Dia yang tidak (begitu) diketahui kisahnya

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 11 Mei 2017
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Dia yang tidak (begitu) diketahui kisahnya

Minggu pagi dan Kama masih berguling-guling di kasur. Jam di kamarnya menunjukkan pukul 09.00 WIB tetapi Kama belum beranjak dari posisinya, rebahan dikasur dan memandang langit-langit kamar. Mas Wibi sudah kembali ke Bandung kemarin, melanjutkan perjuangannya untuk lulus. Ibu dan Ayahnya juga pergi kondangan ke luar kota kemarin setelah mengantar Mas Wibi ke terminal bis. Jadilah Kama sendirian di rumah dari kemarin siang. Ibunya sudah menawarkan untuk menginap di rumah nenek, tapi Kama tidak mau karena disana Kama tidak bisa malas-malasan. Mana mungkin Kama tega melihat nenek menyapu halama, membersihkan rumah. Pasti Kama yang akhirnya akan melakukan semua itu. Jadi disana tidak bisa malas-malasan. Tiba-tiba HP-nya berdering, ada pesan masuk. Dari Ayu ternyata.

Ka, nonton pertandingan futsal yuk. Kelas kita main, lawan kelas Langit loh :3

Sobatnya satu ini memang tak akan melewatkan kegiatan “mengungkit masa lalunya dengan Langit”, jika ada kesempatan. Seperti sekarang ini.

Nggak ah malas. Apalagi ada Langit. Tambah malas XD. Send.

Kama pun tak kalah jahil dalam menjawab gurauan sobatnya. Kalau ada orang lain yang membaca pesan mereka berdua pasti langsung salah paham.

Ah, nggak asik ah. Ayolah Ka. Temenin.

Kama jadi penasaran kenapa Ayu ngotot pengen menyaksikan pertandingan itu.

Kamu mau lihat siapa sih Yu? Semangat banget.

5 detik kemudian HP Kama berdering lagi. Balasan dari Ayu.

Ario. Ario. Ario.

Sudah itu saja jawaban Ayu. Ditulis tiga kali berderetan dan parahnya seumur Kama sekolah alias 2 tahun di SMA belum pernah mendengar seseorang yang bernama Ario itu.

Oke. Jemput ya. Malas bawa motor.

***

Terdengar suara klakson diluar rumah. Kama mengintip dari atas jendela kamarnya, sosok Ayu dan motor bebeknya parkir didepan rumahnya. Dari balkon kamarnya, Kama memberikan sinyal untuk menunggu sebentar. Setelah meminta izin ibunya via telepon, mandi, menata kamar dan memastikan rumah terkunci dengan benar, Kama berangkat menuju stadion futsal yang ternyata lebih jauh dari rumahnya dan lebih dekat dari rumah Ayu. Seketika, Kama merasa menjadi teman kurang ajar yang memanfaatkan temannya sendiri. Tanpa bertanya lokasi pertandingan, sembarangan minta jemput saja. Akan tetapi tidak biasanya Ayu mau-mau saja. Kama jadi semakin penasaran seperti apa sosok Ario ini yang mampu membuat Ayu bolak-balik demi menyaksikan pertandingan.

Ternyata yang menyaksikan pertandingan futsal pagi itu lumayan banyak. Teman sekelas Kama juga banyak yang menyaksikan, bahkan membawa galon untuk menunjukkan dukungan mereka kepada tim futsal kelas.

“Wah, rame juga ya Yu?”, kata Kama sembari melihat sekeliling.

“Makanya Ka, jangan males nonton yang kaya beginian. Kamu sih nggak pernah nonton”

“Emang kamu rajin nonton beginian? Sejak kapan?”, tanya Kama balik. Selama ini Kama merasa merasa mereka berdua sama-sama malas nonton pertandingan antar kelas yang biasanya dilaksanakan anak-anak ekskul olahraga.

Kama dan Ayu menuju kursi penonton, bergabung dengan teman sekelas yang lain. Beberapa detik setelah mereka berdua duduk, terdengar celetukan.

“Ayu, mau nonton Ario ya? Tapi tetep dukung kelas kita lhoo”, Kama dan Ayu menoleh, ternyata Vani, teman sekelasnya. Ayu menaikkan jempolnya. “Sip Van”

Ayu hanya senyum-senyum malu. Kama menoleh ka Ayu, melemparkan pandangan “sejak kapan?” dan Ayu hanya mengangkat kedua bahunya, masih sambil senyum-senyum. Kama merapatkan dirinya ke Ayu, berbisik ke telinganya, “Aku sudah kelewatan apa aja nih?”, sambil memasang wajah curiga. Ayu membalasnya dengan berbisik, “Ntar pulang dari sini aku ceritain semuanya”,dengan wajah penuh senyuman dan ekspresi menyebalkan.

