Menunggu Pangeran Berkuda Putih, bernama Yusuf

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 11 Juni 2017
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

2 K Hak Cipta Terlindungi
Menunggu Pangeran Berkuda Putih, bernama Yusuf

Sudah sekitar 1 jam lebih Kama menunggu di warung pecel Bu Suyati hingga dia kehabisan obrolan dengan Bu Suyati dari bercerita tentang keluarga, pekerjaan, sekolah dan apa saja yang bisa dijadikan topik. Kama memutuskan untuk menelpon Ayu.

“Yu, udah selesai belum sih? Kok lama banget? Aku sampe jamuran nungguin kamu”, kata Kama dengan nada sebal.

“Astagaaa, Kama aku lupa”, terdengar Ayu merasa bersalah. “Aku lupa. Bener-bener lupa. Sekarang udah di rumah aku. Tadi dianterin sama Ario”

“Yaudah aku kesana sekarang. Tunggu. Jangan pergi”, Kama menutup teleponnya. Emosinya mulai meningkat. Meskipun begitu, dia tetap bisa mengontrolnya saat berpamitan ke Bu Suyati dan anaknya.

******

Sesampainya di rumah Ayu, terlihat beberapa motor didepan rumahnya. Kama memarkir motornya dan masuk ke dalam. Pintu depan terbuka dan terlihat beberapa pasang sandal dan sepatu. Di ruang tamu terlihat Langit, Tania dan laki-laki yang duduk disebelah Langit yang kalau tidak salah mengenali wajah adalah Ario, gebetan Ayu dan sepasang muda-mudi yang Kama baru saja melihat mukanya. Sepertinya teman seangkatannya tapi Kama tak ingat.

“Ka, udah ditraktir sama Ayu belum?”, tanya Tania. Kama memasang wajah bego. Tidak tahu. Ayu menepuk Tania. “Apaan sih Tan”, ucap Ayu malu-malu.

“Wah gawat nih, sobat sendiri nggak dikasih tahu.”, canda Tania.

“Itu Ayu sama Ario udah officially jadian”, kata perempuan yang tidak dikenal Ayu.

“Oooh”, komentar Kama, “Selamat ya Yu”, sambil tersenyum Kama menyalami Ayu sembari mengembalikan kunci motornya. Emosinya yang sudah naik tadi semakin naik lagi karena dia tidak pernah diberitahu sama sekali perihal Ario oleh sobatnya. Sama sekali. Bahkan perempuan yang nggak pernah Kama kenal lebih tahu dibandingkan Kama.

“Berkat Tania nih”, tambah laki-laki yang Kama juga tidak kenal itu.

Entah sudah bagaimana rupa wajah Kama sekarang. Kama mencoba bersikap senormal mungkin dan ingin segera pergi dari tempatnya sekarang. Yang awalnya dia mau mampir dan main di rumah Ayu sepertinya harus dibatalkan.

“Hmm.. Yu, aku langsung pulang aja ya. Udah ditelpon Ibu tadi”, kata Kama singkat.

“Oh, yaudah aku antar yuk.”, kata Ayu buru-buru.

Kama menggeleng, “Nggak usah Yu, aku naik ojek depan kompleks aja. Pamitin Mamamu ya.”

Ayu mengangguk, “Mama lagi pergi sama Papa Ka”

“Oh ya udah kalau gitu aku langsung aja. Duluan ya semuanya”, pamit Kama ke semuanya.

Tiba-tiba Langit berdiri, “Aku antar aja. Didepan nggak ada ojek kayanya tadi. Buru-buru pulang kan sudah ditunggu daripada nungguin ojek lama.”

“Nggak...”, belum selesai Kama bicara Langit dengan santainya sudah berjalan keluar kearah motornya. Wajah Tania sedikit berubah. Kama menjadi tidak enak. Tahu begitu tadi dia terima saja tawaran Ayu. Sekarang malah suasana jadi nggak enak. Ayu segera berdiri menggandeng tangan Kama, “Yuk, katanya mau pulang”, Kama menurut saja keluar.

“Aku diantar Ayu aja kalau gitu”, kata Kama tiba-tiba.

“Udah ayo naik aja. Tinggal berangkat nih”, jawab Langit santai.

“Lagipula nggak mungkin Ayu ninggal rumahnya. Nggak ada siapa-siapa selain adiknya sama Bibi.”, tambah langit lagi.

Kama memandang kearah Ayu meminta pertolongan. Ayu mengangguk saja. Akhirnya Kama naik dan sepanjang perjalanan Kama dan Langit hanya diam. Dibelakang Kama memikirkan topik apa yang mau diangkat. Mau membahas tentang mading, Kama lagi tidak berminat, membahas tentang kedekatan Ario dan Ayu apalagi, Kama malas sekali. Akhirnya selama Kama berpikir dan selama itu pula perjalanan menuju rumahnya. Sekitar 10 menit dari rumah Ayu. Kama turun dan mengucapkan terima kasih.

