Cinta yang Haram

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 27 Maret 2017
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

2.1 K Hak Cipta Terlindungi
Cinta yang Haram

Dan begitulah perasaan Kama masih tersimpan rapi hingga kelulusan SMA. Tetap bergaul baik dengan semua orang, termasuk Langit. Mencoba sebisa mungkin bersikap apa adanya, karena Kama percaya bahwa perasaan bukan untuk diumbar kesemua orang. Bahwa mencintai seseorang itu wajar selama disikapi secara wajar. Ya sih, rasanya sakit dan tidak nyaman pakai sekali alias tidak nyaman sekali ketika melihat orang yang kita sayangi, dalam hal ini lawan jenis menjalin hubungan dengan orang lain, apalagi pada awalnya pernah menyatakan perasaannya kepada kita. Sebal sekali? Tentu saja iya.

Tetapi, apakah kehidupan melulu tentang “aku cinta kamu”, “aku tidak bisa hidup tanpa mu”, “kamu harus menjadi milikku”, “aku membutuhkanmu”?

Pada akhirnya kita harus belajar realistis bahwa perasaan itu gampang sekali berubah. Bahwa tak boleh bahkan mungkin haram untuk mengagung-agungkan perasaan. Bahwa di era ini, remaja diajarkan untuk menyembah sesuatu yang disebut dengan “perasaan”. Lihat saja tayangan televisi semua tentang cinta, lebih tepatnya percintaan remaja. Yang isinya tentang “aku cinta kamu”, “aku tidak bisa hidup tanpa mu”, “kamu harus menjadi milikku”, “aku membutuhkanmu”? Serta kehidupan konsumerisme.

Tidak mengajarkan apapun selain cinta, cinta dan cinta. Tidak mengajarkan apapun selain galau, galau dan galau. Yah, begitulah gambaran generasi sekarang dan bisa dilihat kan betapa sederhananya dan mudahnya pola pikir mereka jika kehidupan hanya bergerak pada sesuatu yang disebut perasaan dan cinta? Anak-anak SD, SMP yang sudah mendalami ilmu menyukai sesama lawan jenis sebegitu dalamnya, hingga menganggap diri mereka sudah terlalu dewasa untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan. Mau menyalahkan mereka? Tentu saja bukan murni kesalahan mereka karena sekitar mereka, lingkungan, media mengajarkan semua hal itu. Dan apesnya tak semua orang tua punya waktu cukup untuk mengawasi dan melakukan kontrol terhadap anaknya.

Kama menghela nafas, setidaknya betapa beruntungnya dia memiliki ayah dan ibu yang sangat peduli kepadanya.

Sore itu, Ibu bercerita tentang cinta yang dilarang. Bagaimana cinta bisa dilarang, jika Allah menganugerahkan sesuatu yang disebut cinta kepada umat manusia?

Sore itu, Ibu bercerita tentang salah satu kaum yang dibinasakan Allah SWT karena dosanya, karena keangkuhannya, karena penghinaannya kepada utusan Allah SWT. Kaum Nabi Luth, yang dalam era ini disamakan dengan manusia yang memiliki kelainan orientasi seksual.

Ibu bercerita bahwa kaum Nabi Luth merupakan yang pertama melakukan perilaku homoseksual. Kata ibu, jika membaca kisahnya, akan terasa betapa kaum satu ini merupakan kaum yang tingkat keterlaluannya teramat sangat mengerikan. Bagaimana tidak? Hingga saat malaikat datang ke wilayah mereka, bisa-bisanya mereka “menggoda” utusan-utusan Allah itu. Dalam tafsir Ibnu Katsir juga disebutkan bahwa dosa yang mereka lakukan bukan hanya homoseksual tetapi juga sodomi, merampok serta melakukan perbuatan maksiat di tempat-tempat terbuka. Ah iya, kalau ditarik ke kehidupan sekarang juga banyak hal semacam melakukan perbuatan maksiat di tempat-tempat terbuka. Cari saja di yout*be, situs-situs por*n yang merupakan wujud modern melakukan perbuatan maksiat di tempat terbuka. Bagaimana tidak? Semua orang bisa mengakses, semua umur, siapa saja bebas. Tinggal klik, tersambung ke internet dan semuanya akan terlihat dengan sendirinya.

