Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

601 Hak Cipta Terlindungi

Aku Bukan Hajar

Aku Bukan Hajar Aku Bukan Hajar

Jum’at malam merupakan waktu paling membahagiakan karena besoknya libur dan besoknya masih libur. Namun, malam ini Kama harus berkutat dengan artikel yang akan dimasukkan ke dalam majalah sekolah. Sudah ada beberapa rubrik yang masuk dan sudah dikoreksi oleh editor. Kama membuka laptopnya dengan malas. Seharusnya dia sudah mengerjakan editing sejak 3 jam yang lalu. Akan tetapi, layar HP lebih menarik ketimbang melakukan editing. Entah kenapa dia merasa sangat malas, mungkin karena belum deadline sehingga merasa tidak perlu untuk diselesaikan dengan cepat. Laptop Kama sudah hidup sejak 5 menit yang lalu, tetapi Kama memilih untuk merebahkan diri diatas kasur dan memandang langit-langit. Ibu sedang menemani Ayah yang sedang ada acara di Sulawesi. Sudah 3 hari ini tidak berbincang cantik dengan Ibu di sore hari. Wibisana, kakak Kama sibuk sendiri di kamar. Sedang tidak bisa diganggu sedang menyelesaikan tugas akhir. Jadilah Kama kembali terngiang kejadian setahun yang lalu, pertama kalinya seorang lelaki mengungkapkan perasaan kepadanya. Perasaan Kama masih sama, belum berubah. Kama teringat kisah keluarga Ibrahim yang diceritakan oleh Ibu sebelum  pergi. Kisah Hajar, istri Ibrahim yang lain. Tentang kecemburuan Sarah kepada Hajar salah satunya karena kelahiran Ismail. Seorang keturunan yang telah dinantikan lama oleh Sarah namun justru Hajar yang melahirkan. Tentang Hajar yang mengalah sebagai bentuk pengabdiannya. Tentang Hajar dan Ismail yang masih bayi waktu itu, ditinggalkan oleh Ibrahim. Tentang Hajar yang berjuang untuk mencarikan air minum untuk anaknya hingga berlari bolak-balik dari bukit Shafa dan Marwa hingga Allah menganugerahkan zam-zam, sumber air tak terbatas. Betapa kuat Ibu Hajar, betapa sabar Ibu Hajar menghadapinya sendirian tanpa suaminya. Tapi Ibu Hajar yakin bahwa Allah akan selalu memberikan pertolongan untuk hambanya. Hamba yang dikasihinya. Kama memejamkan matanya, menarik napas dan tak berapa lama ketiduran. Terbangun keesokan harinya karena azan Subuh. Setelah sadar, betapa menyesalnya Kama telah menyia-nyiakan waktu semalaman untuk tidak melakukan apa-apa. Yasudahlah, sudah terlewati juga. Penyesalan tinggallah penyesalan.

Selepas Subuh, Kama pergi ke pasar untuk berbelanja. Dirumah tidak ada asisten Rumah Tangga. Ibu mengerjakan semua sendiri. Selain menjadi Ibu rumah tangga, Ibu memiliki rumah makan di alun-alun kota. Kecil, sederhana saja tetapi cukup untuk membantu perekonomian rumah tangga. Ibu pintar memasak dan tentu saja Kama sering ikut dan membantu Ibu memasak, mengambil alih peran Ibu untuk memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga ketika Ibu sibuk di rumah makan. Tentu saja Mas Wibi punya perannya juga. Membantuk Ibu di rumah makan, menggantikan peran Ibu di rumah makan ketika Ibu sibuk dirumah. Tak jarang pula mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyapu, mencuci mobil dan sebagainya. Kama dan Wibi sejak kecil dibiasakan untuk saling membantu, Ibu melibatkan mereka berdua kedalam banyak hal.

Wibi turun dari kamarnya, “Masak apa dek? Baunya sampai ke atas”, tanya Wibi. Mukanya begitu berantakan menyiratkan semalaman habis begadang.

“Orek tempe kak, sama cumi.” Wibi tersenyum, adiknya tahu sekali masakan kesukaannya, tahu sekali kalau otaknya begitu butuh asupan protein tinggi untuk mengerjakan sesuatu yang biasa disebut skripsi.

