angan hidupku. Jatuh bangun aku memindahkan tunas kedalam ladang pembesaran bibit-bibitku. Tak jauh beda dengan menanam pohon atau bunga banyak hal dapat merusak atau menggalkan panennya, aku terkulai lemah melihat bunga-bungaku layu karena ketamakanku, aku rakus mengumpulkan air untuk ku simpan, tapi aku lupa menyiramkan kepada bunga-bungaku. Kini aku harus bekerja lagi walaupun tidak dari awal, tapi membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menumbuhkannya. Kini aku bekerja dan membuahkan hasil, bunga-bunga yang akan kurangkai  sudah siap walau tidak sesempurna bunga Allah yang selalu di kiramkan kepadaku setiap pagi.

Aku akan berusaha untuk menanam bibit dan merangkai bunga untuk ku persembahkan kepada sang Maha Segalanya. Rasa syukur, ikhlas, teguh dan tulus semua itu adalah bibit bunga kebaikan yang akan selalu ku bagikan kepada siapapun yang membutuhkan,tidak melihat agama, suku, warna kulit, kasta, jenis kelamin dan umur.

Buketku ku persembahkan kepada Allah Sang Keindahan dan kalian yang mau menerimanya dengan apa adanya.

 

 

 

pict:https://www.google.com/search?q=buket&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjEpNKm4o_MAhWBw5QKHeFwDTAQ_AUIBygB&biw=1422&bih=818&dpr=0.9#imgrc=902NADKnK2tigM%3A

  • view 104