Kesabaran ada Batasnya

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 07 Oktober 2017
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

2.1 K Hak Cipta Terlindungi
Kesabaran ada Batasnya

Pagi hari ini berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Untuk pertama kalinya Kama merasa begitu malas untuk berangkat sekolah hari ini. Hampir saja dia bolos sekolah tetapi malas kalau harus bercerita tentang masalahnya kepada Ayah dan Ibu. Kama begitu malas karena di sekolah nanti, Ayu pasti tak henti-hentinya akan meminta maaf karena tidak memberitahu perihal dirinya dan Ario. Kama sudah mengenal Ayu dari SMP. Kama memang marah dan sedang tidak dalam kondisi untuk ingin mendengar permintaan maaf. Akan tetapi, kenyataannya Kama masih harus berangkat sekolah. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk berangkat tepat waktu. Tepat waktu bel masuk, jadi minimal tidak perlu berinteraksi dengan Ayu di pagi hari. Kama berhasil menghindari Ayu di pagi hari, tapi tidak di jam istirahat.

“Ka, ke kantin yuk”, Ayu menghampiri meja Kama. Kama menggeleng.

“Belum laper Yu. Kamu ajak yang lain aja”, jawab Kama sambil membuang muka.

“Kamu marah ya. Maaf ya, aku nggak bermaksud..”, Kama menaikkan tangannya, memberi kode Ayu agar berhenti bicara.

“Cukup Yu, kamu nggak perlu minta maaf. Aku lagi badmood aja hari ini.”

“Aku boleh jelasin nggak?”, tanya Ayu lirih. Ayu juga sudah mengenal betul Kama. Ayu tahu betul Kama pasti malas mendengar permintaan maafnya. Ayu tahu dia salah karenanya Ayu masih harus tetap meminta maaf.

Kama menggeleng, “Nanti aja ya. Aku mau ke perpus”. Kama beranjak dari mejanya melenggang pergi, meninggalkan Ayu dengan rasa bersalahnya.

****

Di kantin, gantian Ayu yang memasang muka berlipat.

“Kamu kenapa Yu? Sakit?”, tanya Ario khawatir. Ayu hanya menggeleng. Didepannya, Langit dan Alia memperhatikan.

“Kayanya kita perlu double date nih”, Ajak Alia mengalihkan pembicaraan.

“Ide bagus tuh”, timpal Ario. “Gimana Yu, setuju nggak?”, tanyanya ke perempuan disebelahnya.

Ayu hanya mengangguk. Pikirannya melayang kemana-mana. Melayang ke sahabatnya yang sedang marah kepadanya. Memikirkan apa yang harus dia perbuat untuk memeperbaiki hubungan mereka berdua.

“Yu, kamu kenapa sih? Cerita dong. Kan aku bukan peramal yang bisa tahu apa yang kamu pikirin.”,Ario terlihat khawatir melihat pacarnya yang no response. Ayu justru berdiri, “Aku mau balik kelas dulu ya”, dan begitu saja dia melenggang pergi tanpa menggubris Ario.

Ario menaruh beberapa lembar uang di meja. “Aku titip bayarin ya Lang” dan kemudian dia beranjak pergi mengejar Ayu. Ario menarik tangan Ayu, membawanya ke samping halaman sekolah. Mengajaknya bicara.

“Kamu kenapa sih Yu? Cerita dong. Aku khawatir”, cerocos Ario. Ario memandang kedalam mata Ayu. Ayu mengalihkan pandangan. Ario mencoba menebak.

“Kama ya? Dia marah sama kamu gara-gara kita jadian?”, tanya Ario lagi, mencoba menebak. Ayu masih diam saja.

“Iya kan?”, kali ini suara Ario sedikit meninggi. Kesabarannya sudah mulai berkurang. Ayu mengangguk takut-takut.

“Aku perlu minta izin sama dia buat jadi pacar kamu?”, suara Ario mulai melembut.

“Jangan”, jawab Ayu lirih.

“Aku yang salah nggak pernah cerita-cerita. Biar aku selesaikan sendiri”,kata Ayu lagi.

