Pacaran dan Nabi Adam

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Project
dipublikasikan 15 Oktober 2016
Perjalanan Cinta

Perjalanan Cinta


Cinta dalam Dimensi Waktu

Kategori Spiritual

1.6 K Hak Cipta Terlindungi
Pacaran dan Nabi Adam

“Ibu, pacaran itu apa?”, tanya Kama kepada Ibunya. Ibu tersenyum mendengar pertanyaan anaknya.

“Kenapa tiba-tiba Kama seperti itu?”, tanya Ibu balik.

“Banyak yang bilang kalau pacaran itu Haram. Tapi disisi lain, banyak pula yang melakukan. Pacaran itu Haram ya Bu?”, tanya Kama polos.

“Wah, Ibu belum cukup ilmu untuk memutuskan perkara halal dan haram nak. Yang ibu tahu, di Al Qur’an tidak pernah menjelaskan tentang pacaran. Memang ada yang ngajakin Kama pacaran?”

Kama mengangguk malu-malu.

“Lalu, Kama bilang apa?”

“Kama jawab mau bilang ibu dulu”, sekali lagi Ibu tersenyum mendengar jawaban anaknya.

“Lalu, sekarang Kama sudah tahu jawabannya?”

Kama menggeleng, “Masih belum tahu Bu”.

“Hmmm.. sekarang Ibu tanya sama Kama. Kalau kama sendiri, suka tidak sama yang ngajakin Kama pacaran? Perasaan Kama sama dia bagaimana?”, tanya Ibu balik.

Kama berpikir lama. “Kama enggak tahu Bu. Selama ini dia teman Kama yang baik. Kama berhubungan baik dengan dia. Enak untuk diajak ngobrol.”, jawab Kama kemudian.

“Lalu, kalau misalnya Kama sudah berpacaran, apa selanjutnya?”, tanya Ibu lagi.

Sekali lagi Kama menggeleng, “Kama tidak tahu Bu”.

“Ibu boleh kasih nasehat?”. Kama mengangguk.

“Jalan terbaik untuk 2 orang yang saling mencintai adalah pernikahan. Tapi umur Kama baru 15, tentu saja Ibu belum mengizinkan Kama untuk menikah. Jalan Kama masih panjang. Dan Kama masih dalam masa pertumbuhan, baik jasmani serta rohani. Berteman saja ya, Nak. Ibu tidak pernah melarang Kama untuk berteman dengan siapa saja. Umur Kama sekarang, itu waktunya untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Mencari teman sebanyak-banyaknya.”, jelas Ibu panjang lebar.

Kama terlihat sedikit kecewa. Ibu bisa membacanya, “Kama masih ada yang ingin diceritakan? Bilang saja Nak. Ibu akan mendengarkan Kama. Tidak akan menyalahkan”

Kama mulai bercerita, “Teman-teman Kama bilang kalau terima saja ajakannya karena dia baik. Dan selain itu, banyak juga teman-teman sekitar Kama yang berpacaran Bu.”

Ibu mengerti, di era serba bebas seperti ini dan bersekolah di sekolah umum tentu Kama akan bertemu orang-orang dengan berbagai karakter seperti teman-temannya dengan background keluarga yang berbeda-beda. Ibu harus mengerti, tidak bisa hanya melarang ini-itu tanpa memperhatikan dunianya. Tanpa memperhatikan usianya dan keadaan sekitarnya.

“Kama pengen pacaran juga?”, tanya Ibu lagi. Kama diam saja, tetapi Ibu tahu jawabannya. Sudah tercetak jelas di wajahnya.

“Ibu tidak mengizinkan ya?”, tanya Kama.

“Sebelum ibu jawab, ibu boleh bercerita?”, tanya Ibu balik. Kama mengangguk.

“Ini kisah tentang nenek moyang manusia, Nabi Adam dan Ibu Hawa”, Ibu memulai ceritanya.

Adam bertemu dengan Hawa di surga. Mereka hidup bahagia hingga mereka mendengarkan rayuan Iblis dan melakukannya. Tidak ada yang salah dengan rayuan Iblis. Memang sudah menjadi tugas Iblis untuk merayu manusia. Dan tugas manusia untuk tidak terbujuk oleh rayuan Iblis. Allah sudah memberikan peringatan kepada Adam mengenai hal-hal yang dilarang yang tidak seharusnya Adam lakukan. Akan tetapi, Adam melakukannya karena terbujuk oleh rayuan Iblis. Apakah rayuan Iblis?

Untuk membuka aurat keduanya.

Apakah hukuman dari Allah? Adam dan Hawa terusir dari surga. Kama tahu? Semua jenis zina yang terjadi dalam kehidupan sekarang juga karena aurat. Maraknya video porno, bacaan porno, tontonan-tontonan yang menampakkan sebagian besar aurat juga mendukung terjadinya zina didunia sekarang ini. Hal itu sudah dijelaskan dalam Al Qur’an beribu tahun yang lalu mengenai penciptaan Adam dan penyebab Adam dan Hawa turun dari surga.

Didunia hidup Adam dan Hawa tidak mudah, namun karena ketakwaan kepada Allah, keduanya berhasil untuk melewatinya hingga kemudian bertemu lagi dan memiliki keturunan.

“Sekelas Nabi saja bisa tergelincir oleh Iblis. Apalagi kita yang imannya pas-pasan ini. Lebih jauh lagi apalagi Kama, yang kalau boleh Ibu meminjam istilah jaman sekarang “masih labil” dengan usia Kama sekarang, lebih baik menghindari hal-hal yang berpotensi besar mendatangkan kerugian.”

“Ibu tahu, Kama pasti pengen seperti teman-teman Kama yang lain, yang berpacaran. Bisa berdua-duaan, bisa gandengan tangan, bisa romantis-romantisan, dan lain-lainnya. Tapi Kama, anggap saja ini latihan “mengekang hawa nafsu” Kama. Mungkin Kama belum merasakan manfaatnya sekarang, tapi percaya deh, Kama tidak akan menyesal dikehidupan mendatang hanya karena nggak berpacaran.”

“Ibu bagi rahasia sedikit, semua itu hanya butuh kebiasaan. Kalau Kama terbiasa untuk “mengendalikan hawa nafsu”, Kama akan terbiasa mengendalikan kehidupan Kama sendiri. Tidak terpengaruh dengan arus zaman, dan tetap menjadi diri Kama sendiri bukan meniru-niru orang lain hanya agar bisa diakui, bisa eksis.”

Kama mengangguk-angguk. Belum sepenuhnya mengerti. Tapi Kama yakin, bahwa kata-kata Ibu adalah untuk kebaikan Kama.

“Jadi, sekarang sudah bisa jawab?”, tanya Ibu. Kama mengangguk. Tiba-tiba dalam pikirannya terbersit sesuatu, “Menurut Ibu, bagaimana kalau Kama pakai jilbab?”

***

 

  • view 261