Dunia Masa Depan Kaum Hud

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 24 Desember 2016
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Dunia Masa Depan Kaum Hud

Pertemuan merupakan sebuah rangkaian kebetulan yang bukan kebetulan.

Kama melihat sebuah kertas yang diselipkan di sepedanya. Tanpa nama tanpa identitas lainnya. Kama membaca sebuah kalimat yang tertera didalamnya. Tidak mengerti dan memutuskan untuk membuangnya ke tempat sampah.

***

Semoga kamu yang membaca tulisan ini, secara kebetulan bisa dipertemukan denganku.

Hari keempat pada minggu yang sama, Kama menemukan potongan kertas itu lagi. Dengan tipe tulisan yang sama dan masih tanpa identitas. Sekali lagi Kama mengabaikannya.

***

Sudah ketiga kalinya. Aku rasa kebetulan ini bukan lagi sebuah kebetulan lagi.

Hari keempat pada minggu berikutnya, Kama menemukan potongan kertas itu lagi. Dan sekali lagi Kama mengabaikannya pulang ke rumah dan menceritakannya kepada Ibu.

***

“Ibu, masa di tahun 2016 ini masih jaman ya bu, pakai surat-suratan. Padahal kan bisa pakai SMS, Whatsapp, Line, Facebook dan media sosial lainnya.”, Kama memulai curhatannya.

“Memang kenapa Kama tanya seperti itu?”, tanya Ibu lembut.

“Itu ada yang ngirimin Kama surat, tanpa identitas, nyelipin di sepeda Kama. Nggak jelas banget”, jawab Kama dengan muka sebal.

Ibu tersenyum, “Namanya juga naksir, nak. Ya begitulah. Sudah nggak perlu sebal. Dinikmati saja, ditaksir orang”

“Iya sih ya bu. Toh enggak ganggu hidup Kama sih. Tapi Kama kadang sedikit takut. Ngeri gitu, kaya surat kaleng”

“Iya sudah cuekin aja. Kalau sudah mulai ganggu baru deh bertindak. Kalau masih surat-surat gitu doang nggak apa nak”, kata Ibu menenangkan.

Kama mengangguk, “Bu, ceritain lagi dong Bu tentang Nabi-Nabi seperti biasanya.”,kata Kama bersemangat.

“Baca saja, kan banyak buku-buku di perpustakaan.”

“Ah, nggak seru Bu. Seru kalau Ibu langsung yang cerita”

“Baiklah”

Ini adalah sebuah kisah pada sebuah peradaban yang sudah maju, kaum ‘Ad, kaum Nabi Hud. Sama dengan kisah pada umumnya, kaum ‘Ad dimusnahkan karena tidak menaati Allah, tidak menaati apa yang dibawa Nabinya untuk menempuh jalan Allah. Jalan keimanan.

Kaum ini merupakan kaum pertama penyembah berhala. Nenek moyang berhalaism setelah peristiwa banjir besar yang memusnahkan kaum Nuh.

Kaum ini juga merupakan kaum yang Sombong. Sombong begitu ditekankan disini karena kaum ini merupakan kaum yang paling kuat pada zamannya. Kaum ini juga mampu membangun bangunan-bangunan tinggi, megah.

Bisa dibayangkan betapa luar biasa bangunan dan kekuatan yang dimiliki kaum ini. Betapa layaknya mereka untuk sombong karena mereka begitu kuat, mereka begitu luar biasa. Mereka mampu membangun bangunan-bangunan yang sebelumnya belum pernah ada. Mereka menganggap mereka mampu melakukan hal-hal luar biasa, hingga perasaan itu menjadikan mereka sombong dan mengabaikan risalah yang dibawa Hud.

Sekuat itu kaum Ad, dengan mudah, dengan kehendak Allah, Allah memusnahkan mereka karena mereka ingkar.

Seharusnya kisah ini membuat manusia sadar, bahwa mereka hanyalah butiran debu, bahkan mungkin malah butiran atom, didepan Yang Esa. Tak ada yang patut disombongkan.

Begitulah akhir kaum yang kuat tapi ingkar kepada Yang Maha Kuat

“Mungkin begitu pula kecantikan ya bu?”, tanya Kama tiba-tiba.

“Maksud Kama?”

“Yah banyak kan yang ingin cantik jaman sekarang. Ingin langsing, ingin putih, ingin rambut nya lurus, alisnya tebal, payudaranya besar, wajahnya tirus, pantatnya besar, wajahnya mulus. Buat pamer kalau dia cantik”

Ibu menatap Kama, tidak menyangka anaknya berpikir sejauh itu.

“Iya, nak. Didunia serba materi sekarang ini, justru hal-hal penting malah diabaikan. Banyak orang yang sibuk mempercantik jasmaninya, tapi justru rohaninya tidak ikut dipercantik. Yang harusnya jadi prioritas malah diabaikan. Kama harus bersyukur ya nak, diusia semuda ini Allah sudah membuka hati dan pikiran Kama untuk berhijab”

Kama mengangguk. Kama menyadari bahwa ada contoh nyata didepan mata, sosok wanita baik hati, lembut dan cantik yang berhijab. Ibunya. Ibu. Memang tak ada yang mengalahkan tauladan. Mungkin karena itulah Rasulullah dibilang teladan yang baik. Karena pengajaran yang paling baik dan meresap adalah melalui teladan.

  • view 153