“Kamu nggak cerita karena takut dia marah kan? Takut dia ngelarang karena kamu tahu dia anti pacaran. Biar aku bantu jelasin.”

Ayu masih menggeleng. “Kamu nggak tahu dia. Nanti marah tambah buruk keadaannya. Sudah biar aku saja yang ngomong. Kamu nggak usah ikut campur ya Yo”, Ayu akan beranjak pergi. Ario menarik tangannya lagi.

“Terus gimana kalau misal dia ngelarang? Kita udah pernah bicarain ini sebelumnya kan? Kita bakal ngomong berdua. Kamu lupa?”, tanya Ario lagi.

“Setelah aku pikir-pikir lagi…..”

Ario memotong Ayu, tahu apa akan dia katakan, “Kita sudah pernah bahas ini sebelumnya Yu.”, Ario mulai menunjukkan ketidaksabarannya, “Apa harus kamu ikutin Kama? Apa kamu harus ikut anti pacaran hanya karena teman kamu nggak pacaran? Apa kamu harus ngorbanin perasaan kamu sendiri cuma demi keyakinan teman kamu?”

Ayu masih diam saja hingga dia melihat Kama berjalan ke arah mereka. Turun dari tangga samping halaman sekolah yang merupakan penghubung ke perpustakaan.

“Ka….Ma…”, hanya itu yang keluar dari mulut Ayu. Ario menoleh, kebingungan harus bertingkah.

Kama menyerahkan sebuah komik, “Ini baru nemu kemarin waktu ke toko buku. Seri terbaru komik Miiko kesukaan kamu.” Ayu menerima komik tersebut, Kama menarik nafas melanjutkan, “Aku nggak nyangka kamu mikir gitu tentang aku Yu. Aku nggak pernah melarang siapapun buat pacaran. Termasuk kamu. Aku nggak pernah menolak orang lain berpacaran. Silakan saja. Toh itu bukan urusanku. Termasuk kamu juga. Aku hanya sebal, kenapa kamu nggak pernah cerita dan aku harus mendengarnya dari orang lain. Dan yang bikin aku sebal lagi barusan karena mendengar alasan kamu seperti itu.”

“Aku minta…”, kata Ayu.

Kama kembali memotong, “Sudah nggak perlu minta maaf. Nggak ada yang salah. Hanya kesalahan persepsi dan putusnya komunikasi. Nggak usah merasa bersalah ya Yu.”, Kama mencoba berbicara sambil tersenyum.

“Dan lagi jangan sampai kamu putus sama Ario gara-gara ini. Aku malah yang jadi merasa bersalah.”

“Maaf aku salah sangka Ka”, kata Ario.

“It’s okay Yo. Mungkin karena kita nggak saling kenal juga. Wajar kalau salah sangka. Yang sudah kenal lama saja masih salah paham. Sudah ya, anggap hari ini nggak pernah terjadi.”

Ayu semakin tidak enak dengan Kama. Ario juga.

“Tapi aku tetap harus minta maaf Ka.”, kata Ayu.

“Mungkin aku juga perlu minta maaf”, kata Kama balik.

Hubungan Ayu dan Kama tidak pernah sama lagi sejak kejadian itu.

****

Begitulan persahabatan, terkadang kita meributkan hal yang begitu sepele. Sepertiku dan Ayu. Setelah aku pikir lagi, betapa sepelenya urusan pacar-pacaran ini. Saking sepelenya justru malah menjadi bara api permasalahan yang membesar. Aku sama sekali tak sadar jika begitu pandangan Ayu terhadapku. Apakah aku terlalu berlebihan selama ini?

Kama menutup buku diary-nya. Sudah 2 minggu sejak kejadian itu. Sudah 2 minggu pula Kama tidak banyak berinteraksi dengan Ayu. Pulang sekolah 2 minggu ini terasa lebih sepi karena biasanya Kama menunggu bersama Ayu. Tentu saja Kama memiliki teman yang lain, tapi rasanya berbeda dengan kehilangan sahabat terbaik. Sore itu, Kama memutuskan untuk ke alun-alun, mengunjungi tempat kerja Ibu di rumah makan. Tiba-tiba HP nya berdering.