Didalam rumah dari jendela terlihat Mas Wibi melihat adiknya dibonceng oleh seorang laki-laki dan siap-siap untuk menjahili adiknya. Senyum jahil terkembang diwajah Wibi.

“Ciyeeeeee abis dibonceng siapa dek?”

“Apaan sih Mas.”,  jawab Kama sebal.

“Nggak mau cerita nih?”, goda Wibi lagi.

“Nggak”, jawab Kama singkat.

“Buuuuuuu... ini Kama abis dibonceng cowok”, teriak Wibi kemudian. Kama segera menendang kaki kakaknya, “Apaan sih mas”

“Siapa nak?”, tanya Ibu tiba-tiba muncul. Ayah juga penasaran.

“Ah, mas Wibi iseng banget sih”, Kama tambah sebal. Wibi tersenyum puas. Terpaksa Kama harus menjelaskan.

“Tadi pulang dari rumah Ayu. Mau ngojek nggak ada terus dianter deh. Gitu”, jelas Kama.

“Udah ah, Kama mau ke kamar”, segera Kama naik ke lantai 2 sebelum mas Wibi melancarkan serangan berikutnya.

*******

Sorenya, Kama sedang duduk santai di balkon sambil membaca buku. Tiba-tiba Ayah duduk disebelahnya. Kama menoleh.

“Sepertinya Ayah sudah lama nggak ngobrol sama Kama. Maaf ya, Ayah akhir-akhir ini sibuk nak”, kata Ayah tiba-tiba. “Sampai Ayah kadang lupa kalau anak perempuan Ayah sudah beranjak dewasa.”

“Jangan-jangan Ayah mau bahas yang tadi. Gara-gara mas Wibi nih.”, batin Kama.

“Ya, mau bagaimana lagi Yah, kan Ayah kerja juga buat sekolah Kama. Lagipula ada Ibu dirumah jadi Ayah nggak usah khawatir”, kata Kama.

Ayah tersenyum, “Iya dari dulu Ibu yang jadi perantara Ayah ke kamu, Wibi, yang cerita tentang kalian.”

Ayah adalah tipikal Ayah yang tidak banyak bicara tetapi memperhatikan segala macam tentang anaknya. Tentu saja sumber utamanya adalah Ibu.

“Gimana sekolah?”, tanya Ayah.

“Baik-baik saja yah. Lancar-lancar saja alhamdulillah”, jawab Kama.

Kemudian hening.

“Ayah mau tanya tentang yang tadi ya?”, tanya Kama malu-malu melirik ke arah Ayahnya.

“Iya nak. Ketahuan banget ya modus Ayah”, kata Ayah sambil tertawa.

“Cuma temen Yah”, jawab Kama kemudian.

“Nggak temen juga nggak apa”, kata Ayah kemudian. Membuat Kama salah tingkah.

“Dulu ibumu itu kan adik kelas ayah waktu SMA.”, tambah Ayah lagi. Jadilah sesorean itu Ayah bercerita tentang kisah cintanya dengan Ibu. Kama mendengarnya dengan seksama sambil geli-geli sendiri membayangkan masa muda Ayah dan Ibu yang masih berseragam SMA.

“Memang tipe Kama mau seperti apa?”, tanya Ayah membuat Kama kaget.

“Hmmm.. kaya Ayah lah minimal”, jawab Kama. Ayah tidak bisa menyembunyikan senyum bangganya. Senyum bangga karena anak perempuannya mengidolakannya, menjadikannya sebagai role model.

“Mana ada. Ayah ya cuma satu ini didunia”

“Iya sih Yah. Yaaa standar lah, ganteng, mapan, sholeh Yah. Dan mau sama Kama. Hahaha.”, jawab Kama bercanda.

“Kaya Nabi Yusuf gituuuuu”, tambah Kama lagi.

“Yakin?”, tanya Ayah serius.

“Kama siap dengan godaan-godaan beratnya semacam wanita-wanita lain yang tangannya terpotong saat melihat ketampanan wajah Nabi Yusuf, atau Zulaikha yang mengganggu Yusuf, dengan saudaranya yang begitu iri dengan Yusuf dengan fitnah-fitnah yang akan dilancarkan kepada Yusuf. Berat lho nak hidupnya Yusuf. Jangan dikira ganteng-nya aja terus tanpa cobaan”, jelas Ayah panjang lebar.

“Padahal lho aku kan cuma bercanda, tapi Ayah menanggapinya serius”, batin Kama.

