Atas Nama Pemahaman

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Psikologi
dipublikasikan 25 Februari 2016
Atas Nama Pemahaman

Demi hidup, dan demi manusia yang hidup, bahwa atas nama pemahaman, betapa manusia dari dulu hingga sekarang masih mengeja dalam upayanya untuk memahami pemahaman. mulai dari memahami dirinya sendiri, memahami orang lain (manusia umumnya), hingga memahami kehidupan ini. karena tanpa memahami, atau katakanlah salah dalam memahami (red_salah paham), justru kerusakan yang akan terjadi. betapa sejarah telah membuktikan bahwa kebanyakan perang selalu terjadi dari kesalahpahaman antar manusia ini. pemantik yang lumrah. gegara salah memahami, meski sepele, bisa berujung hilangnya nyawa. Maka, masihkan kita tidak ingin untuk belajar memahami? meski harus terbata-bata.

Banyak orang yang tadinya dekat menjadi jauh, gegara salah paham. begitu juga sebaliknya, banyak orang yang menjadi dekat meski fisik secara harfiah berjauhan gegara saling memahami. karena manusia itu unik. ia akan betah dan bertahan berjam-jam dengan seseorang yang memahami dirinya. tapi tak kerasan meski untuk beberapa detik bila harus berhadapan dengan orang yang salah memahaminya.

Tentunya, banyak hal yang perlu kita pelajari dari karakteristik setiap manusia yang khas dirinya sendiri. kita tidak mungkin bisa menyamakan perlakuan kita antara yang satu dengan yang lainnya. karena ketika kita ingin dipahami oleh orang lain, maka kita pun harus pula memahami orang lain. dan waktu-waktu ketika kita hidup ini menjadi pembuktian seberapa ingin kita untuk belajar memahami manusia dan keunikan yang terletak didalamnya.

Lalu, menjadi hal yang teramat krusial lainnya, adalah bahwasannya kita harus bisa membedakan antara orang yang benar-benar mau memahami kita dengan orang-orang yang sekedar mau mencampuri urusan kita. bisa jadi orang lain sangat memikirkan keadaan kita. cuma barangkali antara dia dan kita saling tidak memahami. karena seringkali
orang merasa bisa memahami sesuatu, padahal sesungguhnya ia hanya memahami pemahamannya sendiri belaka.

Orang melihat dan merasa telah berhasil melihat, padahal yang dicapainya hanyalah sebatas penglihatannya saja.

Jujur, saya bukan orang yang tak bisa dipahami atau dilihat. saya hampir tidak mempunyai rahasia. tapi, memang tidak ada kenyataan tanpa rahasia. kenyataan yang senyata-nyatanya pun sebenarnya tetap merupakan suatu rahasia, sebab setiap orang adalah orang lain bagi yang lainnya.

Meskipun, mungkin ada jutaan alasan mengapa seseorang tetap menyimpan rahasianya. terkadang kita hanya tak bisa memahaminya. jadi, biarkan mereka dengan rahasianya, tak perlu kau tau karena mungkin itu akan menyakitkan mereka. jadi, pahamilah, bahwa mereka ingin itu tetap menjadi rahasia mereka. jangan kau rusakkan kenyamanan mereka dengan mengungkapnya. ya.

*kenapa tiba-tiba jadi melow begini ya? Haha.

  • view 91