Melayang

Segores Tinta
Karya Segores Tinta Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Agustus 2016
Melayang

Siang ini rasanya tidak seperti biasanya. Aku terbangun tapi badanku MELAYANG!

Ku kerjap-kerjapkan mata, mencoba memastikan apa yang ku lihat hanya mimpi. Ku cubit pipiku sendiri. Aw! Sakit. Mataku menyapu sekeliling. Sama. Ini kamarku. Masih berantakan seperti biasa.

Ku coba keluar kamar. Rasanya aneh karena kaki tidak menjejakkan tanah. Tubuhku masih belum terbiasa dengan keadaan melayang ini. Mencoba meraih daun pintu sambil kaki menendang-nendang angin. Berusaha mendorong diri ke ujung kamar.

Kepala celingukkan ke sana ke mari. Mencari seseorang dalam rumah. Tapi kosong. Tak terdengar ada kesibukan di dalam rumah. Aneh. Terlalu sepi. “Mboook.” Hening. Tak ada jawaban. Ke mana orang-orang, heranku.

Ku meluncur ke luar rumah. Cuaca cerah. Hanya ada sedikit gumpalan awan di birunya langit. Ku tekuk kakiku menjadi posisi jongkok. Menjejakkan kaki ke permukaan tanah. Bersiap melompat dan DESH! Aku melayang. Melesat. Semakin tinggi.

Awalnya ku merasa takut karena ketinggian. Tapi perlu apa takut jika bisa TERBANG?! Jadi begini rasanya menjadi burung? Melayang bebas. Tanpa ada gravitasi yang mengekang.

Ingin ku terbang lebih tinggi. Menggapai gumpalan awan tipis di atas. Yang sebelumnya hanya bisa ku bayangkan seperti apa rasanya, sebentar lagi bisa ku genggam. Ku rengkuh. Ku lumat dalam mulutku. Empuknya. Dinginnya. Mungkin seperti gulali yang dingin.

Ku kepalkan kedua tanganku. Ku arahkan lurus ke atas. Bergaya bak Superman. Ugghhh. Tak bergerak. Ku jejak-jejakkan kaki tapi hanya angin yang tertendang. Tak berpengaruh. Haaah, mungkin baru segini kemampuan terbangku. Biarlah

Ku lihat pemandangan di bawah. Rumah-rumah tampak terpetak-petak rapi dengan terpisah oleh jalan. Tiba-tiba mataku terpaku oleh keramaian orang di jalanan besar.

“Ada keramaian apa di sana?” rasa penasaran menggugahku. Ku coba mendekati kerumunan. Dari kejauhan terdengar suara sirine meraung-raung. Entah polisi, ambulans, atau pemadam kebakaran tak bisa ku bedakan. Ku lihat ada sebuah sepeda motor tergeletak. “Rasanya ku kenal sepeda motor itu. Tapi bukannya di sampingnya itu….. Genangan darah?!”

Nafasku memburu. Jantungku berdegup kencang. Berusaha melihat lebih dekat. “Jangan-jangan….. ” Segera ku tepis pikiran negatifku. Ku menerobos kerumunan orang tanpa ada yang menyadari kehadiranku. Tanpa ada yang memperhatikan bahwa aku “melayang”.

Tampak seseorang terbujur kaku di dekat sepeda motor tadi. Jaket kulit menyelimuti tubuhnya. Tapi wajahnya tak terlihat jelas. Tersamarkan dengan darah yang membasahinya. Ku coba melihat lebih dekat sosok yang terbujur itu.

Tanpa ku sadari tubuhku terasa lebih ringan. Menghilang sedikit demi sedikit mulai dari ujung kaki ke atas. Sampai akhirnya ku mengenali sosok itu. Sosok yang berdarah dan terbujur kaku. Itu adalah……..

 

  • view 115