Bergemuruh Oleh Waktu

Setiawan Tri Hardiyanto
Karya Setiawan Tri Hardiyanto Kategori Lainnya
dipublikasikan 14 April 2016
Bergemuruh Oleh Waktu

Aku tersenyum kelu dalam riang, semerbak riuh nan hening  menerpa, ladang dingin membekukan kalbu, lamunanku tak bergerak seketika. Menerawang jauh di masa itu, dimana masa saat kita mengikat satu sama lain, kini ikatan itu telah mati. Figurku terprosok dalam kenangan yang sangat dalam, buruan nafas yang tersengal-sengal lemah bertanda, mata berkilau duka yang jauh masuk kedalamnya,  aku tak bisa mempertahankan kisah itu, aku tak menyesal, tapi aku terpukul, renggang waktu tersekat oleh keputusan. Ini memang kesalahanku dan memang seutuhnya menjadi kesalahanku, hentak bertabuh mewarnai perpisahan kita, riuh bergetar melesatkan angan.

Aku sendiri yang telah memadamkan kobar jodohku, aku sendiri yang mengurung dalam kegelalapan sunyi, aku sendiri yang  terobsesi oleh waktu, aku sendiri yang tidak membaik. Aku tidak memperbaiki diriku sendiri hingga aku harus ikhlas dalam gelayutan mimpi. Banyak orang berpendapat “Jodoh adalah saling memperbaiki” jika kita memberbaiki maka jodoh kita juga kan bertindak begitu pula, kalimat itu tidak tersemat oleh otakku, yah... aku memutuskan jodoh di tanganku sendiri, walaupun aku belum tau, kau jodohku atau tidak, pintu-pintuku sudah tertutup rapat untuk dimasuki oleh cinta, bukan terluka atapun trauma, tapi aku hanya ingin sendiri dalam redam, aku ingin membisu dalam gemuruh, aku ingin melambat dalam runtuh.

Kilat merayap di titik tertinggi, Guntur berdendang dalam kalutku, seolah aku merasa tersentak oleh hadirmu yang pilu, tak terasa periode kisah memasuki dimensi lain. Gugur berubah semi, burung berlantun riang yang menggambarkan betapa riuhnya hati yang berisi. Lambaian daun bersemi seolah menghadirkan satu kenangan, saat kita berkasih, bukan ga bisa move on tapi seketika memori ku memainkan drama yang telah usang, kini aku tau kau telah membuat satu keputusan yang sangat gila, kau berjalan sendiri dan mengikuti langkahku tapi kau mengambil arah yang berlawanan, kau tersipu lembut dan ramah menjabat,  aku berharap kita bertemu dimana dititik terbaik untuk bersapa kembali, tapi bukan untuk menjadi kekasih kembali tapi untuk SAHABAT,

Kisah kita terbilang aneh, kita sudah berpisah tapi seakan kita tak terpisah oleh apapun, gerbang terbentang berbedapun kita tetap bisa melihat satu sama lain, kau dan aku sudah terbentuk menjadi wadah, wadah kisah tak terkisah, semakin lama aku merasa nyaman dengan ini, aku tak berburu dengan keadaan, aku merasa kita telah dewasa dan menghargai pendapat satu sama lain, aku menjadi sedikit tenang jika kau mengerti. Aku merasa damai saat kita berdampingan tapi tak berkasih, aku merasa lebih bahagia daripada waktu itu.

  • view 104