***

“Eh, kamu tahu nggak katanya Alia itu yang nembak Langit duluan tahu. Terus kabarnya sebelumnya Langit udah nembak seseorang”

“Siapa- siapa yang ditembak Langit? Penasaran nih. Ceritanya yang lengkap dong.”

Adalah sekumpulan siswa-siswi yang hobi bergosip sedang membicarakan salah satu makhluk cukup terkenal Alia dan Langit. Dan sialnya, Kama sedang berjarak 1 meja dibelakang gerombolan itu bersama Ayu yang sedari tadi menyenggol tangannya tanpa henti sambil senyum-senyum. Kama masih lempeng saja sok tidak peduli tetapi telinganya entah kenapa begitu jelas sekali menyimak apa yang gerombolan itu bicarakan.

“Udah deh Yu. Aku lagi ngetik nih. Ntar sore harus selesai. Jangan diganggu ih”

“Sorry, sorry”, kata Ayu dengan senyum penuh makna.

Gerombolan gossipers masih sibuk membicarakan tentang Alia dan Langit.

“Iya, temenku lihat sendiri pas Alia nembak Langit”, kata perempuan berambut lurus panjang yang duduk tepat didepan Kama.

“Terus Langit mau-mau aja gitu?”, tanya seorang dengan kacamata tebal. Ternyata image perempuan berkacamata tebal adalah sosok yang lugu, cupu terpatahkan. Gadis satu ini salah satu yang paling banyak bertanya dan berkomentar. Ternyata dia banyak tahu mengenai gosip-gosip yang beredar disekolah.

“Langit kan orangnya baik. Pasti dia nggak enak deh buat nolak Alia”, timpal yang lain.

“Iya bener. Langit kan emang tipenya baik sama semua orang. Beruntung banget si Alia ya”, timpal yang lainnya lagi.

Kama semakin tidak bisa berkonsentrasi memutuskan undur diri berpartisipasi menjadi pendengar dari rapat terbatas gossippers.

“Aku ke perpus dulu ya.”, pamitnya ke Ayu. “Ikut lah Ma”, Ayu beranjak dan menyusul dibelakang Kama.

Sesampainya di perpustakaan, Kama mencari spot kosong untuk melanjutkan pekerjaannya. Mumpung pelajaran selanjutnya hanya diberi tugas oleh Bu Ina, guru Kimia yang sedang tidak masuk. Jadi kelas mereka bebas. Ada 4 kursi kosong dan Kama segera menuju kursi kosong tersebut.

Baru 5 menit Kama dan Ayu menempati tempat tersebut, ada seorang laki-laki yang duduk disebelah Kama.

“Kamu disini juga Ma. Lagi nggak ada pelajaran ya?”, Kama menoleh ke sumber suara dan tadaaaaaa sosok yang dibicarakan oleh gosippers tadi ada didepan Kama.

“Eh iya Lang. Lagi nggak ada pelajaran”, jawab Kama gugup.

“Ma, aku ke kantin yah. Lapar”, ujar Ayu tiba-tiba masih dengan senyum penuh artinya.

“Eh bukannya tadi abis dari kantin. Udah disini aja lah. Gendut ntar makan mulu kamu Yu.”, kata Kama dengan pandangan penuh permohonan agar Ayu tidak beranjak pergi.

“Lapeeeeer lagi Ma.”, dan begitulah Ayu meninggalkan Kama.

Sepanjang siang itu akhirnya Kama mengerjakan editing artikel bersama Langit, mengoreksi bersama-sama dan menyelesaikannya bersama-sama.

***

“Oke temen-temen, selanjutnya tim layout ya ngebuat layout untuk masing-masing rubrik. Untuk rubrik yang masih perlu dirombak ulang, jangan di ­layout dulu.”, Langit menutup rapat sore menjelang magrib itu. Beberapa menit kemudian azan magrib berkumandang.

