Betapa Cemennya Saya

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Agama
dipublikasikan 27 Februari 2016
Betapa Cemennya Saya

Oh tentu saja, bahkan kalau dunia ini adalah dunia yang tidak modern sekalipun, seorang muslim dituntut untuk berperan serta didalamnya. yang mana perannya itu adalah peran yang tidak terikat pada batas waktu, ruang lingkup tempat dan batas teritorial. dimana pun itu, kapanpun dan yang mau bagaimanapun, muslim dengan karakter khasnya harus berusaha untuk bisa menerapkan dan mengaplikasikan nilai-nilai keislamannya pada ruang realitas.

Dan dengan itu, dia harus sanggup mewarnai lingkungan dan menjadikan segenap yang ada di lingkungan sekitarnya menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang seperti telah dicelup. dan celupan itu, ketahuilah, adalah celupan keislaman (shibgah, al-Baqarah).

Ya, saya menyadari itu. sangat-sangat menyadari, bahwa inti keluhuran cita-cita agung islam yang Rahmatan lilalamin, mau tidak mau memberikan konsekuensi logis pada segenap pemeluknya untuk bisa memberikan suatu sumbangan terhadap dunia, tentu saja, yang itu juga melibatkan bagaimana seorang muslim berinteraksi dengan Tuhannya, dengan lingkungannya, dengan sesama, dan dengan segenap makhluk yang sama-sama menghuni bumi-Nya, tak terkecuali.

Muslim dengan profesi, status dan beragam predikat yang disandangnya, seharusnya tidak menjadikan keterbatasan dalam berperan. bahwa, bila berbicara tentang peran, maka apa yang melekat dalam dirinya, yang terdiri dari aktivitas kesehariannya, fokus kegiatannya, minat dan bakatnya, dan semua yang berhubungan dengannya, harus mampu ia terapkan dalam satu kesatuan dengan muslim yang lainnya untuk sama-sama memberikan warna tersendiri kepada dunia, dan itu haruslah merupakan sumbangan yang berharga, tentunya.

Berkaca pada sejarah silam yang menunjukan kejayaan islam. Maka, salasatu tabiat keberperanan seorang muslim terhadap dunia adalah ia menjadikan hal-hal prestasi, karya dan temuannya itu tidak semata untuk kemajuan umat manusia saja, jauh melebihi itu, adalah sebagai ungkapan dan tanda bakti kepada Allah swt.

Taruh saja seperti penemu al-Jabar ; al-Khawarizmi. beliau, sedari awal hingga akhir pengembangan dari teori matematikanya yang super keren dan aduhai itu, telah meniatkan dan berpikiran bahwa apa yang ia kerjakan itu tidak semata untuk perkembangan ilmu matematika belaka, tetapi esensi pentingnya adalah ia ingin dengan al-Jabarnya itu mampu meringankan umat dalam perrhitungan zakat yang rumit (bab Qawaid dan waris).

Atau, Ibnu Sina yang mengembangkan teori dan praktek-praktek ilmu kedokteran, ada semangat melayani umat sebagai asas seorang ilmuwan, cendikia yang merangkap sebagai ulama juga, dan masih banyak lagi ulama-ulama yang lainnya yang terekam oleh sejarah sebagai para penyumbang terhadap dunia dengan karya-karya mereka. Maka, dengan semangat yang dilandasi atas keyakinan yang kuat pada Allah, Aqidah yang lurus dan cara memahami islam yang benar, peran serta seorang muslim tidak hanya melibatkan dimensi dunia fisik saja, tetapi juga melibatkan dimensi ketuhanan.

*Dan setelah itu saya hanya bisa takjub pada mereka2 yang keren itu. lalu bertanya, kapan saya bisa seperti itu? Huwaaaah. Nangis di pojokan karena merasa tak berguna dan hanya jadi beban semesta. semoga saja tidak.

  • view 96