Menjadikanmu Biasa

Senna Puger
Karya Senna Puger Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 26 Januari 2016
Menjadikanmu Biasa

Aku, lalu kamu, kita tau kita tak lihai berpura-pura. Menyembunyikan apapun bukanlah keahlian kita. Tapi, Kini, seolah kita menjadi juara dunia kepura-puraan. Melangkah masing-masing dengan telapak kaki yang dipaksa kuat, dan bibir yang tetap tertutup rapat-rapat. Aku pergi, kamu pergi, sampai batas waktu yang tak pernah sama sekali disepakati akhirnya.

Adalah berdiri dibawah langit yang hujan, menikmati setiap aroma dan tetes demi tetes rintik menenangkan, Ah, mampukah aku menjadikan hujan yang meneduhkan ini biasa?

Adalah berhadapan dengan senja, menikmati jingganya yang memesona, ditambah kumpulan awan, dan cahaya yang menembus sela-sela. Ah, mampukah aku menjadikan senja yang indah ini biasa?

Adalah bertemu dengan bintang-bintang malam, yang gelap tanpa memaksaku kagum denganmu, mampu membuat bibirku kelu, dan hatiku mengucap syukur beribu-ribu. Ah, mampukah aku menjadikanmu biasa?

Adalah Aku, yang di manja takdir, bertemu denganmu-mengenalmu-hidup dekat denganmu, yang tanpa perlu definisi apa-apalagi, telah membuatku jatuh cinta, mampukah aku menjadikanmu biasa?

Sejujurnya.. setiap detik demi detik yang aku hirup, aku tak pernah menemukan kesempatan untuk menjadikanmu biasa. Bahkan, pada saat mataku terpejam, pada saat telingaku tertutup rapat-rapat, pada saat hatiku tak henti-henti mengucap ampun; cinta ini tetap tumbuh dan bermekaran.

Namun, apa yang dibanggakan dari kekaguman yang melenakan? Membuat lupa akan hakikat jiwa untuk apa ia dihidupkan. Adalah tentang kita: Aku dan Kamu, telah memilih jalan yang sama. Dengan begitu, kita tak perlu membiasakan apapun, biar cinta ini tetap hidup, dan berserah pada akhir penantiannya: ketentuanNya.

bit.ly/MenjadikanmuBiasa_

  • view 273