Mental bawang putih dan bawang merah, ah ya Cabe juga.

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Maret 2017
Mental bawang putih dan bawang merah, ah ya Cabe juga.

Mental bawang putih adalah ketika kamu bersikap terlalu pasrah pada keadaan yang sedang menekanmu, ya semacam karakter bawang putih itu, yang iya-iya saja disiksa dan disuruh ini itu sama emak dan saudari tirinya. Karakter yang mau-mau saja disuruh bekerja seharian disuruh ini itu, bahasa kasarnya menjadi pembantu di rumah sendiri. Itu bukan terlalu baik, tapi terlalu malas untuk melawan. Di era 2017 ini penyiksaan macam itu hanya tinggal didokumentasikan lalu viral dan simpatilah semua orang kepada si korban. Mungkin dulu pada masa bawang putih belum ada internet sehingga dia tidak memiliki cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Karakter perempuan lemah, pasrah dengan segala keadaan adalah karakter paling “menyebalkan” menurutku. Akan tetapi, tentu saja kita perlu mengapresiasi karakter Bawang Putih yang lemah lembut, baik kepada semua orang, kepada semua makhluk. Tentu saja kita harus meniru karakter yang satu ini. Karena sifat satu ini yang mengantarkan Bawang Putih kepada penyihir yang akan memberikan dia “happy ending” di akhir kisahnya.

Mental bawang merah adalah ketika kamu bersikap “playing a parasite”, menjadi makhluk paling tidak berguna diseluruh alam semesta. Kenapa? Sudah jahat, nggak bisa apa-apa, manja saja kerjanya alias tidak mandiri dan nggak bisa apa-apa. Jenis karakter perempuan yang manja dan enggak bisa apa-apa yang kerjanya ngabisin duit doang yang biasanya dijadikan karakter antagonis di setiap F*V juga merupakan karakter paling “menyebalkan” menurutku. Dan dari bawang merah tidak ada yang bisa ditiru saking nggak ada kebaikan dalam dirinya, selain jangan tiru bawang merah ya Nak, dia itu jahat. Nggak boleh kaya Bawang merah. Mungkin seperti itu pesan orang tua. Tentu saja, bisa dilihat bahwa disisi lain Bawang Merah merupakan korban hasil didikan Ibunya. Selain memang kesalahan yang dibuat oleh si Bawang Merah sendiri, juga ada andil besar Ibunya dalam proses pendidikan Bawang Merah. Bibit jahat itu menurun? Hmmm.. tergantung juga sih siapa tahu di Scene setelah “happy ending” nya kisah Bawang Putih, Bawang Merah bertobat entah bagaimana kisahnya dan menjadi manusia paling baik dan berguna di alam semesta, siapa tahu? Kita hanya tahu titik hingga “happy ending”nya si Bawang Putih. Kita tidak mengikuti kehidupan Bawang Merah selepas itu.

Mental Cabe adalah yang beken di “kata-kata-I” anak alay. Yang demi popularitas dan demi mengikuti trend rela melakukan apa saja. Apa saja disini berkonotasi negatif ya, dari mulai bonceng tiga, pakai hotpants, naik motor sambil main HP, pacaran-pegangan tangan-pelukan-dst, demi disebut “mengikuti tren dan enggak dianggap Cupu” dan itu lho, muka tembok alias karakter Tidak Tahu Malu-nya sungguh harus kita acungi jempol, dear generasi sambal. Eh belum ding, masih juga jadi cabe belum diulek.

Penjelasan diatas bukan hanya sebatas untuk kalangan remaja lho, tapi juga kalangan tua atau bisa disebut semua kalangan atas semua umur. Jangan kira kalau sudah lewat remaja bebas dari mental-mental diatas. Masih banyak. Sungguh masih banyak.

Sumber gambar : google.

  • view 187

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    7 bulan yang lalu.
    Mental kerupuk aja. Dicari semua orang saat makan

  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    7 bulan yang lalu.
    kalo gitu saya mau milih mental daun salam, daun jeruk, dan daun pandan aja kak.
    biarpun bukan bumbu utama, tapi bisa bikin sedap