250 Bibit Mangrove, Lestarikan Pesisir Desa Tanjung Aru-Sebatik

Sebatik  Indonesia
Karya Sebatik  Indonesia Kategori Lainnya
dipublikasikan 03 Agustus 2016
250 Bibit Mangrove, Lestarikan Pesisir Desa Tanjung Aru-Sebatik

Hutan mangrove berperan besar dalam kehidupan pesisir pantai. Di antara fungsinya adalah untuk menstabilkan pantaI, peredam gelombang pantai, penangkap sedimen laut, serta mencegah erosi dan abrasi daerah pesisir pantai. Bagi kehidupan, mangrove juga memiliki peran besar dalam penjagaan ekosistem laut.

Pemahaman urgensi itulah yang mampu menggerakkan tim KKN Universitas Borneo Tarakan (UBT) berkolaborasi dengan tim KKN-PPM Universitas Gadjah Mada, mengadakan aksi penanaman 250 bibit mangrove. Kegiatan yang diselenggarakan pada Minggu (31/7) di pesisir pantai Dusun Pantai Indah, Desa Tanjung Aru, Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara ini bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Nunukan, perangkat desa Tanjung Aru dan Bukit Aru Indah, Pemuda Pecinta Alam Sebatik, Pecinta Laut Sebatik, Sebatik Community, Pramuka Sebatik, Marinir TNI AL, Pamtas TNI-AD, serta melibatkan warga sekitar. Kegiatan yang mengusung tema besar, “250 bibit mangrove, lestarikan pesisir Desa Tanjung Aru, Sebatik” ini berlangsung sejak pagi dengan sambutan kades dan kepala DKP sebagai pembuka acara. Mengrove yang ditanam merupakan jenis rhizopora.

“ Apakah 250 bibit ma

ngrove ini sudah cukup untuk pantai seluas ini? Diharapkan program ini ada keberlanjutan, terutama untuk para pemuda Sebatik. Semangat untuk tetap melanjutkan program ini dengan melibatkan semua pihak dan elemen,” jelas Dian Kusumanto, kepala Dinas Kelautan dan Perikana Nunukan dalam sambutan.

Patok berupa belahan bambu yang ditancapkan pada tanah pesisir yang berlumpur, sudah disiapkan dI hari sebelumnya oleh tim KKN kedua universitas tersebut. Sehingga dalam acara inti ini, pastisipan hanya perlu mengikatkan bibit mangrove pada patok bambu dengan menggunakan tali rafia. Meski pelaksanaan membutuhkan usaha keras untuk melewati lumpur, namun itu tak menyurutkan semangat dan suka cita pastisipan saat menanam mangrove.

“ Sebelumnya saya sangat mengapresiasi usaha mahasiswa KKN UGM dan Borneo Tarakan, dan kegiatan ini harus tetap berlanjut, mungkin tim KKN tahun selanjutnya,” jelas H. Palani, selaku kepala desa Tanjug Aru.

Penanaman 250 bibit ini mungkin tidak cukup memenuhi luasnya kawasan Pantai Indah, Tanjung Aru. Sehingga langkah kecil ini perlu dilanjutkan, dikelola, dan dikembangkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat. Diharapkan ekosistem hutan mangrove ini akan turut menjaga kehidupan pesisir pantai dan bisa berdampak jangka panjang pada sektor pariwisata wilayah perbatasan. (AL)

  • view 170