Malam itu, kebetulan ada kajian selepas magrib dan isya. Sekolah Kama hanya jeda beberapa rumah dengan Masjid Besar. Sore itu Kama solat di Masjid Besar. Ternyata kajian malam itu membahas Kisah Nabi Ibrahim. Kama berminat untuk mendengarkannya. Kama mengeluarkan HPnya mengabari Ibunya kalau pulang rada malam untuk mengikuti kajian di Masjid Besar. Penceramah malam itu memulainya dengan menjelaskan  keadaan remaja sekarang.

Zaman sekarang, siapa yang tidak mempunyai HP? Zaman sekarang siapa yang tidak menggunakan internet? Zaman sekarang siapa yang tidak memiliki sosial media? Ada pasti, tapi sedikit dari yang banyak sekali. Akses informasi begitu mudah sekarang. Semua orang pun bebas menyebarkan berbagai hal. Tentu ada yang menyebarkan hal-hal yang bermanfaat tapi tak sedikit yang juga menyebarkan hal-hal penuh mudharat. Kita harus sadari itu. Kita harus bisa memfilter diri, mana-mana saja hal-hal yang perlu kita serap dan hal-hal yang perlu kita buang.

Namun, nyatanya remaja sekarang kebanyakan tidak memiliki “saringan tersebut” kebanyakan justru berkiblat pada apa yang dibacanya, diketahuinya melalui sosial media. Ah ya, memang hal ini juga tak lepas dari peran orang tua sebagai kontrol selain remaja sendiri. Bagaimana seharusnya orang tua menanamkan filter yang baik untuk memberikan “saringan” terhadap arus informasi yang begitu deras baik yang penuh manfaat maupun yang tidak.

Remaja sekarang tidak bisa dikekang dengan keras karena kecenderungannya untuk memberontak akan sangat besar, pun tak bisa terlalu dilepas karena bisa kebablasan. Sulit memang untuk menyeimbangkan. Orang tua harus tahu kapan harus keras, dan kapan harus lunak. Orang tua harus tahu kapan harus mengizinkan kapan harus melarang. Ini juga berlaku pada anak-anak remaja sekarang harus tahu dimana posisinya, sehingga bisa menempatkan dan membawa diri dengan baik dimasyarakat. Bukan hanya menjadi pengikut di salah satu pihak, menjadi penghujat pihak lain, membela mati-matian sosok yang dikaguminya dengan fanatik, asal-asalan mengikuti tren yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran, dan menyepelekan nilai-nilai agama yang harusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembicara malam itu, mengkaitkan hubungan antara Ismail dan Ibrahim.

Kita harus ingat bagaimana Ismail dan Ibrahim bekerja sama membangun baitullah, atau yang sekarang kita kenal dengan Ka’bah, kiblat seluruh umat islam didunia. Bagaimana mereka berdua bersama-sama membangun, menyebarkan ketauhidan ke seluruh dunia, bagaimana sebagai unit terkecil dalam masyarakat yaitu keluarga, mampu memberikan kebaikan kepada sesama. Pengabdiannya kepada Yang Maha Esa, dengan tunduknya beliau untuk melaksanakan perintahNya untuk menyembelih Ismail. Bisa bayangkan bukan bagaimana perasaan Ibrahim menyembelih anaknya sendiri? Namun karena keikhlasannya, Allah menggantikannya dengan yang lebih baik, menggantikan Ismail dengan seekor hewan. Orang tua memang sejatinya akan selalu melakukan pengorbanan layaknya Ibrahim kepada Ismail. Entah itu perasaan, harta, tenaga dan banyak hal. Ornag tua harus sadar betul, bahwa setiap marahnya, setiap larangannya, setiap hukumannya merupakan wujud cinta kasih dan keikhlasan kepada anaknya, merupakan wujud ketaatan kepada Allah untuk mendidik titipanNya. Bukan semata-mata hanya memanjakan, memberikan makan dan uang, memberikan kebebasan atau sebaliknya, mengekang terlalu keras, melarang anaknya melakukan berbagai hal.

