Pertemuan yang Lain

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 17 Februari 2018
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Fiksi Remaja

3.6 K Hak Cipta Terlindungi
Pertemuan yang Lain

Dalam hidup selalu ada pemberhentian. Dalam hidup selalu ada jeda yang merupakan masa peralihan menuju tahapan yang baru. Sederhananya, seperti ketika lulus taman kanak-kanak, lulus sekolah dasar, lulus sekolah menengah pertama, lulus sekolah menengah atas, dan lulus kuliah. Masa sebelum kelulusan adalah jeda, jeda untuk mempersiapkan kita menuju tahapan baru, yaitu pendidikan tinggi. Tentu saja jeda tidak hanya pada kehidupan pendidikan, tetapi juga aspek kehidupan kita yang lain.

Sore itu, Kama pulang agak terlambat karena harus menyelesaikan beberapa artikel Majalah Sekolah. Seperti biasa dia ditugasi untuk menjadi editor. Ini merupakan tugas terakhirnya sebelum digantikan dengan pengurus yang baru. Kelas XII adalah masa tinggalkan semua kegiatan dan belajarlah yang rajin jika ingin masuk ke universitas yang bagus. Kama merasa harus menyelesaikan seluruh tugasnya di sekolah karena menganggap rumah bukanlah tempat yang kondusif untuk mengerjakan pekerjaan. Seperti Mas Wibi yang berakhir nongkrong di angkringan untuk mengerjakan skripsinya. Katanya waktu itu, “Di rumah seharian cuma dapet 3 paragraf doang, kalau ngerjain diluar 4 jam bisa nyelesein 1 bab.”

Begitulah rumah dengan segala kenyamanannya.

Sore itu, entah kenapa Kama tiba-tiba ingin buang air kecil dan tidak bisa ditunda hingga pulang ke rumah. Dia mencari kamar mandi terdekat yaitu kamar mandi didekat kantin yang terletak dibagian belakang sekolah. Kamar mandi itu hanya ramai ketika jam istirahat karena jaraknya paling dekat dengan kantin. Selebihnya, kamar mandi itu kosong tidak ada yang menggunakan. Kama sedikit merasa takut karena sore itu sekolah sudah sepi, kecuali anak-anak yang masih bermain basket di lapangan. Tapi apa daya, hasrat ingin pipis harus segera dipuaskan. Kama berjalan cepat agak berlari agar urusannya segera selesai. Sesampainya didepan kamar mandi, Kama melihat kerumunan anak laki-laki kurang lebih berjarak 350 meter dari kamar mandi, sepertinya sedang merokok karena Kama melihat kepulan asap diatas kerumunan itu. Mana mungkin kan mereka bermain api unggun sore-sore begini. Sudah menjadi rahasia umum jika bagian belakang sekolah merupakan tempat anak-anak SMA melakukan sesuatu yang kata bapak/ibu guru tidak boleh dilakukan seperti merokok, membolos, berdua-duaan dan bahkan ada yang pernah memergoki siswa-siswi yang sedang berciuman. Kawasan didekat kantin merupakan tempat yang sangat strategis untuk melakukan semua itu. Apalagi di sore hari, dimana kantin sudah dalam keadaan kosong, dan jarang sekali satpam sekolah memeriksa kedaerah sana, selain itu juga banyak tempat persembunyian jikalau mereka akan terpergok melakukan hal-hal terlarang.

Kama semakin ingin segera menyelesaikan urusannya dan pergi dari tempat itu. Setelah selesai dan keluar kamar mandi, salah satu anak dari kerumunan yang tadi Kama lihat menggunakan Kamar mandi disebelahnya, kamar mandi pria dan entah kenapa mereka berdua keluar bersamaan. Memang waktu yang dibutuhkan laki-laki untuk buang air kecil lebih singkat dibandingkan perempuan.

“Hei”, sapa anak itu. Rambutnya sedikit gondrong. Kama bisa mencium bau rokok dari tubuhnya.

Kama membalasnya dengan sebuah anggukan. Kama tidak mengenal anak didepannya. Sepertinya tidak pernah sekelas juga dengan Kama tapi entah kenapa Kama familiar dengan mukanya.

Berbalas anggukan singkat, Kama mempercepat langkahnya menuju gerbang. Anak itu mengikuti Kama, berjalan disebelahnya, “Kita pernah dihukum bareng waktu MOS dulu”, katanya tiba-tiba. Kama menoleh, kembali memandang si muka familiar. Otaknya berputar mengulang memori sekitar 2 tahun lalu. Ingatan yang sudah dia lupakan karena bukan ingatan yang menyenangkan. Masa Orientasi Siswa (MOS) merupakan masa “unfaedah” menurut Kama. Karena tidak ada memori yang menyenangkan didalamnya selain bertemu teman-teman baru. Selebihnya adalah masa pembalasan kakak kelas ke adik kelas karena dulunya mereka juga diperlakukan seperti itu oleh kakak kelasnya. Teriakan-teriakan nggak penting karena sesungguhnya itu adalah sekolah umum, dimana pendengaran setiap murid didalamnya 100 % normal. Tugas-tugas tidak masuk akal yang tujuannya hanya mengerjai/mempermainkan adik kelasnya alias bikin susah hidup mereka. Belum lagi hukuman-hukuman tidak masuk akal yang diakibatkan dari kesalahan yang sama tidak masuk akalnya. Begitulah kepercayaan Kama, karena sedari kecil kedua orang tuanya tidak pernah membentaknya, tidak pernah berteriak-teriak didepan mukanya. Oleh karenanya dia sangat tidak menyukai masa penuh teriakan itu. Kama bahkan sudah lupa kenapa dulu dia dihukum.