Kalau mau mudah saja tak usah repot-repot cari internet, di televisi pun banyak. Lihat saja mereka yang mudahnya bergandengan tangan mudahnya berpelukan mudahnya cium-ciuman.

Apakah salah menyukai sesama jenis? Padahal mungkin itu bukan yang mereka inginkan? Menjadi salah jikalau mereka menyalurkan, menuruti nafsu mereka untuk memuaskannya kepada sesama jenis. Jikalau mereka menyimpannya dengan baik dan memasrahkan kepada Sang Pemilik Cinta mungkin lain cerita. Jika mereka berniat keras untuk sembuh mungkin lain cerita, dan JIKA SAJA ORANG-ORANG diSEKITAR MEREKA mendukung dan membantunya untuk sembuh mungkin lain cerita lagi. Betapa banyak pihak-pihak yang memandang mereka sebagai binatang, menghujat dengan lantang, tapi tak pernah sekalipun memberikan solusi tidak pernah sekalipun berusaha untuk membawa mereka ke jalan yang seharusnya, hanya bisa menghujat, mengejek dan memandang sebelah mata. Tentu saja wajar ketika mereka memilih ke komunitas yang bisa menerima mereka.

Begitu pula haramnya hubungan kaum sesama jenis begitupun hubungan kaum lawan jenis yang belum di sahkan melalui akad pernikahan juga sama saja. Ketika kedua jenis hubungan tersebut sama-sama melampiaskan nafsu yang bukan pada tempatnya. Sama-sama haram bukan?

“Jangan pernah menghujat mereka ya nak, jangan meremehkan atau memandang rendah karena mereka juga manusia”, begitu pesan Ibu kepada Kama.

“Seharusnya kita itu mengajak, bukan mendakwa. Kita harusnya membimbing, bukan menggurui dan menyalahkan. Kita seharusnya memberikan pengetahuan bukan malah membodoh-bodohkan. Tentu saja, dengan izin Allah, dengan tetap berpegang teguh bahwa setiap hidayah datangnya dari Allah.”

“Dan jangan pernah menganggap bahwa mereka merupakan spesies yang tidak layak hidup di dunia ini. Ingat ya nak, mereka juga manusia pun pasti ada kemungkinan, peluang mereka akan bertobat dan bisa saja menjadi manusia terbaik. Pun ada kemungkinan mereka tidak bertobat tapi kalau bisa memilih lebih baik percaya kepada hal yang baik bukan? Maka itu, doakan saja, doakan dan doakan karena kita tak punya kuasa.”

“Ah iya satu lagi, jangan menjadi manusia yang mudah menghakimi karena kita tak pernah tahu apa saja yang sudah mereka lalui dalam kehidupan mereka nak. Kalau enggak tahu apapun lebih baik diam, jangan apa-apa langsung dikomentarin. Dan satu lagi nak, ingat bukan bahwa membicarakan keburukan saudara sendiri sama halnya memakan daging saudaramu sendiri. Begitu pun menyebar-nyebarkan berita dusta, menyebarkan fitnah. Diera teknologi sekarang dimana semuanya tinggal copy paste begitu pula dosanya nak, semudah copy paste.”

“Iya bu, mungkin orang orang sekarang sudah nggak takut dosa lagi ya bu?”, tanya Kama.

Ibu tersenyum, “Kita juga termasuk orang-orang sekarang lho Nak. Semoga kita dilindungi dari semua itu ya Nak, keluarga kita. Janganlah sampai seperti istrinya Nabi Nuh, Ayah Nabi Ibrahim juga istri Nabi Luth.”

Kama meng-amin-kan dengan sepenuh hati. “Yah semoga dilindungi ya Bu. Dari diri sendiri ya bu. Dari hari ini ya bu. Dari sekarang ini ya bu? Selalu memperbaiki diri.”

Ibu mengangguk.

***

  • view 468