Masih perlukah Berdoa?

Hanin Septina
Karya Hanin Septina Kategori Filsafat
dipublikasikan 12 Oktober 2016
Masih perlukah Berdoa?

Pernahkah kamu bertanya, mengapa kita harus berdoa? Toh, Tuhan sudah tahu bagaimana takdir kita. Bukannya Dia Maha Tahu?

Bukannya Tuhan sudah tahu garis hidup, bagaimana kehidupan kita akan berjalan. Bukannya Dia Memang Tahu Segalanya. Lalu buat apa kita berdoa? Hanya menghabiskan waktu saja, bukan? Dan juga melelahkan.

Pernahkan kamu berpikir, bahwa ketika kita berdoa, kita minta macam-macam. Minta ini, minta itu. Minta cepat dikabulkan. Minta semua yang kita inginkan. Bukannya Tuhan sudah tahu yang terbaik? Buat apa kita mendikte Tuhan yang sekali lagi Maha Tahu, Maha Segalanya. Semakin yakin bukan, tak ada gunanya berdoa dihadapan Dia Yang Maha Segalanya?

Tapi disisi lain, kalau kita tidak berdoa, bukannya kita akan dianggap sombong? Merasa tidak butuh Tuhan? Ah, repot sekali perihal berdoa saja.

Mari kita sederhanakan saja,

Menurutku, berdoa bukanlah ajang meminta segalanya pada Yang Maha Segalanya, bukan ajang memberi tahu pada Yang Maha Tahu tapi aku rasa berdoa adalah ajang CURHAT. Ya, Curhat. Curhatkan saja tentang semuanya. Tentang sekolahmu, pekerjaanmu, atasanmu yang menyebalkan, temanmu yang mengkhianatimu, gajimu yang tak kunjung naik, hidupmu yang datar, jodoh yang tak kunjung datang, Ceritakan saja semua. Hingga hatimu merasa lega, hingga kamu sadar bahwa Dia selalu ada disampingmu untuk mendengarmu, juga menolongmu. Hingga kamu menertawakan kehidupanmu, menertawakan semuanya bersama Dia Yang Melukis Takdir. Hingga kamu sadar bahwa semua yang telah, sedang dan akan terjadi merupakan Garis Takdir yang telah diGariskan olehNya. Hingga beban dipundakmu seakan terangkat, meskipun beban itu masih nyata adanya didunia dan setelah berdoa kamu tetap harus menghadapinya.

Akan tetapi kamu tahu, bahwa Dia akan selalu menemani setiap langkah perjalananmu, lalu apa yang perlu kamu khawatirkan?

Sekali lagi, doa bukan ajang meminta tapi ajang untuk Bersujud, bahwa kita manusia itu hanya butiran debu atau bahkan lebih kecil dari debu yang tidak ada daya tanpa kekuatan dari Yang Maha Kuat, lalu apa yang perlu disombongkan?

Doa bukan ajang meminta, tapi ajang untuk Bangkit, bahwa jalan yang kita tempuh adalah yang terbaik darinya. Untuk dijalani sebaik-baiknya, untuk bekal di hari pembalasan.

Doa bukan ajang untuk mendikte, tapi ajang untuk Pasrah, bahwa setiap mikrometer gerakan kita, manusia adalah Dia yang menggerakkannya.

Doa adalah saatnya kita, manusia berkomunikasi, bercerita dengan Tuannya, Sang Pemilik Alam Semesta, setinggi itu maknanya menurutku. Tak sekadar untuk meminta ini itu.

Manusia memang makhluk penuh keinginan. Ingin ini ingin itu. Wajar. Manusiawi karena kita manusia yang berakal.

  • view 291