Disisi lain, anak pun harus berbakti kepada orang tua, layaknya Ibrahim, meskipun Ayahnya merupakan penyembah berhala, beliau tetap hormat dan menyayangi Ayahnya, atau layaknya Ismail yang memiliki Ayah seorang Nabi juga hormat dan kasih kepada Ayahnya. Ismail yang patuh kepada Ayahnya ketika melakukan perintah penyembelihan, juga Ibrahim yang berani mengatakan bahwa apa yang dianut Ayahnya bukan hal yang benar. Ibrahim yang tahu bagaimana “memberontak” dengan benar. Anak harus tahu kapan menjadi Ismail kepada Ibrahim dan kapan menjadi Ibrahim kepada Ayahnya.

Lihatlah Ibrahim yang garis keturunannya melahirkan keturunan-keturunan terbaik yang menjadi Wakil Allah di Bumi ini atau akrab kita sebut Nabi dan Rasul. Ya, keturunan terbaik dihasilkan oleh pendidikan terbaik. Pendidikan ini luas ya, bukan terbatas disekolahkan ditempat terbaik tapi lihatlah bagaimana Ibrahim mendidik Ismail juga Ishak. Bagaimana Ibrahim membangun kebaikan-kebaikan, hingga keturunannya pun melanjutkan kebaikan-kebaikan itu. Seorang Ibrahim yang Ayahnya seorang penyembah berhala atau Ismail yang Ayahnya seorang Nabi.

Yang saya tekankan disini adalah siapapun kamu dapat melakukan kebaikan, pun sekelas yang memiliki Ayah seorang penyembah berhala pun yang memiliki Ayah seorang Nabi, yang memiliki suami sekelas Fir’aun, ya istrinya yang bernama Asiyah ibu susuan Musa merupakan salah satu wanita terbaik, pun sekelas Aisyah, istri seorang Muhammad Rasulullah, atau Luth, Nuh, suami dari seorang istri dan anaknya yang jelas jelas mendustakan Allah.

Keluarga merupakan komponen penting, namun individu yang baik bisa lahir dimana saja. Remaja merupakan fase yang sangat penting untuk belajar banyak hal. Kebaikan juga keburukan. Jangan kalian anti kepada keburukan, jangan kalian hujat orang yang melakukan keburukan, hujat sifatnya, bukan individunya. Menurut saya, mungkin saja salah satu alasan Allah menciptakan Iblis adalah untuk mengajarkan keburukan yang tidak mungkin diajarkan melalui malaikat. Dari Iblis kita jadi tahu mana saja hal yang tidak boleh dilakukan. Mana saja hal-hal yang akan membangkitkan murka Allah.

***

Kama turun dari masjid menuju parkiran sekolah mengambil motornya untuk pulang. Menuju gerbang Masjid, tak disangka terlihat Langit juga keluar dari Masjid.

“Hei”, sapa Langit. Berjalan disamping Kama. Kama menoleh kaget. Tidak menyangka Langit juga baru keluar.

“Tadi dengerin kajian juga?”, tanya Langit. Tentu saja pertanyaan retoris. Tentu saja iya, menurut situ ngapain aku baru keluar Masjid jam segini kalau nggak dengerin ceramah?, batin Kama.

Kama hanya mengangguk.

“Bagus ya ceritanya?”, tanya Langit lagi. Kama hanya mengangguk lagi.

“Beruntung ya Ismail, bisa punya keluarga yang sempurna”, gumam Langit. Matanya menerawang.

“Beruntung juga Ibrahim, tetap bisa menjadi hamba terbaik meskipun dari keluarga yang tidak sempurna”, timpal Kama. Langit tertawa.

Dan begitulan sepanjang perjalanan menuju parkiran sekolah hanya kalimat diatas yang menjadi percakapan mereka. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Ah iya, dan Kama berujung diantar Langit pulang hingga ke rumah. Sudah jam 9 malam. Tentu saja  tidak berboncengan, Langit mengikuti motor Kama dari belakang.

“Terimakasih Lang”, ucap Kama didepan pagar pintu rumahnya.

***

Hanin Septina

Aku Bukan Hajar

Karya Hanin Septina Kategori Project dipublikasikan 10 Maret 2017
Ringkasan
aku hanya manusia biasa saja, dengan iman sebesar upil semut yang mencoba menjadi lebih baik dari diriku sendiri yang kemarin.
Dilihat 35 Kali