Tentang Keberkahan

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 19 April 2017
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Tentang Keberkahan

Kisah cinta selalu menarik untuk dibicarakan. Kisah kasih selalu bisa dibikin cerita. Sore itu sepulang sekolah hujan turun begitu derasnya. Hujan turun dari bel pulang sekolah berbunyi hingga sekarang dan belum berhenti. Kama malas untuk memakai payung karena akan basah juga. Hujan begitu deras dan tidak ada tanda-tanda akan mereda. Maka, Kama memutuskan untuk menunggu hujan di perpustakaan, dan hingga perpustakaan tutup pun, hujan masih turun dengan semangat membasahi bumi sebasah-basahnya. 10 menit lalu ibu menanyakan keberadaan Kama.

“Baiklah, sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk basah”, gumam Kama.

Sudah 15 menit menunggu didepan sekolah, angkot yang lewat selalu saja penuh sesak dengan orang-orang yang sepertinya buru-buru pulang. Mungkin mereka berpikiran sama dengan Kama untuk sejenak menunggu hujan tapi ternyata hujan tetap turun deras. Mereka sama halnya dengan Kama memutuskan untuk pulang saja. Tiba-tiba ada mobil berhenti didepan Kama. Kaca mobilnya turun dan nampak sosok yang begitu Kama kenal, Langit. Dia tidak sendirian, siapa lagi kalau bukan dengan dia yang dikabarkan berpacaran dengan Langit.

“Bareng, Ka?”, ajak Langit. Kama bingung. Ingin sekali dia cepat sampai dirumah tapi malas juga kalau harus bareng mereka berdua.

“Iya Ka, bareng aja yuk”, ajak perempuan disebelah Kama. Tania namanya. Kama melirik jam dan sudah hampir magrib kalau harus menunggu angkot kosong perlu waktu lagi. Kama memutuskan untuk menumpang di mobil Langit.

Dalam perjalanan, Kama hanya diam. Tidak memulai obrolan ataupun merasa perlu untuk menyambung obrolan mereka berdua yang duduk didepan.

“Kok baru pulang Ka?”, tanya Langit yang akhirnya sadar bahwa ada manusia dibelakang yang ikut bersama mereka berdua.

“Nunggu hujan tadi, tapi nggak reda-reda”, jawab Kama dengan raut muka se-wajar mungkin. Dia berharap bisa segera sampai dirumah.

“Oh, tadi kita berdua abis makan di warung makan deket sekolah. Yang baru buka dan langsung nge-hits itu Ka”, timpal Tania. “Kamu udah pernah coba kesana?”, tanya Tania.

Kama menggeleng, “Belum pernah Tan. Aku jarang sih nongkrong.”

“Enak ternyata Ka, emang recommended makan disana. Harganya juga harga siswa sih. Kamu harus coba sekali-kali”, kata Tania sembari memberikan brosur. Kama menyibukkan diri dengan melihat brosur ditangannya dan berharap segera sampai dirumahnya.

“Ka, nganter Tania dulu ya, soalnya rumahmu setelah rumah Tania”, kata Langit. Kama hanya mengangguk, meski dalam hati berharap dia adalah manusia pertama yang turun dari mobil itu.

Sesampainya dipemberhentian pertama, Tania turun. Kama akan beranjak dari kursi belakang pindah ke kursi depan tapi Langit mencegahnya, “Udah nggak usah pindah Ka, disitu aja. Ntar basah kamunya”, kata Langit. Entah itu alasan sebenarnya atau sekadar alasan untuk menjaga perasaan pacarnya. Sepanjang perjalanan dari rumah Tania keduanya belum memulai percakapan.

“Aku minta maaf”, begitulah kata pertama yang diucapkan Langit memecah kecanggungan suasana diantara mereka.

Kama bingung, “Untuk apa?”, tanyanya.

“Mungkin aku banyak salah sama kamu. Semenjak hari itu, sikap kamu berubah”, jelas Langit. Kama tahu betul apa yang dimaksud dengan “hari itu”.

“Hmm.. berubah gimana? Kayanya aku biasa-biasa aja deh”

“Aku ngerasanya berubah Ka. Kamu jadi seperti menjaga jarak, tidak seperti sebelum-sebelumnya”

Tentu saja menjaga jarak. Dia kan sudah punya pacar.”, batin Kama.

“Iya ya? Aku ngerasanya nggak sih Lang. Mungkin karena kamu sekarang sudah punya pacar dan kita kan sudah beda kelas pula. Jadi mungkin kelihatannya menjaga jarak.”

