Perasaan Nuh?

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 27 November 2016
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Perasaan Nuh?

Kama’s Diary

Memutuskan untuk memakai jilbab mungkin adalah sebuah keputusan besar bagi sebagian. Layaknya cinta, perjalanan memakai jilbab bagi tiap orang pasti berbeda-beda. Ada yang iseng, ikut-ikutan teman, disuruh orangtua, karena sekolah mewajibkan memakainya, ada yang bahkan dilarang orang tuanya. Setelah memakai pun perjalanan yang dilalui juga bermacam-macam. Ada yang pagi pakai sore copot, ada yang hanya memakainya di sekolah, ada yang memakainya hanya pas pergi bersama teman-teman, ada yang memakainya sembunyi-sembunyi, ada yang memakainya kalau ada orang tuanya. Dari berbagai bentuk jilbab juga bermacam-macam, ada jilbab modifikasi, ada bergo, segiempat, pashmina.

Mungkin diera sekarang sudah banyak sekali wanita yang memakai jilbab. Entah hanya mengikuti mode ataupun mengikuti tuntunan agama. Tuhan yang berhak menilai. Manusia tidak. Tidak perlu nyinyir dengan yang pakai jilbab minimalis, tidak perlu nyinyir pula dengan yang memakai jilbab gede/ cadar. Bisa nggak ya, ya sudah saling menghormati masing-masing saja.

Dan entah kenapa aku tidak setuju dengan logika pilih mana pakai jilbab tapi kelakukan minus atau nggak pakai jilbab tapi kelakuan baik. Ah, logika macam apa itu?

Manusia itu dinamis kan? Bisa jadi hari ini baik besok jadi jahat, begitupun sebaliknya. Kalau yang sudah pakai jilbab ya alhamdulillah sudah menutup aurat, urusan kelakuan ini tak hanya berlaku pada wanita berjilbab tapi ya semua orang juga kalau perbuatan itu harus santun. Memangnya kalau pakai jilbab terus jadi malaikat gitu? Atau kalau nggak pakai jilbab jadi setan gitu?

Dan untuk yang belum berjilbab tapi berlaku santun, ya sudah kita hormati saja pilihannya untuk belum memakai jilbab, tak usah disalah-salahkan tak usah dinyinyiri, yang ada juga diajak biar pake dengan santun tentunya, bukan dengan menyalahkan.

***

Sore itu, seperti biasa sepulang sekolah setelah Kama makan dan mandi, ibu membuatkan teh hangat dan biskuit untuk Kama. Berbincang ringan. Udara sore ini cukup dingin dan teh hangat merupakan menu yang paling pas. Ibu dan Kama duduk berhadap-hadapan dan mulai berbincang.

“Ibu, temen Kama yang kemarin bilang suka sama Kama, sudah punya pacar lhoh Bu”,  Kama membuka percakapan.

“Terus?”

“Udah Bu, nggak ada terusannya”,jawab Kama datar.

“Kama sakit hati ya?”, goda Ibu.

“Nggak sih Bu, biasa saja”,jawabnya dengan muka sedikit dilipat.

“Sakit hati juga nggak apa kok Nak. Wajar”, kata Ibu. Kama mengangguk pelan.

“Kok bisa ya Bu, kemarin bilang apa besoknya udah nembak cewek lain”

“Hahahaha. Ya wajar Nak, namanya remaja seumuran Kama ya masih labil gitu. Tenang aja. 3 tahun dari sekarang deh kalau Kama inget pernah sakit hati sama teman Kama itu, pasti ketawa-ketawa sendiri.”

“Sudah, itu diminum dulu tehnya”

“Bu, teman Kama itu, satu organisasi dengan Kama untuk setahun kedepan”

“Lalu?”

“Kama malas berurusan dengan dia”

“Nih ya, Kama, tips dari ibu : Kama harus profesional. Memang sih nggak mungkin kaalau nggak melibatkan perasaan urusan pribadi di pekerjaan, tapi Kama harus belajar, anggap aja latihan untuk kehidupan Kama dimasa datang. Udah biasa aja. Nggak perlu malas. Lagipula kan Kama nggak ketemu sama dia saja kan, masih banyak teman Kama yang lain.”, jelas Ibu. Kama mengangguk dan meresapinya.

“Nih Ibu ada cerita soal urusan perasaan pribadi dalam profesionalitas pekerjaan”, ucap Ibu.

“Apa Bu?”, tanya Kama penuh rasa penasaran.

Ini adalah sebuah kisah mengenai seorang yang sangat terkenal yaitu Nabi Nuh dan bahteranya. Nabi Nuh diutus kepada kaumnya untuk mengajarkan Tauhid, menyembah kepada Allah. Pada generasi setelah Nabi Adam. Periode waktu Nuh untuk berdakwah kepada kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Selama itu Nuh didustakan oleh kaumnya. Selama itu pula Nuh bersabar menghadapi kaumnya. Selama itu pula Nuh tak pernah menyerah untuk mengajak kepada kebaikan. Selama itu pula, Nuh selalu berjuang. Hingga Nuh merasa lelah, merasa tidak kuat dan memohon kepada Tuhannya. Hingga Tuhan memerintahkannya untuk membuat sebuah bahtera untuk menyelamatkan mereka yang percaya kepada Nuh, mereka yang beriman pada Tuhan.

Dan dari sekian banyak kaum Nuh yang terkena azab, terselip didalamnya istri dan anaknya, yang tentu saja disayangi oleh Nuh. Bisa kan, membayangkan perasaan Nuh, melihat orang yang disayanginya, terkena azab dan tidak bisa menyelamatkan mereka. Bagaimana sedihnya, bagaimana kecewanya. Tapi Nuh tetap profesional tetap menjalankan perintah Tuhannya, tetap teguh pada keimanannya. Coba bayangkan jika Nuh mementingkan perasaannya, membela istri dan anaknya sendiri.

Nuh sudah mengajarkan kita bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik, meskipun sesuatu yang menurut kita buruk.

“Ya, sama halnya dengan Kama dan teman Kama itu. Mungkin Allah pengen Kama belajar, belajar biasa saja, bahwa perasaan itu bisa lho kalau dipasrahkan sama Allah.”

“Kama, masih menyimpan rasa sama teman Kama itu? Menyesal dengan keputusan Kama?”, tanya Ibu lagi. Kama hanya mengangguk. Entah menjawab pertanyaan pertama, kedua atau keduanya.

“Jadi, nama teman Kama itu siapa? Ibu boleh tahu?”, tanya Ibu penasaran.

Kali ini Kama menggeleng, menyeruput teh hangatnya yang sudah mendingin.

“Nggak penting Ibu. Dia hanya seseorang yang secara kebetulan ditakdirkan mampir bentar dihati Kama”, jawab Kama diplomatis.

***

 

  • view 153