“Tapi bener juga sih. Kita perempuan kadang pengen gantengnya doang, pengen kayanya doang, pengen sholehnya doang, tapi nggak mau menerima kekurangannya, cobaannya, dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya”,batin Kama.

Ingatan Kama terlempar ketika dia membaca Kisah Nabi Yusuf,

Yusuf merupakan keturunan langsung dari Nabi Yaqub (sesepuh bani Israil/cikal bakal Bani Israil). Yaqub sendiri merupakan keturunan langsung dari Nabi Ishaq yang merupakan putra Nabi Ibrahim. Nabi Yusuf merupakan anak kesayangan Yaqub. Hal ini yang membuat saudaranya yang lain iri kepada Yusuf. Ya, orangtua yang nggak sayang kalau dapat anugerah putra yang ganteng, baik dan sholeh. Yaqub sudah menyadari watak jahat saudara—saudara Yusuf. Maka ketika Yusuf menceritakan mimpinya tentang bulan dan bintang yang bersujud kepadanya. Yaqub menekankan jangan pernah hal itu diceritakan kepada saudara-saudaranya. Yaqub pun telah menyadari bahwa anak kesayangannya akan menjadi salah satu manusia pilihan Tuhannya. Kedengkian saudara-sudaranya itu yang membuat mereka ingin membunuh Yusuf. Namun tentu saja mana mungkin Pemeran Utama mati sia-sia. Allah menolongnya melalui mulut saudaranya yang berkata “Janganlah kalian membunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia kedalam sumur supaya ia dipungut oleh beberapa orang musafir.”

Saudara-saudaranya mengatur sedemikian rupa sehingga Ayahnya tidak akan mengetahui kejahatan mereka untuk menyingkirkan Yusuf. Meskipun begitu, Yaqub sudah tahu bahwa semua itu adalah perbuatan anak-anaknya yang lain sehingga Yaqub berkata “Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku) dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.”

Yaqub tahu meskipun kesedihan dan kehilangan yang besar yaitu kehilangan anak yang begitu dia sayangi, merupakan hasil kejahatan anak-anaknya yang lain, Yaqub tahu bahwa dia harus bersabar karena Allah tahu yang terbaik.

Kamu tahu salah satu hal yang paling menyakitkan didunia ini adalah dikhianati oleh saudara sendiri.

Sumur itu lah jalan awal Yusuf sebelum menjadi pejabat di Mesir. Yusuf pernah menjalani hidup sebagai seorang budak ketika dipungut dari dasar sumur. Yusuf dijadikan budak oleh salah seorang pejabat terpandang di Mesir. Hal itulah yang mengantarkan Yusuf pada fitnah selanjutnya yaitu memperkosa istri tuannya, seorang wanita yang sangat cantik (memang ya, orang ganteng banyak fitnahnya. Hehehe).

Tertulis bahwa “... Sesungguhnya, wanita itu bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata ia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya...”

(Yang maksum (terhindar dari maksiat) hanyalah para Nabi, Rasul, manusia pilihan Allah, maka manusia standar macam kita yang hidup didunia tanpa Nabi nggak ada yang Maksum. Makanya penting sekali untuk selalu meminta perlindungan dihindarkan dari maksiat, ya semacam Nabi Yusuf, bisa berbuat benar, dan tetap berpikiran jernih ditengah godaan besar yang mengganggunya).

Sekali lagi, Allah menyelamatkan Nabi Yusuf dari fitnah. Tuannya, masih cukup bijak untuk mengusut lebih lanjut kasus Yusuf dan istrinya, mencari kebenaran yang sebenarnya, apa yang salah dan siapa yang melakukannya, Yusuf atau istrinya. Maka ketika terlihat bahwa baju Yusuf yang robek adalah baju bagian belakang, dia tahu bahwa istrinya yang bersalah. Namun, hal itu justru mencoreng nama keluarga Tuannya, (Yah, namanya juga pejabat mana ada yang mau kelihatan jelek di mata masyarakat meskipun istrinya yang bersalah ya gimana caranya biar Yusuf yang keliatan bersalah dan nama keluarga mereka terselamatkan. Imagenya dimata masyarakat kembali baik.

Mereka memutuskan untuk menjebloskan Yusuf kedalam penjara secara zalim dan semena-mena. Namun kalian tahu kan justru penjara itulah yang menjadi jalan Yusuf menjadi salah seorang yang terhormat di Mesir. Dalam penjara itu, mukjizat Allah dinampakkan melalui Yusuf melalui kemampuan Yusuf untuk menakwilkan mimpi. Yusuf merupakan manusia satu-satunya yang mampu mengartikan mimpi raja tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus serta tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir gandum yang kering yang merupakan pertanda akan datangnya masa paceklik setelah tujuh tahun masa panen. Oleh karena itu, Raja mengangkat Yusuf untuk mengatasi 14 tahun masa itu, 7 tahun masa panen dan 7 tahun masa paceklik. Yusuf diangkat menjadi pejabat yang akan mengurusi logistik Mesir.