“Halo, benar ini kakaknya Bagas?”, Kama bingung. Dia bukan kakaknya anak yang bernama Bagas ini. Tetapi, dia merupakan teman kakak anak yang bernama Bagas itu. Bagas adalah adik dari Ayu.

“Ah iya. Ini siapa ya?”, jawab Kama.

“Saya Firda, gurunya Bagas. Bagas pingsan tadi waktu menunggu jemputan sekolah. Hingga sore tidak ada yang menjemput. Saya menghubungi orang tuanya tidak diangkat, lalu saya menghubungi nomor yang lain.”

“Dimana Bagas sekaran Bu?”, tanya Kama khawatir.

“Di Rumah Sakit Harapan Indah”

“Saya akan segera kesana”, jawab Kama.

***

Kama mengabari ibunya, dan segera menuju Rumah Sakit. Sesampainya disana, Bu Firda bercerita bahwa sebelumnya, beliau menghubungi nomor kakaknya tetapi tidak tersambung. Lalu Bu Firda ingat bahwa Bagas pernah ditelpon oleh nomor Kama sebelumnya, makanya bu Firda menghubungi nomor Kama dan ternyata nomornya aktif dan tersambung. Memori Kama meningat kembali kejadian beberapa bulan lalu dimana Ayu meminjam HP nya untuk menjemput Bagas. Waktu itu HP nya sedang low battery. Kama menghela nafas lega, untung waktu itu, Ayu menggunakan Hpnya. Di Rumah Sakit, bu Firda bercerita bahwa 3 bulan terakhir Bagas sering sekali telat dijemput. Bagas jarang menghabiskan makan siangnya dan sering murung. Padahal sebelumnya Bagas adalah anak yang selalu bersemangat dan doyan makan. Ternyata Bagas pingsan karena dehidrasi kurang cairan dan asam lambung yang meningkat. Mungkin ini akibat dari tidak teratur makan dan stres. Apa yang bisa menyebabkan anak seusia Bagas, kelas 3 SD stres?, Kama membatin dalam hati,

Kama mulai berpikir bahwa ada yang terjadi dalam keluarga Ayu.  

Kama mempersilakan bu Firda pulang dan Kama masih terus menghubungi HP Ayu yang sedari tadi tidak aktif. Kama mengurus administrasi Rumah Sakit dan mengajak Bagas pulang.

“Bagas tidak mau pulang. Bagas mau disini saja.”, ucap Bagas.

“Tapi nanti Mama dan Papa Bagas khawatir”, bujuk Kama. Bagas masih bergeming. Tidak mau pergi.

“Yasudah kalau begitu, kakak telfon Kak Ayu ya?”

Bagas masih menggeleng. “Nggak usah kak, Kak Ayu juga sama. Nggak pernah dirumah, nggak pernah main dengan Bagas lagi.”

“Yasudah kalau begitu, Bagas kakak antar pulang, kakak temani sampai kak Ayu pulang. Kakak temani bermain.”, kata Kama lagi.

Bagas menoleh ke arah Kama, menatap dengan penuh harap. “Benarkah?”. Kama mengangguk dan Bagas mau pulang. Sudah jam 10 malam dan Ayu tak kunjung pulang. Kama masih mencoba menghubungi Ayu tetapi HPnya masih mati.

Ayu tidak memiliki nomor Ario, terpaksa Ayu menelepon Langit menanyakan nomor Ario untuk tahu keberadaan Ayu.

“Ayu lagi bareng kita berempat Ka. Mau ngomong?”, tanya Langit diseberang telepon.

“Iya Lang, bisa kasihin ke Ayu?”

Langit menyerahkan HP nya ke Ayu.

****

Ayu berlari masuk ke rumahnya dan mendapati Bagas yang sudah tertidur di ruang keluarga dengan Kama disampingnya. Ada Ario juga yang mengantar.

“Bagas baik-baik saja kan?”, tanya Ayu khawatir. Kama mengangguk.

“Kalau gitu, aku pamit pulang dulu ya.”

“Terimakasih Ka”, kata Ayu.

