Ngureuk Mania

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Februari 2016
Ngureuk Mania

Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa pemuda bandung menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan masyarakat cianjur dalam agenda Ppm (Program Pengabdian Masyarakat). disela-sela padatnya aktivitas, kami berinisiatif untuk ikut melebur sembari mengenang romantika masa kecil dengan terjun langsung ke sawah untuk ngureuk bersama orang kampung yang kebetulan sedang ngureuk.

Ngureuk ini, adalah kosa kata dalam bahasa sunda, dan saya agak kesulitan untuk mengindonesiasisasinya, apalagi menginggrisasikannya. tetapi, untuk sekedar tahu ngureuk ini intinya adalah menjerat(?) belut (belut?) dalam lubang persembunyiannya di sekitaran sawah (yang ditanami padi) dengan sebuah temali yang dikaitkan kail di ujungnya. tidak lupa, pada kail tersebut di beri umpan makanan kesukaan si belut, bisa cacing kecil atau cacing yang sudah dimutilasi oleh tangan-tangan kami sebelumnya (semoga bukan termasuk tindakan menganiaya hewan. *Ammiin)

Selain cacaing, makanan favorit belut adalah bancet ; sejenis katak kecil yang masih lucu, imut, kinyis-kinyis dan menggemaskan. sebetulnya dari bandung kamipun membawa makanan semisal roti, snack atau cemilan, sayangnya belut tidak terlalu suka. lebih kepada karena bukan makanan pokoknya mungkin. jadi akhirnya sebelum ngureuk kami pun mencari cacing terlebih dahulu. dan itu cukup mudah. yang susahnya malah mendefinisikan tentang siapa sebenarnya belut ini, apa termasuk ikan atau bukan, tapi kalo ikan kok jadi aneh ya. namanya jadi ikan belut. tuuh kan aneh (aneh gak sih?haha). bahkan debat kami tentang ini (belut itu ikan atau bukan) nyaris tak berkesudahan kalau kami tidak segera menyadari bahwa debat itu samasekali tidak berbobot. biarlah itu menjadi misteri yang dikubur bersama waktu.

Di sepanjang jalan setapak yang ada di persawahan, kami mendapati bahwa yang ngureuk ternyata tidak hanya kami. banyak warga kampung yang umumnya di dominasi oleh anak kecil dan remaja tanggung. jadinya di sawah jadi banyak orang. Para anak kecil ini, belakangan saya tahu, lebih jago ngureuknya dibanding kami-kami yang memang sudah belasan tahun tidak pernah ngureuk lagi. saya sendiri terakhir kali ngureuk di kampung ketika SD awal-awal, setelahnya nyaris tidak. sehingga ngureuk ini, selain untuk mengisi luang waktu, juga untuk lebih melatih kesabaran. bagaimana tidak, ngureuk ini susahnya minta ampun. perlu kesabaran ekstra keras. selain harus bersabar, ngureuk pun perlu telaten dan tenang. umumnya belut sangat peka dan sensitif terhadap gerakan langkah kaki, jadi harus setenang mungkin. jangan sampai membuat kegaduhan di sepanjang jalan persawahan, apalagi kalo sampai membuat huru-hara, itu lebih membuat belutnya tidak ingin keluar barang menengok makanan yang kami berikan. jadi ketika ngureuk, jangan sesekali bawa petasan, bom, atau mercon.

Banyak hal yang bisa dinikmati ketika ngureuk ini, kalau masalah hijaunya persawahan yang menghampar jangan ditanya, pun juga tentang anginnya yang menerpa wajah yang melenakkan, atau suasana menjelang senja dengan background gunung dengan pohon2nya, itu semua menambah kekhusyuan kami dalam mengureuk. dan setelah saya coba, ya Allaah, betapa susahnya ngureuk ini.

Diakhir cerita, karena sudah hampir mau adzan ashar, kami pun mengureuk sambil menyusuri jalan pulang. menurut kawan kami yang kebetulan mendapatkan belut dari hasil ureukannya, katanya, ada perasaan bangga dan puas ketika bisa tarik ulur dengan belut. ya sensasi yang sama ketika mancing. dan mendadak ngureuk itu menjadi sebuah kegiatan yang menarik. meskipun susah.

  • view 77