Dari situ pula berhenti masa fitnah Yusuf, dimana nama baiknya kembali bersih. Tuduhan-tuduhan atas dirinya merupakan sebuah fitnah. Karena Tuan Yusuf dan istrinya yang menjebloskan dirinya ke penjara serta wanita-wanita yang terpotong tangannya saat melihat ketampanan Yusuf bersaksi tentang kebenaran yang terjadi. Yusuf dibebaskan dari penjara dan namanya kembali bersih setelah bertahun-tahun.

Jabatan Yusuf yang membawanya kembali ke keluarganya. Yusuf mengatur siasat bagaimana caranya dia bisa bertemu dan kembali ke ayahnya dan keluarganya tanpa gangguan dari saudaranya yang dulu ingin membunuhnya.

Yusuf dengan kekuasaanya dan kecerdikannya menahan saudara kesayangannya dan ayahnya yaitu Bunyamin. Saudaranya yang lain segera khawatir bagaimana mereka akan mempertanggungjawabkannya kepada Ayahnya. Tidak seperti Yusuf dulu yang memang sudah mereka rencanakan, kejadian Bunyamin ini merupakan hal yang tidak mereka duga. Mereka dilema tentang apa yang harus mereka jelaskan kepada Ayahnya karena Ayahnya sudah tidak akan mempercayai mereka. Apalagi mereka sudah berjanji akan membawa kembali pulang Bunyamin ke Ayahnya. Mereka berjanji bahwa kejadian Yusuf tak akan terulang lagi. Namun justru ketika mereka sedang yakin-yakinnya, Allah memporak porandakan keyakinan mereka. Hingga akhirnya Yusuf membuka dirinya yang sebenarnya didepan saudara-saudaranya. Hal itu membuat tercengang saudara-saudaranya yang menganggap Yusuf sudah hilang dari entah kapan tahu, lalu muncul dihadapannya sebagai seorang yang terhormat di Mesir, menjadi seseorang yang melampaui batas imaji saudara-saudaranya.

Kalian tahu apa balas dendam terbaik? Balas dendam terbaik adalah tidak balas dendam. Lalu menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Memang, energi balas dendam merupakan motivasi yang bisa menghasilkan energi yang sangat besar. Namun, berkonsentrasi pada jalan hidupmu, menekuni apa yang Tuhan takdirkan untukmu kamu jalani, mungkin saja mengantarkanmu pada sejuta kebaikan lainnya seperti yang terjadi pada Yusuf.

Dan pada momen itulah Allah membuka hati saudara-saudara Yusuf yang dulunya penuh kedengkian pada saudaranya menjadi  sebuah kesadaran hingga saudaranya berucap “...dan sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).”

Kalian tahu? Satu-satunya yang bisa buka hati manusia ya Allah dan hanya Allah.

Dari semua kisah Nabi, mungkin ini salah satu yang Happy Ending. Akhirnya balada Yusuf dengan saudaranya berakhir dengan bahagia, saudaranya sadar, Yaqub yang dulunya buta karena menangisi kepergian Yusuf, atas izin Allah kembali bisa melihat. Yusuf menjadi seorang yang terpandang, penguasa Mesir yang adil dan bijaksana. Yusuf memiliki kecerdasan, ketajaman berpikir, berkemauan keras, dan sangat ulet.

Yaqub pun setelah kesedihan yang dialaminya akhirnya dipertemukan kembali dengan Yusuf. Bayangkan bagaimana kerinduannya menantikan pertemuan dengan anak yang begitu dia sayangi. Yaqub berkata kepada anak-anaknya, “Aku tidak mengadu kepada kalian dan tidak juga kepada orang lain, tetapi aku hanya mengadu kepada Allah swt.”

Kalian tahu, seringnya memang butuh kesabaran bertahun-bertahun hingga Allah menampilkan keseluruhan dari rencananya, seperti penantian Yaqub dan kebaikan yang diterima oleh Yusuf hingga menjadi seorang Nabi dan pejabat di Mesir. Kita tidak pernah tahu bagaimana rencana Allah, kita hanya harus yakin bahwa rencana Allah yang terbaik. Meski kadang harus menelan pahitnya kekecewaan, pahitnya kesedihan, tetapi kita harus yakin entah di titik waktu yang mana Allah akan menjabarkan rencana-Nya hingga kita memiliki kesadaran bahwa memang ini yang terbaik.

****

“Iya Yah, Kama akan bersabar menanti pangeran berkuda putih Kama nanti.”, kata Kama sambil tersenyum.

Sore langka bersama Ayah.

****

 

  • view 51