“Tapi di Mading juga kamu seperti menghindar.”, kejar Langit lagi.

“Kamu ngerasa gitu ya?”,kata Kama bingung mencari jawaban untuk mengkonfirmasi tentang “menjaga jarak”.

“Dan untuk pacar,”, tambah Langit, “Tania tahu kok semua temen-temenku, ya termasuk temen-temen perempuanku, termasuk kamu. Dia nggak akan cemburu. Aku sudah menjelaskan dari awal, juga tentang “hari itu”.” , jelas Langit lagi.

“Iya mungkin karena kamu orang pertama kali yang berkata seperti itu padaku. Aku jadi bingung bersikap setelahnya. Apalagi setelah aku tolak.”, jawab Kama jujur.

“Oh.”, respon Langit menutup percakapan sore itu. Tak membahas lagi kelanjutan kisah dari proses pacaran Langit dengan Tania. Langit tak membahasnya sama sekali, padahal Kama penasaran setengah mati. Tapi Kama sadar bahwa itu bukan urusannya sama sekali. Kama turun dari mobil Langit, “Makasih ya Lang”, ucapnya. Langit tersenyum dan mengangguk.

Kama sekali lagi harus menata hatinya. Lagi, setiap Langit selalu berhasil memporak-porandakan pertahanannya. Tak kelihatan sih dari luar, tapi dalamnya...

*********

Sore itu, tak ada acara “nge-teh sore” bareng Ibu. Selain karena Kama pulang terlambat, Ibu harus menemani Ayah ke pernikahan anak teman Ayah. Setelah itu ke rumah nenek untuk mengantarkan oleh-oleh dari Ayah dan makanan untuk seminggu kedepan. Minggu ini merupakan jatah Ayah untuk mencukupi kebutuhan gizi ibunya. Ibu sedang sibuk sekali menyiapkan ini itu.

“Kama, jangan lupa makan ya nak”, pesan Ibu sebelum pergi. “Ibu pulang rada malam karena sepertinya akan lama di rumah nenek”

“Iya Bu. Hati-hati”.

Dan begitulah, hanya tinggal Kama dan Mas Wibi. Mas Wibi sibuk dengan skripsinya, Kama menonton TV di ruang keluarga.

Tiba-tiba Mas Wibi datang dan menjitak kepala Kama.

“Heh.”, Kama menatap kakaknya sebal.

“Udah lama nggak gangguin kamu dek”, ucap Wibi jahil.

“Eh orang lagi ngerjain skripsi tuh, jangan nambah-nambah dosa”, ucap Kama ketus.

“Yaelah. Itu tanda sayang kali”, ucap Wibi sambil mencubit pipi Kama.

“Dek, Ibu cerita udah sampe mana?”, tanya Wibi tiba-tiba.

“Hah? Cerita apaan mas?”, tanya Kama balik.

“Nabi the series”

“Hahahaha. Apaan lagi coba? Itu semacam sinetron yang tayang di tivi-tivi itu?”

“Serius dek”, kata Wibi memasang tampang serius.

“Mas juga sering diceritain sama Ibu tah?”, Kama malah balik bertanya.

Wibisana mengangguk, “Iyalah dari mas kecil. Ibu sering bilang kalau pas kamu kecil itu pas banget awal-awal ibu buka rumah makan yang di alun-alun itu. Dulu, Ibu nggak sempat dongengin kamu tentang Nabi-Nabi kaya waktu mas masih kecil. Paling secara umum dan nggak detail. Itu dia Ibu sekarang sering ngajak kamu  ngobrol.”, jelas Wibi panjang lebar.

“Oh gitu ya mas? Emang mas apal kisah-kisahnya?”, tanya Kama lagi.

“Lumayan sih dek. Gara-gara Ibu dulu sering cerita banyak, mas jadi baca-baca kisah aslinya dibuku-buku gitu. Jadi penasaran apa bener si Nabi ini kaya begini dan seterusnya.”

“Kemarin terakhir rasanya bahas Nabi Luth deh Mas, yang homoseksual itu”.

“Oh berarti selanjutnya tentang Nabi Syuaib dek, featuring penduduk Madyan”

“Ini... mas Wibi mau cerita ke Kama. Out of the blue banget sih mas.”, Kama memasang wajah curiga.

“Jadi nggak mau nih?”, tantang Wibi.

 

“Mas Wibi lagi bosen yah ngerjain skripsi? Tumben.”, kata Kama lagi.