“Nggak ingat ya?”, tanya anak disebelahnya. Kama menggeleng, “Maaf”. Sesungguhnya dia malas mengingatnya lagi.

“Perkenalkan, namaku Bayu”, Bayu menyodorkan tangannya. Kama tiba-tiba menjadi manusia paling apatis diseluruh dunia karena fakta dia tidak hapal teman seangkatannya yang dulu pernah dihukum bersamanya.

 “Kama”, Kama membalas jabatannya. “Sudah tahu kok”, jawab Bayu singkat sambil tersenyum.

Kama jadi salah tingkah. “Maaf”, katanya bingung harus menanggapi seperti apa.

“Haha. Santai saja. Aku memang bukan siswa populer kok. Eh mau aku bantuin mengingatnya?”, tanya Bayu. Sesungguhnya Kama ingin sekali menjawab “tidak” tapi rasa bersalahnya karena tak kenal teman sendiri menyebabkan anggukan ragu-ragu yang berarti iya.

Bayu mengingat setiap detailnya. Mereka dihukum karena tidak membawa jus durian campur semangka. Kama jadi ingat waktu itu dia benar-benar lupa karena sore sebelumnya tiba-tiba nenek pingsan dan harus dirawat di rumah sakit. Karena tentu saja nenek lebih penting ketimbang tugas tak masuk akal itu, Kama ikut mengantar ke rumah sakit. Ayah sedang diluar kota, Mas Wibi masih di Jogja, dan Ibu juga sedang diluar kota bersama teman-teman arisannya. Ibu menelepon Kama menyuruhnya ke tempat nenek karena disana hanya ada Bibi Arta (adik ayah) dan membantu bibi mengurus nenek. Ayah dan Ibu baru sampai rumah sakit sekitar jam 4 pagi. Kama baru pulang ke rumah selepas subuh dan sampai rumah sudah sekitar jam setengah 6. Mandi tanpa sarapan dan bergegas ke sekolah. Tentu saja hari itu dia tidak memepersiapkan tugas yang baru diberikan kemarin. Bayu bercerita pagi itu ada beberapa anak dihukum, termasuk Bayu dan Kama. Kama juga kembali teringat ketika dia mencoba menjelaskan alasannya, baru buka mulut 1 centimeter, sudah disemprot duluan oleh kakak kelas sok galak didepannya.

“Waktu itu, kamu nggak mengutarakan alasannya kenapa Ka? Tidak seperti yang lain”, tanya Bayu.

“Gimana bisa Bay? Baru buka mulut sudah disemprot duluan. Jadi malas”, jawab Kama.

Kama memperlambat jalannya. Entah kenapa Kama merasa bersalah, karena sudah menilai Bayu berandalan, anak nakal yang tidak perlu diajak ngobrol hanya gara-gara melihat dia merokok. Sepertinya Bayu ingin mengenal Kama, dan tidak ada salahnya menambah teman, bukan?

“Kamu sendiri kenapa nggak ngerjain tugas saat itu?”, tanya Kama balik.

“Males aja. Aku sudah biasa dihukum. Aku kaget melihat tipe anak seperti kamu dihukum”

“Tipe anak seperti aku?”, tanya Kama lagi.

Bayu mengangguk, “Iya. Tipikal anak baik-baik yang tidak mungkin dihukum karena melakukan pelanggaran”

Kama jadi teringat Ayu yang menganggapnya juga sebaik itu. Kama menceritakan alasannya ke Bayu. Bayu mengangguk-angguk paham.

“Lalu, kenapa kamu nggak bilang ke mereka alasanmu?”, tanyanya lagi.

“Mereka nggak akan ndengerin juga Bay. Orang kaya mereka, kakak kelas sok galak itu ngehukum kita bukan karena salah, tapi buat memuaskan dendam masa lalu mereka doang”, jawab Kama sebal.

“Hahaha. Kamu sebegitu nggak sukanya sama mereka ya?”

“Sama MOS sih tepatnya.”

Dan sampailah Kama di gerbang sekolah. Sore itu, Kama tidak naik angkot tetapi berakhir dengan diantar Bayu hingga depan rumah. Untungnya lagi nggak ada Mas Wibi di rumah, bisa runyam urusan, batin Kama.

Azan maghrib sebentar lagi berkumandang, Kama segera masuk ke rumah. Pintu rumah terkunci. Kama memeriksa HP-nya, ternyata Ayah dan Ibu sedang di rumah nenek. Seperti biasanya kunci dititipkan ke tetangga.

Sore itu Kama benar-benar belajar peribahasa lawas “Don’t judge the book by its cover”.

Siapa didunia ini yang nggak membeli buku berdasarkan halaman sampulnya. Pasti mereka yang melihat-lihat buku di toko, tanpa informasi pengarangnya, jalan ceritanya, hal pertama yang dilihat pertama kali adalah halaman sampulnya. Hal pertama yang bisa dilihat adalah halaman sampulnya. Adalah sebuah kebohongan jika ada yang bilang “I dont judge the book by its cover”. Jika ada yang bilang seperti itu, pasti dia sudah memiliki informasi siapa pengarangnya atau spoiler jalan ceritanya. Jika sama sekali tak ada informasi pasti judge the book by its cover. Hanya saja yang membedakan adalah apakah dia memberikan kesempatan kepada dirinya untuk melihat sinopsisnya, membuka bab-bab didalamya atau mengembalikan buku itu lagi ke rak-nya. Apakah kita mau memberikan kesempatan kepada orang tersebut untuk memperkenalkan dirinya kepada kita dan apakah kita mau mendengarkan kisah mereka untuk lebih mengenalnya.

  • view 71