Kama menepuk pundak Ayu, “Kita masih sahabatan kok Yu. Jadi wajar kalau saling tolong menolong. Santai aja”, jawab Kama. Kesebalannya pada Ayu entah sudah menguap kemana. Kama juga tidak mengharapkan penjelasan apa-apa. Jika Ayu mau pasti nanti juga akan dijelaskan tak perlu bertanya macam-macam. Malam itu, Kama diantar pulang Ario karena sudah tidak ada ojek atau angkot yang lewat lagi. Sepanjang perjalanan, Kama mendengar semuanya dari Ario.

“Thanks ya Ka. Malah jadi ngerepotin. Harusnya aku yang jemput Bagas tadi.”

“Udah kejadian ini Yo. Dulu sebelum kalian pacaran, aku sudah biasa jemput Bagas. Santai aja”

“Sorry juga udah bikin kalian berdua jadi kaya gini.”, kata Ario lagi.

“Udah lupa aku. Nggak usah dibahas lagi ya.”

“Oh, maaf. Ayu lagi banyak beban Ka. Semoga kamu ngerti.”, Ario mencoba menjelaskan. Kama membatin, beban apa yang Ario maksud. Kama tidak menjawab dan itu merupakan akhir percakapan mereka dimotor.

****

Pelajaran Fisika yang kosong alias tidak ada gurunya alias gurunya ada kesibukan lain layaknya sebuah oase di padang pasir. Fisika merupakan salah satu pelajaran paling menyusahkan bagi sebagian besar siswa. Kama mendatangi meja Ayu. Menyerahkan sebuah surat.

“Boleh kamu buang kok Yu kalau kamu nggak suka. Tapi dibaca ya.. hehe”, kata Kama ramah.

****

Sorry Yu mesti banget pakai acara surat-suratan. Kamu tahu kan kalau aku nggak pandai berbicara langsung. Nggak pandai untuk mengungkapkan perasaan secara langsung. Aku khawatir Yu sama kamu. Kenapa timing nya pas banget ya habis kita berantem nggak jelas lalu Bagas pingsan dan aku yang kebetulan ditelepon sama Bu Firda. Aku nggak tahu apa yang sedang kamu alami sekarang tapi semoga kamu baik-baik saja. Aku nggak akan minta kamu berbagi masalahmu karena itu sepenuhnya hak prerogatifmu untuk bercerita atau tidak tapi semoga kamu baik-baik saja. Semoga pertengkaran nggak penting kita kemarin nggak menambah bebanmu ya Yu. Semoga kamu baik-baik saja.

Air mata Ayu berlinang. Dia tahu bahwa Kama selalu baik dan hingga sekarangpun sahabatnya masih tidak berubah. Dia yang berubah.

****

Sore itu, Kama seperti biasa menunggu angkot didepan sekolah. Akan tetapi, sudah beberapa angkot lewat, Kama tidak berminat untuk pulang. Dia masih ingin duduk saja didepan sekolah sambil melihat hiruk pikuk kota kecil tempatnya menuntut ilmu. Tiba-tiba seseorang duduk disebelahnya, seseorang yang begitu dia kenal. Sahabat Kama sejak lama.

“Aku iri sama kamu Ka”, katanya tiba-tiba.

Kama tidak mengerti, “Maksud kamu apa Yu?”

Ayu memandang Kama, terlihat jelas bekas air mata disudut matanya.

“Aku iri sama kamu Ka. Kamu punya segalanya. Orang tua yang selalu support kamu, yang selalu kasih tahu mana yang benar dan salah, kakak yang mengayomi kamu, dan kebaikan hati kamu.”

Kama masih diam saja, mencerna situasi dan perkataan Ayu.

Suara Ayu bergetar, “Berbeda sekali denganku, orang tua ku selalu bertengkar, bahkan menyatakan akan bercerai. Aku harus mengurus adik yang masih kecil dan belum mengerti situasi kedua orang tua kita. Mama dan Papa lebih sering diluar, lari dari masalah mereka berdua. Mereka seperti lupa bahwa mereka masih memiliki dua anak yang harus diurus”, Air mata Ayu tumpah. Kama bingung harus bilang apa.

