Merantau

kinan senja
Karya kinan senja Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 April 2016
Merantau

Aku tak pernah menyesali keputusanku untuk merantau hampir empat tahun yang lalu. Meskipun itulah pertama kalinya aku merantau, pergi jauh dari rumah. Meninggalkan segalanya termasuk keluarga, sahabat dan teman yang sebelumnya bisa dengan leluasa kutemui setiap hari.

Tak mungkin jika aku tak merasa takut saat itu. Ya, aku takut. Apalagi tak banyak informasi yang kutahu tentang tempat yang kutuju & tak ada siapapun yang pernah kukenal sebelumnya disana. Aku akan berada di tempat yang asing, dengan kumpulan orang-orang asing.

Ada banyak sekali kesulitan yang kualami saat menjejaki bulan-bulan pertama kehidupanku di tempat rantau. Apalagi keadaan kota ini jauh berbeda dengan kota asalku sebelumnya. Sebenarnya kota ini tak bisa disebut pelosok. Kota ini adalah kota kecil yang sedang berkembang, kota yang cukup nyaman untuk ditinggali sebenarnya, karena disini aku masih bisa merasakan keindahan alam yang berbaur dengan majunya peradaban.

Namun dengan latar belakangku yang sejak lahir, tumbuh & menjadi dewasa di kota besar, berada di kota ini benar-benar membuatku tersiksa. Aku terbiasa tinggal di tempat yang bergelimang fasilitas umum, disini, semuanya lebih terbatas dan segala keterbatasan ini membuat ruang gerakku menjadi ikut terbatas, setidaknya itulah yang kurasakan.

Belum lagi perbedaan culture yang begitu mencolok seringkali membuatku kesal. Aku dan anak-anak Jabodetabek lainnya seringkali dicap sebagai anak-anak yang sok, dengan volume suara dan tertawa yang mendekati maksimal, dan tidak mau bergaul selain dengan mereka yang juga berasal dari Jabodetabek. 

Aku sendiri berdarah Jawa sebenarnya, namun karena sejak kecil aku dibesarkan di lingkungan yang tidak memegang adat Jawa dengan kental, sisa-sisa darah Jawa itu tak terlau tampak padaku.

Misalnya saja aku tak bisa jika harus bertur kata yang lemah lembut, berkata tanpa menyakiti hati lawan bicaraku meski aku tak menyukainya atau bahkan sekedar memasang raut wajah ramah penuh senyum. Hak ini diperparah dengan keadaanku yang memang sulit menghafal wajah dan nama orang.

Meski begitu setiap detik yang kulalui adalah pembelajaran. Hampir empat tahun merantau memberiku pengalaman yang begitu berharga, bahkan sama berharganya dengan ilmu formal yang selama delapan semester ini kutekuni. Aku belajar untuk menghargai segala perbedaan yang ada, belajar untuk bersosialisasi di lingkungan yang baru dengan segala kultur, kebudayaan dan kondisi sosial masyarakat yang berbeda. Dan pelajaran terpenting yang kudapat adalah bersyukur. Bersyukur atas segala hal yang telah aku punyai saat ini. Bersyukur atas semua kesempatan yang telah Tuhan berikan padaku. Bersyukur untuk semua kebersamaan yang masih bisa aku habiskan bersama keluargaku di sela-sela perantauan ini. 

Dan kini ketika aku hampir sampai di penghujung waktuku merantau di tempat ini, aku mulai merajut mimpi baru. Mimpi untuk merantau ke tempat-tempat yang lain, pergi ke tempat-tempat yang jauh, menjelajah sampai ke pelosok negeri, atau bahkan singgah di negeri-negeri yang lain. Negeri-negeri asing yang selama ini hanya sempat kudengar kemasyhurannya.

Karena setiap perantauan akan memberikan pelajaran berharga yang tak akan didapatkan  di bangku sekolah atau kuliah.

  • view 119