Jangan Membahas Nasionalisme Wilayah Perbatasan di Depan Perut

Sebatik  Indonesia
Karya Sebatik  Indonesia Kategori Budaya
dipublikasikan 25 Juli 2016
Jangan Membahas Nasionalisme Wilayah Perbatasan di Depan Perut

Nasionalisme bukan hanya pekerjaan sipil. Ia bukan semata memilih untuk bekerja mengabdikan diri di luar negeri atau dalam negeri, menggunakan mata uang rupiah atau ringgit, bukan pula sekadar membeli produk dalam negeri atau luar negeri. Faktanya, ketika pekerjaan di luar negeri lebih menjanjikan, tak banyak yang memilih untuk menetap di Indonesia. Pun ketika dihadapkan pada dua mata uang, tak sedikit pula yang memikirkan untung rugi berdasarkan nilai jualnya. Begitu pula ketika dihadapkan pada produk yang lebih berkualitas dan mudah dijangkau, pertimbangan apalagi bagi masyarakat sebagai subjek ekonomi?

Ibarat dua sisi mata uang, nasionalisme tak bisa hanya dilihat dari segmentasi bagi masyarakat perbatasan. Pulau Sebatik yang terletak di kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, terbagi menjadi dua kepemilikan negara, yaitu Indonesia dan Malaysia. Membicarakan pulau unik ini, tak banyak yang tahu bahkan membayangkan dimana letaknya. Hampir semua Indonesia orang perlu membuka peta untuk mengetahui letaknya.

Sebagian besar Pulau Sebatik dihuni oleh suku Bugis, imigrasi dari Sulawesi Selatan. Membicarakan nasionalisme masyarakat perbatasan wilayah ini, pro dan kontra pasti terjadi. Secara umum mmpertanyakan letak nasionalisme dalam tindakan dan keputusan mereka untuk bekerja di Malaysia, menjual produk-produk mentah dan perkebunan ke negara tetangga seblum akhirnya diolah dan dijual kembali ke tanah air, atau transaksi dengan mata uang negara lain. Ya, jangan heran apabila banyak produk Malaysia yang lebih mereka pilih, terutama bahan-bahan makanan pokok. Keputusan-keputusan itu bisa menjadi sebuah kewajaran apabila menilik dan merasakan sendiri nasib hidup masyarakat perbatasan.

Bukan salah perut yang lapar. Masyarakat ini hanya sewajarnya untuk tetap bertahan hidup dan memperoleh keuntungan. Untuk apa memuja-muja nasionalisme, bila keuntungan berupa kehormatan negara itu hanya dirasa para pejabat di pusat sana. Sementara tangan-tangan mereka tidak terorganisir untuk mengulurkan bantuan membangun seluruh kekurangan.

Bukan tanpa nasionalisme. Jiwa masyarakat ini akan tetap tertuju pada rumah sendiri, Indonesia. Mereka hanya pergi sementara, untuk menyambung hidup. Apabila ditanya, sebagian besar masyarakat akan lebih memilih tetap tinggal di Indonesia. Berbagai keperluan dengan negara sebelah hanya urusan perut. Urusan sederhana yang seringkali media menggembor-gemborkan smapai mempertanyakan nasionalisme.

Jangan mempertanyakan nasionalisme pada rakyat perbatasan. Tapi tanyakanlah nasionalisme dan kesatuan pada seluruh elemen negeri ini. Jangan salahkan orang yang tidak mampu, namun mintakan pertanggungjawaban pada mereka yang mampu namun tidak mengulurkan tangan. Karena membangun wilayah perbatasan, bukan sekadar memberi sumbangan uang, raskin, kunjungan, atau bantuan perkebunan dan perikanan. Pun menancapkan nasionalisme, bukan sekadar mencekoki dengan ideologi negara. Ideologi bisa saja luntur oleh realita yang ada. Membangun masyarakat tapal batas membutuhkan kesatuan program yang terstruktur dari berbagai sektor dan memandang jauh ke depan.

Jiwa  nasionalisme mereka mungkin sudah mengakar kuat. Jangan heran apabila dalam beberapa wilayah, kalimat-kalimat pengakuan dan kebanggaan NKRI tercantum. Contohnya adalah di Tugu Perbatasan Garuda Perkasa.

Setiap alasan yang diberikan mengenai pertanyaan, mengapa memilih Malaysia daripada Indonesia? Jawaban utama hanya terkait perut. Tantangan untuk menunjukkan nasionalisme di wilayah perbatasan jauh lebih sulit dibandingkan pembuktian dari zona nyaman dan dekat dengan infrastruktur maju negara. Jangan salahkan bila mereka mengatakan Garuda di Dadaku, Malaysia di Perutku. (AL)

  • view 178