Kama memegang tangan Ayu, merangkulnya. “Aku nggak tahu harus ngomong apa Yu. Aku juga nggak bisa menyelesaikan permasalahan kamu. Aku hanya bisa bilang yang sabar ya Yu.”, Kama tidak pernah bisa merasakan kesedihan Ayu karena nyatanya keluarga nya baik-baik saja. Kama hanya bisa mencoba merasakan apa yang Ayu rasakan.

“Kamu tumben nggak nasehatin aku Ka”, kata Ayu jenaka. “Kan biasanya kamu cerita macam-macam”

“Aku takut menggurui Yu. Aku nggak tahu apa yang kamu rasain. Aku takut kamu salah paham lagi”.

Ayu tersenyum, “Nggak apa Ka. Temanmu ini lagi butuh nasehat.”

“Hmmmm.. coba aku ingat-ingat ya.”, kata Kama sambil berpikir keras.

“Ah iya, kalau begitu aku ceritain tentang Nabi Ayyub saja ya. Kamu pasti sudah tahu.”\

Ayu menggeleng, “Ngejek kamu Ka. Orang tua ku mana kenal seperti itu.”

Kama jadi tidak enak hati. “Ah, maaf” dan Kama pun mulai bercerita.

[ Kisah salah satu Nabi ini pasti hampir semua orang sudah tahu. Tentang salah seorang Nabi yang diberikan cobaan bertubi-tubi tak ada habisnya. Ayyub memiliki segalanya, kekayaan, anak-anak dan istri yang baik. Harta tahta wanita, dia miliki ketiganya. Hingga semuanya diambil darinya. Tubuh yang sehat, anak-anak yang dia sayangi dan harta yang dia kuasai. Ada yang mengatakan bahwa Ayyub menjalani ujiannya selama 18 tahun. Hanya ada dia dan istrinya yang setia merawatnya. Seluruh tubuhnya terjangkit penyakit kecuali hati dan lidahnya. Saking lama penyakit yang dideritanya hingga Ayyub dikucilkan oleh masyarakat. Dan kalimat yang diucapkan oleh Ayyub adalah “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” (Sesungguhnya kami milik Allah, dan segalanya akan kembali pada Allah).

Dalam kondisi yang begitu memprihatinkan dan dalam waktu yang lama, istrinya berkata, “Duhai Ayyub, seandainya engkau memohon kepada Tuhanmu niscaya dia akan menyembuhkanmu.”

Lalu, Ayyub menjawab, “Aku telah menjalani hidup dalam keadaan sehat selama 70 tahun maka sepantasnya aku bersabar kepada Allah dalam menjalani ujian yang lebih pendek dari 70 tahun.

Hingga akhirnya Ayyub melalui semuanya, dan semuanya kembali dalam bentuk yang lebih baik dari sebelumnya. Ayyub yang TIDAK PERNAH kehilangan kepercayaan kepada Tuhannya.

“Aku bukan Nabi, Ka.”, komentar Ayu.

“Siapa yang bilang kamu Nabi, Yu?”, tanya Kama.

“Iya aku nggak bisa sesabar itu. Kesabaranku berbatas. Sangat berbatas.”. kata Ayu lagi.

“Kita hanya bisa belajar Yu. Kita juga nggak dapat cobaan macam Ayyub kan? Masing-masing kita punya cobaan masing-masing dan nggak pernah ada buku manual bukan menyelesaikannya. Cuma Dia yang tahu penyelesaiannya. Standar sih, tapi memang kita harus bersabar. Mau bagaimana lagi? Mungkin kamu bisa membicarakan dengan orang tuamu. Toh kamu sudah cukup dewasa bukan untuk membahas masalah tersebut?”

“Mereka berdua tak pernah dirumah Ka. Kalaupun Mama di rumah, Papa enggak. Begitupun sebaliknya. Gimana bisa ngobrol?”, Ayu tersenyum satir

“Entahlah Yu, aku cuma bisa berdoa. Maaf ya”.

Ayu menegakkan badannya. Memeluk Kama. “Makasih ya dan maaf”. Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing.

****

  • view 34