Terimakasih Ayah..

Setiawan Tri Hardiyanto
Karya Setiawan Tri Hardiyanto Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 April 2016
Terimakasih Ayah..

 

Terimakasih ayah…hanya itu yang bisa ku haturkan padamu, hanya kata itu yang dapat aku ucapkan padamu, sematan kata yang tak terurai dalam lidahku. Lidah ku kelu untuk mengakuimu, tapi aku sadari tanpa dirimu aku bukan aku yang sekarang, aku pahami bahwa darah dan dagingmu mengalir di dalam setiap apa yang ada pada diriku, sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak untuk itu.

 

Entah engkau sadari atau tidak kau telah menanam biji penghianatan yang sangat menyakitkan ku, kau berdiri tegak di atas dukaku, duka yang tak berujung. Kau koyak-koyak hidupku, kau acuhkan aku, kau buang aku, kau tak akui diriku. Sudahlah aku tak mau menyalahkanmu atas semua ini, kau meimilih wanita itu dan hidup bahagia diatas puing-puing kesakitanku, kau pilih wanita lain kau tinggalkan ibuku demi syahwatmu, apa salahku hingga kau tinggalkan aku, jika kau bermasalah dengan ibuku, “apakah aku harus menerima getahnya ?”, entah engkau memahami atau tidak akan tanggung jawab mu,

 hah?....

 Tanggung jawab?

 Kenapa aku harus menanyakan itu?, ayah aku adalah anakmu juga yah…,

 

Aku sudah lelah “yah” , lelah untuk mengejarmu, lelah mengharapkanmu, lelah berimajinasi tentangmu.

 

Untuk istrimu yang telah memanggilmu suami, sunggu luar biasanya dirimu mampu merusak kehidupanku, aku hanya sekedar mengingatkan mu “wahai wanita terhormat “ yang merebut ayahku dari sisi kami, kau boleh mengambil dirinya dari ku tapi kau tak bisa mengambil harapan kami akan Tuhan. Kau terkekeh seakan kau menang melawan musuh tapi itu adalah awal diamana kalian akan menerima buah yang kalian tanam terhadap kami, tapi aku tidak akan menyalahkan mu seutuhnya, karena wanita terhormat sesungguhnya adalah wanita yang menghargai wanita lain, tapi sudahlah itu semua sudah terjadi.

 

Wahai ayahku, bolehkah aku berpesan untukmu?, didiklah adik-adiku dari wanitamu menjadi anak yang pemberani, anak yang terhormat, anak yang teguh dan bersahaja. tapi aku ragu akan itu karena dari dirimulah aku menilai itu.

 

Terimakasih telah menghadirkanku, terimakasih untuk luka-luka yang kau goreskan.

 

Oh iya…aku hampir lupa, aku setiap malam berdoa kepada Tuhan, doa ini adalah doa yang di ajarkan oleh wanita yang kau sakiti, wanita yang kau renggut kebahagiannya, wanita yang kau tinggalkan saat dia harus berjuang demi diriku. Begitu luar biasanya dirinya, atas kesakitannya pun masih mengingatmu dan berdoa baik untukmu dan keluarga barumu. Oh iya ayah…maafkan aku ya tidak menyematkan namamu di namaku,bukannya aku tidak mau,tapi aku takut di kemudian hari nama itu membuat aku tersakiti lebih daripada ini, dan maafkan aku telah membuang fotomu yang gagah memakai seragam kebesaranmu, aku takut, aku tak memiliki hati sebesar ibu ku untuk memandang mu walau hanya fotomu.

 

Tapi ayah, ibu sudah berpesan kepadaku sebelum dia harus pulang untuk bermahda kepadaNya, dia bilang, aku tidak boleh dendam sama ayah, tidak boleh punya sifat seperti ayah, jadi walau aku tidak memiliki keberanian untuk menyematkan namamu dan memandang fotomu aku akan berani merawatmu  jika suatu saat nanti adik-adikku dari wanita mu menyakitimu aku sudah menyiapkan wadah yang sangat besar di dalam hidupku untuk mu walaupun bukan hatiku. Aku sudah siap untuk menjemputmu diamanapun kau berada, aku sudah relakan kesakitanku yang lalu untuk bersamamu,

Aku ingin menjadi sahabatmu, sahabat saat kau terluka, aku tak berharap lebih akan kebahagian yang kau berikan nanti jika kita bersama, aku akan menutup semua bekas-bekas luka yang kau torehkan dengan adanya engkau kelak.

 

Kini ayah taukan?, sekarang aku sendiri, aku terhampa oleh waktu, aku tersenyap oleh keadaan.

Jika kau ingin kembali maka kembalilah pintuku masih terbuka untukmu.

Semoga lantunan doaku setiap malam tidak melukaimu seperti penghinatanmu yang senantiasa melukaiku.

 

Terimakasih ayah….

  • view 252