surat yang takan pernah terbaca

Septi Dhiniez
Karya Septi Dhiniez Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Agustus 2016
surat yang takan pernah terbaca

Kau mambaca suratku tempo lalu? Iya surat elektronik itu.. Surat yang haya berisi satu kalimat "Apa Kabar"

Sebenarnya aku ingin mengirimkan surat dengan tulisan tanganku , meski sungguh tulisanku tak begitu rapi..


Tenang saja, aku takan mengirim surat yang isinya adalah puisi yang diksinya aneh atau peribahasa dan kiasan yang berbelit - belit. Kau pasti takan mengerti, hahaha sebab akupun sering dibuat linglung oleh puisi yang aku buat sendiri, haha

Tenang saja, aku hanya akan menanyakan tentang kabarmu saja sekarang. Perihal kamu hari minggu kemarin bekerja lagi kah? Lembur untuk apa? Bekerja full time demi siapa?  Atau bertanya sekarang kamu bagaimana? Masih pendiam seperti dulu? Masih tak mau berpetualang ke tempat yang lebih jauh dari tempat kerjamu itu? Apa  kau masih ingat permintaanku untuk mentlaktir es krim saat kita bertemu nanti. Aha terlalu banyak ya pertanyaanku dan maaf telah membuatmu kebingungan dengan berbagai macam ocehanku.Semoga saja kamu tak bosan ya dengan segala ke cerewetan yang aku tujukan padamu, apalagi aku sering gemas tentang kamu yang begitu hemat kata - kata, hemat suara dan hemat tertawa. 

Namun sayang sekali ya, surat tulisan tanganku itu takan pernah terkirim. Karena apa? Tentu saja karena kamu tak pernah memberikan alamat lengkap di kota mu sekarang.. Aku hanya mampu berbasa basi tentang kabarmu sekali saja. Nyaliku sudah menciut saat kau balas emailku hanya menjawab ala kadarnya saja. Tanpa menanyakan pula aku disini bagaimana? Merindukanmu atau tidak? Apa tidurku nyeyak? Ataukah aku kini sedang melamun? Atau malah sedang merutuki nasib tentang kisah kita, maaf aku ralat maksudku kisah aku saja. 

Kamu  jahat? Ah menurutku tidak. Setiap orang punya hak nya tersendiri bukan untuk memilih siapa yang akan kau sukai. Bahkan kamu tak tau bukan aku menyimpan perasaan lebih kepadamu.  Lalu apalah aku? Hanya debu yang bertebaran disekitarmu. Debu sering merepotkan bukan? Tapi debu pula yang setia menemanimu dihari - hari terik setiap kamu bertugas..

Dan kini, bolehkah aku menuliskan sebuah puisi? Tapi Kamu jangan tanya ya artinya apa?  Karena aku tak mau lagi menjelaskan apapun kepadamu.. 

 
 
 
Walau masih ku dengar suaramu
Aku kan tetap melangkah
Walau masih kurindu bayangmu
Biarlah hati ini tetap membuncah

Keruh mata hati,  gelap rasanya
Keruh hati ini,  pedih dan perih
Kemanakah harus ku cari pujaan hati?
Biar ditelan mimpi dan halusinasi
Biarlah ku simpan di relung hati

Selaksa baru kulihat senyum mu
Sekilas, dalam senja di mega biru
Selalu kan ku harap senangdungmu
Jadikan dian di lubuk hatiku

Keruh mata hati,  pilunya kalbu
Keruh hati ini,  musnahkan asa
Akankah selamanya aku merasa lara?
Sedang batin ini berkata tidak
Munafikah aku ini?
Mengatakan tak mengapa

Tuhan..
Musnahkan rintihan batinku
Dalam nyata aku ingin bertanya
Dalam sepi aku ingin berdo'a
 
 

 
Pada akhirnya, puisi itu masih tersimpan di draft email, akan ku kirim kepadamu atau tidak, itu masih aku fikirkan..
 
 

  • view 263