Dibalik Kegamangan

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Filsafat
dipublikasikan 23 Februari 2016
Dibalik Kegamangan

Manusia dalam hidupnya selalu meminimalisir kegamangan dan kesusahan hati dengan beragam caranya masing-masing. ada yang pandai menghibur diri dan selalu senang (seperti saya), ada yang mendefinisikan hidupnya dengan beragam capaian hal, ada juga dengan mencoba menyamakan dirinya dengan orang yang tidak gamang (kelihatannya tidak padahal sebenarnya ia pun sama-sama gamang), ada pula orang yang mengatasi kegamangannya itu dengan banyak tidur dan makan(?). Ya, untuk cara yang terakhir, hanya berlaku beberapa jam, selanjutnya akan gamang lagi dalam menatap kehidupan. nanar sekali rupanya. ironis.

Biasanya, orang yang gamang adalah mereka yang tidak tahu untuk apa hidup, dan tentu saja, hal ini pun berlaku manakala hidup sudah bukan lagi menjadi suatu kesadaran, artinya, tidak hanya orang yang bingung tentang arti kehidupannya saja (emang apa artinya ya?) yang akan gamang, orang yang sudah mencapai banyak hal dan berada di puncak dari apa yang ia inginkan pun, kemungkinan besar akan mengalami hal yang serupa. ?selanjutnya, apa lagi?? kira-kira begitu frasa intinya. bila tidak ketemu jawabnya, mati adalah keputusan. lagi-lagi, kehidupan macam itu merupakan hal yang ironis. sungguh terlalu.

Kegamangan selalu menyiratkan kondisi kebingungan puncak(?), dan karena begitu, manusia biasanya tidak terlalu menyukai berada dalam situasi tersebut berlama-lama. untuk itulah beragam cara mulai ia lakukan untuk menghilangkan, atau setidaknya mengurangi dampak dari keresahan dan ketidakenakan oleh sebab yang ditimbulkan oleh perasaan gamang, cara simpelnya adalah dengan membuang kesadaran itu sendiri, bisa dengan minum-minum (kenapa tidak dengan makan-makan?), mengkonsumsi senyawa-senyawa kimia anti-kesadaran (seperti morfin, methampethamine, kokain, ophium, dll), atau dengan tidur (tidur itu melepas kesadaran!).

Karena hidup tidak banyak rasa, maka dengan rasa yang ada, kita mulai mencoba untuk memahami rasa-rasa tersebut. ada kepanasaranan (ini pun sebuah rasa) yang hendak ingin dibobol. bila baik akhirnya maka akan puas, bila tidak maka akan celaka. semuanya bermuara pada satu hal yang sama ; memanfaatkan waktu yang tersedia, dan selagi bisa serta mau. Kemauan itu sendiri, selalu berangkat dari perasaan gamang akan eksistensi diri. beruntunglah orang yang mengetahui secara mendalam terkait hal tersebut, dan manakala tidak, maka inilah permasalahan sesungguhnya.

Capaian-capaian dari individu dan segelintir orang yang terakumulasi dalam sejarah dan peradaban nyatanya adalah sumbangsih kecil yang sengaja dibesar-besarkan. Sehingga karenanya hidup tidak bisa tidak harus dijalin dengan hubungan dan komunikasi ini. bahwa manusia yang satu akan berdampak pada manusia yang lainnya,artinya ungkapan sartre yang bilang bahwa ?Orang lain adalah neraka?, menjadi sebuah ungkapan yang sarkasme, dan saya sendiri memandang sartre ini sebagai orang yang tidak puas dengan keberadaan orang lain. mungkin ia sering patah hati dan di tolak cewe, maka muncullah ungkapan seperti itu (kamus sotoy sayah, 2014).

Orang mengenyahkan kesadaran, karena mereka tau, dalam dunia sadar tidak semua realitas bisa sesuai dengan apa yang mereka inginkan. kesadaran inilah sebagai sesuatu yang membatasi antara keinginan dan realitas. jadi benar juga bila disebutkan bahwa "Dunia ini begitu indah ketika dinikmati, dan menjadi pusing ketika di pikirkan". Orang pun berbondong-bondong mencari cara untuk membunuh kesadaran ini. terlebih kesadaran selalu menyakitkan. dan tak pandang bulu, apakah ia siap atau tidak untuk menghadapinya. Dunia memang kejam. Tidak. tidak. dunia tidak kejam, kitanya saja yang terlalu lemah dalam menghadapi kehidupan. karena bila tau caranya, justru dunia akan mendukung dan menyokong kita. istilah ?Dunia memang kejam?, hanya bagi mereka yang kejam memandang dunia. tidak mampu untuk memaksimalkan potensi dunia yang ada. dan tentu saja, potensi hidupnya juga. kuharap engkau tidak mengerti. karena bila mengerti, berarti engkau sedang sadar. *Gubraaak

Gara-gara Sartre (mungkin) yang menganggap bahwa eksistensi manusia itu omong kosong dan sama sekali tidak punya tujuan atas eksistensi dirinya. manusia hidup dalam absurditas. akan tetapi, dengan begitulah manusia akan merasakan kebebasannya, karena ia bisa menjadi apapun yang ia mau, menjadi sesuatu sekehendak dirinya. sampai disini, kita akan melihat bahwa pandangannya ini teramat pragmatis dan tak berdasar. atau mungkinkah dia sendiri telah mengalami kebebasan yang ia maksudkan? entah, sayangnya saya tak pernah bertemu dengannya, apalagi mengobrol atau menyeruput kopi bersama. dia dan saya hidup dalam kerangka waktu yang berbeda. dan kalo pun ada persamaannya, mungkin, kita sama-sama gamang (?). tapi sialnya, saya kenal dia, tetapi dia tidak kenal saya. beruntung sekali dia!

  • view 190