Ayu terlihat begitu semangat melihat pertandingan siang itu. Tepatnya melihat sosok bernomor punggung 17 bertuliskan Ario berlari di tengah lapangan seperti Tsubasa. Disana juga ada Langit teman satu tim Ario, juga pastinya ada sosok Tania meskipun bukan kelasnya yang sedang bertanding. Entah kenapa pandangan Kama memandang ke Langit, melihatnya mengejar bola, terjatuh, merebut bola dan setiap detail yang Langit lakukan terekam sangat jelas di mata Kama. Kama menggelengkan kepalanya, “Yu, ke kamar mandi dulu ya, mau cari jajan sekalian. Pinjem kunci motor ya?”, kata Kama. Sepertinya dia butuh udara segar karena otaknya sepertinya kekurangan oksigen atau mungkin kelebihan oksigen karena terlalu fokus. Ayu menyerahkan kunci motornya. Kama keluar dari stadion, ke kamar mandi mencuci muka, dan berkeliling daerah sekitar situ dan akhirnya berhenti di warung pecel berencana nongkrong lama disana.

Yu, kalau udah selesai dan kamu mau pulang kabarin yak.

Kama mengirim pesan ke Ayu.

****

“Bu, pecelnya satu, jangan terlalu pedas”, Kama memesan satu porsi pecel. Berencana makan lama-lama. Ibu penjual pecel mengingatkan Kama dengan Ibu. Sepertinya usia Ibu ini sepantaran dengan Ibu, mungkin lebih tua beberapa tahun, tetapi tidak jauh. Disampingnya ada anak perempuan yang masih muda, mungkin sekolah SMP, membantu Ibu berjualan. Mungkin anaknya. Selain Kama, ada 3 orang pelanggan yang datang terlebih dahulu. Anak perempuan tadi membantu menghidangkan pecel buatan ibunya kepada para pelanggan.

“Pakai gorengan neng?”, tanya Ibu penjual. Kama mengangguk, “Iya bu, bakwannya 2 ya”.

3 pelanggan tadi sudah pergi karena “take away” pecel, tidak seperti Kama yang “dine in”.

“Itu anaknya ya bu yang bantuin jualan?”, tanya Kama iseng.

“Iya neng, bantuin kalau pulang dan libur sekolah.”, jawab Ibu penjual pecel yang Kama belum tahu namanya.

“Kelas berapa sekarang bu?”, tanya Kama lagi.

“Kelas 3 SMP. Tahun depan sudah masuk SMA. Jangan sampailah putus sekolah seperti ibunya.”

Momen seperti ini yang sering sekali membuat Kama merasa “kurang bersyukur”, karena baru bisa bersyukur jika melihat orang-orang yang lebih tidak beruntung dari dirinya. Belum bisa bersyukur disegala situasi. Harus dulu ditunjukkan kejadian dan momen-momen seperti ini.

“Ini neng pecelnya, bakwan 2 nggak terlalu pedas”, Ibu penjual pecel yang belum Kama tahu namanya menyodorkan pecelnya ke Kama dengan wajah teduh dan senyuman penuh keikhlasan meskipun terlihat sekali sorot matanya menunjukkan kelelahan. Akan tetapi demi sekolah anaknya, bukan, tetapi demi masa depan anaknya yang lebih baik lelah itu tidak dirasakan.

Supaya target makan pecel lama-lama tercapai, dibandingkan menyendok pecelnya, Kama lebih banyak berbincang dengan Ibu penjual pecel yang sekarang Kama sudah tahu namanya. Namanya Ibu Suyati. Suaminya buruh tani yang mengerjakan lahan orang lain. Dapat dipastikan pendapatannya tak seberapa. Bisa dipastikan untuk menghidupi keluarganya tak akan cukup jika Ibu Suyati diam saja. Makanya, Ibu Suyati berjualan pecel untuk biaya sekolah anaknya. Anaknya ada 3, yang pertama juga buruh tani, putus sekolah dan merupakan penyesalah Ibu Suyati yang pertama. Anaknya yang kedua lulus SMA, bekerja di usaha catering tetangganya dan sekarang sudah mulai membuka warung makan didekat rumahnya. Lebih baik nasibnya dibandingkan yang pertama. Dan yang ketiga sekarang membantu ibunya berjualan pecel. Mimpinya pun bisa sekolah lebih tinggi dari kakaknya. Ternyata biaya sekolah anaknya yang kedua dibantu kakak sulungnya, begitupun anak ketiganya dibantu anak sulung dan anak keduanya. Kama tak henti untuk takjub bagaimana untuk urusan sekolah yang baginya begitu mudah, untuk Ibu Suyati dan keluarganya harus memeras keringat banyak orang.