Wibi mengangguk. “Iya dek udah beberapa minggu ini ngomongnya sama laptop, butuh ngomong sama manusia biar nggak geser otaknya.”

“Ah, baiklah baiklah, demi lancarnya skripsi mas Wibi, ayo mas cerita lah”

Dan begitulah selanjutnya mas Wibi bercerita tentang Nabi Syuaib dan penduduk Madyan. Gaya bercerita mas Wibi berbeda dengan Ibu, sampai membuat Kama geli melihat ekspresi kakaknya satu ini. Ceritanya nggak sepanjang kalau diceritain sama Ibu. Mas Wibi hanya menjelaskan tentang point-point utama kisah Nabi Syuaib.

**Sama halnya rasul-rasul yang lain, Nabi Syuaib diutus untuk menegakkan tauhid kepada penduduk Madyan. Tidak banyak yang tahu tentang nasab/keturunan Nabi Syuaib sebelumnya. Ada versi yang bilang garis keturunannya dari Ibrahim, ada pula yang versi yang bilang dari Luth. Secara umum, penduduk Madyan ini juga sama seperti kaum-kaum sebelumnya, yang di azab oleh Allah SWT karena menolak kebenaran yang dibawa oleh saudaranya yaitu Syuaib. Isu yang digarisbawahi pada penduduk Madyan adalah pengurangan takaran dan timbanga. Mereka suka mengurangi takaran dan timbangan untuk menambah laba/keuntungan yang diperoleh. Yang perlu digaris bawahi pada kisah ini adalah “

Keuntungan yang diperoleh dari hasil yang halal itu mengandung keberkahan meskipun jumlahnya sedikit”.

Selain itu, tentu saja penduduk Madyan menolak kebenaran yang dibawa Syuaib. Ternyata Syuaib termasuk dalam salah satu keluarga terpandang disana, karena kaumnya berkata, “Kalau bukan karena keluargamu, tentulah kami akan merajammu sedang engkaupun bukanlah seseorang yang berpengaruh di sisi kami.” Tentang hukuman yang diberikan kabarnya adalah sebuah gempa yang hebat dan suara yang menggelegar yang membinasakan mereka.**

“Mas Wibi kaya presentasi didepan dosen penguji”, komen Kama.

Wibisana tertawa, “Masa sih dek.. hahaha.. nggak apa deh, itung-itung latihan buat seminar skripsi”

“Tapi mas, dulu aja ya ngurangin timbangan, kufur udah langsung kena azab gitu. Jaman sekarang udah nggak terhitung lagi orang-orang yang suka ngurangin timbangan, ya macam yang nambah-nambahin boraks biar tambah keuntungan gitu. Kok ga ada azab ya?”

“Hush, nggak boleh ngomong gitu ah. Ngeri. Bisa-bisa kita juga kena azab. Mungkin karena masih banyak pula yang baik dek, yang jujur yang nggak mengurangi hak konsumen dan menjalankannya dengan benar.”

“Ah iya”, tambah Kama, “Mereka, penduduk Madyan maksudku, takut sama keluarganya Syuaib yang berkuasa tapi nggak takut sama sekali sama Allah ya mas, yang menguasai alam semesta.”

“Yaelah dek, kalau mereka takut sama Allah, mana mungkin mereka kena azab”, jawab Wibi diplomatis.

“Iya sih ya. Mana mungkin. Tapi juga manusia sekarang takutnya sama orang yang punya kuasa tapi tutup mata, tutup telinga sama Yang Maha Kuasa.”

“Yap betul itu.”, Wibi menyetujui ucapan Kama. “Itu gunanya kita belajar setiap saat dek. Termasuk belajar sama kisah-kisah seperti ini. Buat kita sadar, bahwa dari jaman dulu pun sudah ada manusia-manusia teraniaya, dizolimi untuk mempertahankan kebenaran dan mereka merupakan kekasih Allah. Jadi kalau kita benar, nggak usah takut meskipun melawan yang berkuasa”

“Iya sih mas. Teorinya gitu. Praktiknya itu setengah mampus. Sampai-sampai sekelas Nabi Syuaib pun memohon azab untuk kekafiran mereka, perbuatan mereka yang melampaui batas.”

Wibi mengangguk. Zaman tanpa Nabi seperti sekarang, kebenaran mudah dibolak-balikkan. Apalagi yang bisa kita lakukan selain memohon petunjuk kepada Yang Maha Benar?

  • view 57