Kesalehan Nabi Shaleh

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 05 Februari 2017
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

2 K Hak Cipta Terlindungi
Kesalehan Nabi Shaleh

Siapa didunia ini yang tidak mendambakan pasangan yang saleh?

Kama melihat sebuah caption di media sosialnya. Menutup HP nya dan melanjutkan belajar karena besok ada ujian kenaikan kelas. Menatap layar HP terlalu lama dapat menimbulkan kecanduan. Di masa ini, kecanduan tidak hanya berbatas pada narkoba tapi lainnya juga semacam drama korea, scrolling timeline media sosial, menatap layar HP untuk sekadar melihat notifikasi. All of this is kind of new addiction yang bisa menyebabkan hilangnya ingatan didunia nyata karena sibuk mengikuti arus dunia maya. Besok adalah ujian fisika, salah satu mata pelajaran yang paling Kama tidak suka karena susah. Ya, sesuatu yang menyulitkan tidak pernah akan disukai manusia. Sulit hidup, sulit uang, sulit mengerjakan sesuatu, sulit mendapatkan sesuatu dan sulit, sulit yang lainnya. Sebenarnya bukan hanya pelajarannya yang sulit, tetapi juga gurunya. Sulit dimengerti penjelasannya. Kama membuka-buka catatannya, tetapi pikirannya memikirkan hal lain. Surat kaleng yang biasanya ada disepedanya, seminggu sekali, minggu ini tidak ada. Kama seharusnya tidak peduli, tapi sebaliknya dia peduli, penasaran siapa orang yang mengiriminya surat itu.

Tik tok tik tok. Jam di dinding kamar Kama menunjukkan pukul 22.00 yang dihabiskan dengan melamunkan hal yang sesungguhnya sangat tidak penting. Kama menyesal tetapi waktu telah terbuang tak bisa kembali. Kama menyesal tapi dia juga terlalu mengantuk untuk memahami catatan yang dari awal memang tidak bisa dia pahami. Dalam hatinya menyelipkan rasa menyalahkan gurunya yang tak bisa mengajar itu. Di sisi lain hatinya menyalahkan dirinya kenapa tidak belajar lebih giat. Akhirnya Kama tertidur. Pasrah, kalaupun ujian nantinya hasilnya jelek, dia yakin dia tidak sendirian. Kalaupun ada yang mendapatkan nilai baik maka itu hanya outlier satu hingga tiga orang dari teman-teman sekelasnya, atau mungkin se kelas yang diajar oleh guru tersebut. Hatinya tenang, Kama tertidur pulas hingga esok hari.

***

Jam istirahat berbunyi. Kama dan Ayu sahabatnya berjalan ke kantin. Ditengah perjalanan, mereka berpapasan dengan dia yang pernah menyatakan perasaannya ke Kama. Ayu menyenggol-nyenggol Kama, “nggak usah gitu banget ih ngeliatnya”, bisik Ayu. Kama segera memalingkan pandangannya. Fokus menuju kantin. Ayu senyum-senyum disebelahnya. Sesampainya di kantin mereka berdua memilih tempat duduk paling pojok, bebas dari kerumunan.

“Ka, kamu kalau bakal nyesel kaya gini kenapa dulu nggak diterima aja?”, tanya Ayu polos.

“Aku emang nyesel ya?”, tanya Kama balik. “Yaelah keliatan kali. Kenapa sih kamu tolak dulu? Gara-gara belum boleh pacaran sama orang tua ya?”

Kama mengangguk. “Selain itu, aku tidak menemukan tujuanku pacaran sama dia. Mau ngapain? Aku mikir kalau nanti kuliah bisa beda kota. Mau nikah nggak lah masih bau kencur begini. Lalu buat apa?”

Ayu mengangguk-angguk. “Iya sih. Bener juga ucapan kamu. Tapi rasanya banyak sih yang pacaran dari SMA bisa nikah.”

“Iya sih Yu. Tapi yang nggak nikah juga banyak. Kita ini kan lagi masa puber. Bisa jadi hari ini suka, besok udah nggak lagi”. Kama menyeruput kuah bakso yang dibelinya barusan. Segar sekali rasanya.

Ayu mengangguk-angguk lagi. “Lalu, kenapa kamu kok keliatan menyesal gitu Ka?”

“Karena dia baik Yu.”, jawab Kama jujur. Ayu tertawa, “Ciyeeeee yang baik.”

Kama pura-pura tidak mendengar.

Siapa didunia ini yang tidak akan jatuh hati kedalam sesuatu yang disebut kebaikan? Batin Kama.

***

Esktrakurikuler Majalah Dinding

“Kama, kamu handle untuk penerbitan majalah sekolah tahun ini ya. Kamu jadi pimpinan redaksi. Langit, kamu jadi pimpinan umumnya.” Gunawan, Ketua Ekskul Mading sedang membagikan tugas untuk rencana kerja setahun kedepan. Langit mengangguk, Kama juga melakukan hal yang sama.

Profesional. Profesional. Ingat kata Ibu. Lagipula yang tahu urusan tembak-menembak itu hanya Ayu, Ibu dan Tuhan saja. Tenang Kama. Tenang. Batinnya.

***

Sore itu, di halaman belakang ngeteh bersama ibu. Bercerita tentang Nabi Shaleh.

Sekali lagi, tugas berat seorang pembawa risalah untuk menyebarkan kebaikan didunia ini. Untuk menjadi khalifah dibumi. Nabi Shaleh dan kaumnya, Tsamud.

Siapa yang tidak mengenal kaum yang juga mendustakan utusan Allah, menolaknya dan tetap memilih untuk menyembah berhala. Tentu saja kaum ini diberikan kenikmatan yang berlimpah layaknya kaum-kaum sebelumnya. Diberi kekuasaan, harta tapi mereka tetap ingkar. Berlaku sombong dan meremehkan Shaleh. Layaknya kaum sebelumnya, mereka meminta bukti, meminta azab jika memang risalah yang dibawa Shaleh adalah benar adanya. Hati mereka terkunci untuk dimasuki kebaikan-kebaikan. Kaum Tsamud mensyaratkan kepada Shalih untuk mendatangkan mukjizat yaitu berupa unta yang begini dan begini dari batu besar tersebut...

Dan Shaleh memenuhi syarat tersebut atas izin Allah tetapi mereka tetap ingkar bahkan dengan mukjizat dibawah hidung mereka, didepan mata mereka yang melihat secara langsung. Mereka membunuh unta tersebut, setelah Shaleh memperingatkan menjaga unta betina tersebut karena merupakan unta Allah sebagai pertanda Kekuasaan Allah, Mukjizat Allah, Kebesaran Allah bahwa tiada Tuhan selain Allah yang mampu menciptakan apapun.

Hingga akhirnya sebagaimana ending dari kisah kaum ‘Ad, kaum Tsamud pun berakhir dengan murka Allah, yang memberikan azab seperti yang mereka inginkan.

***

“Dan sekarang ya Bu, ditahun 2017, banyak manusia yang mengundang murka Allah.”, kata Kama.

“Maksud Kama?”

“Ya gitu bu, merasa paling benar. Yang lain-lainnya salah, merasa paling baik. Yang lain-lainnya jelek. Merasa yang paling suci. Yang lain-lainnya penuh dosa.”

***

  • view 150