Dddrrrrttt.....ddrrrttt... HP Kama berbunyi. Pesan dari Ayu.

Ka, kelas kita menang. Yeeaayy..pada mau makan bareng. Bareng kelas Ario juga. Di Ayam Bakar Pak Somad. Kamu nyusul kesini aja ya.

  1. Thanks for accompany me today and lend my motorcycle. Akuu dibonceeng samaa Arioo :*

Kama tersenyum sendiri melihat pesan dari Ayu. Belum pernah dia lihat Ayu se-alay ini. Biasanya juga alay, tapi ini yang paling parah. Sama parahnya dengan Kama yang sedari pertandingan tadi matanya tak lepas menatap Langit.

Kabarin aja kalau udah selesai lah. Aku udah makan.

Tak lama HP Kama berdering lagi.

Yaaaah. Okedeh kalo gitu. Btw, ada Langit juga. Nggak nyesel?

Kama mengetik pesan balasan, Ada Tania juga :3 . Absolutely not. Udah ah kabarin aja ya kalau udah mau bubar.

Kama memasukkan HP-nya ke sakunya lagi.

“Neng, kok senyum-senyum sendiri?”, gantian Ibu Suyati yang iseng bertanya.

“Iya bu, ini temen saya ngelawak”, jawab Kama. “Oh iya bu nggak apa ya saya lama-lama disini, meskipun hanya beli pecel satu porsi.”

“Astaga neng, nggak apa. Cuma pesen air putih satu gelas juga gak apa kok lama-lama disini”

****

Kama mengeluarkan buku diary-nya yang selalu dia bawa kemana-mana. Menuliskan beberapa kalimat.

Untuk dia yang tidak (pernah) diketahui kisahnya seperti Ibu Suyati. Aku teringat beberapa kisah singkat Ibu mengenai beberapa Nabi yang kisahnya tidak diceritakan secara detail seperti Nabi Musa, Nabi Adam, Nabi Ibrahim, dan Nabi Muhammad. Kisah Nabi Idris yang di Alqur’an dituliskan “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi” (Q.S. Maryam : 57) , Nabi Ismail atas ketaatan kepada Allah SWT, Ismail adalah orang yang benar janjinya dan ia orang yang diridhai di sisi Tuhannya Q.S Maryam : 54-55 , atau Nabi Ishaq yang merupakan saudara Nabi Ismail seayah, juga tak terlalu diketahui kisahnya, tapi kita tahu dan yakin bahwa beliau juga termasuk manusia kelas atas “iman dan taqwanya”. Atau mungkin seperti Nabi Yaqub yang merupakan keturunan dari Nabi Ishaq yang merupakan cikal bakal bani Israil yang terkenal itu. Maka aku tahu, bahwa rentetan kisah manusia yang terkenal di muka bumi ini merupakan hasil kerja manusia tak terkenal, tak diketahui.
Seperti Ibu Suyati ini, siapa yang tahu anak ketiganya mungkin saja dimasa depan menjadi sosok yang luar biasa, atau mungkin keturunan anak sulungnya, anak keduanya. Ya, kita tidak pernah tahu kemana kebaikan yang telah kita lakukan akan memantul. Aku belajar pada Ibu Suyati dan keluarganya bahwa tidak ada yang sia-sia . Pun menjadi buruh tani seperti suaminya dan anak sulungnya tak pernah sia-sia. Setiap keringat dan keikhlasan pasti akan terbayar lunas.
Aku tak bisa membayangkan, jika keberkahan dalam keluarga Ibu Suyati berpendar layaknya cahaya, pasti seisi rumahnya sudah dipenuhi cahaya yang terang benderang. Kita tak pernah tahu ada berapa juta manusia semacam ibu Suyati, Nabi Idris yang tak terkenal didunia ini tetapi namanya banyak disebutkan dilangit sana oleh Para Malaikat. Kita tidak pernah tahu.

***

  • view 44