Keputusan

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Filsafat
dipublikasikan 26 Januari 2016
Keputusan

Menjadi seorang manusia yang dihadapkan pada realitas dan waktu, mau tak mau berimbas pada setiap tindakan yang ia lakukan yang mestinya harus di pertanggung jawabkan dengan gagah berani (?). Terlebih, sejauh mana manusia mampu mengendalikan setiap keadaan itu juga tercerminkan dalam kebebasannya untuk menentukan apa yang benar-benar diingini olehnya. Sehingga pada titik ini, keputusan selalu menyiratkan kehendak dari si pemutus atas jalan kehidupannya sendiri dengan berbekal sudut pandang dan pengalaman serta jam terbangnya (?).

Dan, setelahnya ia pun harus sadar akan akibat dari sebab keputusan yang ia pilih. ya. keputusan itu, seperti halnya sebuah pilihan, selalu bersifat dilematis dan traumatis. bagaimana tidak, keputusan ini yang kalo kita lihat dari semantik atau struktur katanya, berangkat dari kata dasar "Putus" ; kata yang menyiratkan sebuah trauma.

Lalu karena sifatnya yang dilematis, maka keputusan untuk memutuskan dan keputusan untuk tidak memutuskan sama sekali bisa jadi sama saja (?). dalam artian, dua duanya mempunyai akibatnya masing-masing. Untungnya manusia diberikan kebebasan untuk menentukan. terserah mau pilih yang mana. dan dengan begitu, cerminan kebebasan dan kehendak diri oleh sebab keputusan yang ia putuskan, sejatinya hanya berupa segmentasi dari keseluruhan opsi. Artinya, keputusan itu bukanlah sebuah finalisasi, karena dibalik keputusan itu akan terdapat banyak sekali faktor, aspek, hal dan variabel lainnya yang justru (secara sadar atau tidak) kita abaikan.

Maka tidak heran dulu Abang Kierkegaard pernah berujar, si doi pernah bilang (atau nulis ya? *lupa) gini katanya : ?Ketika manusia memutuskan, itu adalah waktu-waktu gila.? Bisa jadi pernyataan tersebut benar, karena ketika memutuskan manusia tidak benar-benar mengerti tentang apa yang dipilihnya. Ibaratnya, mau memutuskan atau tidak, sama-sama punya konsekuensi. dan tidak akan bisa seseorang memutuskan dengan memperhatikan segala aspek dari keseluruhan fakta dan akibat yang ada. saya jamin tidak akan bisa. karena justeru dengan keputusan itu sendiri, kita menghentikan pengandaian terhadap yang lainnya. tetapi bila tidak begitu, maka jelas ini akan semakin berlarut-larut, dan malah akan jatuh pada kondisi tidak memutuskan sama sekali, tetapi bukankah itu juga sebuah keputusan ? *saya bingung*

Tapi, pada akhirnya, seseorang itu memutuskan hanya berdasarkan perasaan dan suasana hatinya saja, tak perduli serasional apapun dia. dan itu, bukankah merupakan hal yang? mudah ? sepertinya, .. karena saya selalu begitu. dan menjadi tugas saya selanjutnya untuk merawat dan menjadikan keputusan saya tersebut, menjadi keputusan yang terbaik yang pernah saya ambil. bukan karena keputusan itu sedari awal sudah baik atau lebih baik dari yang lainnya, tetapi ini adalah tentang soal bagaimana saya bisa teap dinamis dan tidak terjebak pada kesalahan dalam memutuskan yang akhirnya hanya menyalah-nyalahkan diri sendiri di masa lalu.