Kerinduan terhadap Sang Pembawa Risalah

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Agama
dipublikasikan 02 Februari 2017
Kerinduan terhadap Sang Pembawa Risalah

Wahai kamu yang selalu dicintaiNya, umatmu sedang dirundung kebingungan. Kebingungan untuk mencari kebenaran. Kebenarannya masing-masing. Dengan menyalahkan pihak yang tak sesuai dengan kebenaran. Dengan memusuhi pihak yang tidak sesuai dengan kebenarannya.

Wahai kamu Sang Tauladan, tak bisakah kamu meminta izinNya, sejenak turun ke Dunia untuk bertemu dengan umatmu, yang sungguh merindukanmu. Untuk menjawab setiap tanda tanya besar dalam hati umatmu, tentang risalah, tentang agama yang kamu bawa ribuan tahun lalu. Tunjukkanlah jalan kebenaran sesuai dengan yang Dia wahyukan padamu.

Wahai kamu yang hingga akhir hayat masih saja memikirkan umatmu, karena ketidakberadaanmu ditengah-tengah mereka untuk membimbing dan menunjukkan jalan kebenaranNya. Tapi mungkin jika kamu datang, aku justru malu menunjukkan wajah umat yang dulu kala dengan susah kamu bimbing agar menjadi khalifah di bumi ini.

Wahai kamu yang selalu dirindukan, aku merindukan kedamaian untuk menjalankan risalah yang kamu bawa dengan sebaik-baiknya, untuk diriku sendiri. Bukan untuk dipamerkan, ataupun menyalahkan pihak-pihak lain. aku tak mengerti politik, intrik dan perebutan kekuasaan. Tapi aku merasakan bahwa kemurnian risalah yang kamu bawa telah ternodai oleh kepentingan-kepentingan si pengabdi iblis yang selalu mendengarkan dan melaksanakan bisikan-bisikannya.

Wahai kamu yang akhlaknya paling sempurna, aku rindu, aku ingin bertemu, aku ingin menimba ilmu dari mu yang begitu dekat dengan Sang Pemilik Ilmu, yang sekalipun ku gunakan laut sebagai tinta tak akan habis ilmu yang dimilikiNya. Ajari aku, untuk memahami Qur’anMu dengan sebaik-baiknya, untuk menjadi manusia yang bisa kamu andalkan untuk menegakkan agamamu, untuk menjadi khalifah dibumi, bukannya pembuat kerusakan karena manusia (aku) memiliki kedua potensi tersebut.

Wahai kamu yang telah menggenggam surga sekaligus pembawa tugas terberat, aku ingin percaya bahwa setiap kebaikan akan selalu terbayar, tentu kebaikan yang dicatat malaikat Raqib, bukan yang dibicarakan manusia.

  • view 131