Pian(o)

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Psikologi
dipublikasikan 21 Februari 2016
Pian(o)

Sedari awal naik angkot dia langsung mengenakan headset, mendengarkan musik yang mengalun pelan di telinganya. orang lain tidak akan bisa mendengarkannya. musik itu khusus untuk dirinya sendiri, membuat perjalanan selama di angkot lebih terasa seperti ia yang seolah-olah sedang menjadi bintang video klip-nya. ia menikmatinya. anggap saja dia itu adalah Pian (nama sengaja disamarkan untuk menjaga reputasi dan popularitas orang yang bersangkutan). nama lengkapnya adalah Piano.

Angkot terus melaju, bersama dengan penumpang lain. dan jadi tahulah Pian bahwa angkot adalah tempat yang pas untuk melatih diri agar terbiasa bersikap rendah hati. lihat saja, di angkot, pian akan duduk sama rendah dengan penumpang lain, dan tidak akan sama tinggi bila berdiri (?). benar-benar tidak ada pengistimewaan. semuanya disamakan.

Hingga tiba-tiba di menit selanjutnya, seorang pemain biola masuk dan izin untuk memainkan biolanya, tentunya setelah angkot berhenti oleh sebab terkena lampu merah. pemain biola tersebut terlihat seperti seorang laki-laki. kau tahu mengapa pian beranggapan bahwa pemain biola itu laki-laki? Iyaa. pian tentunya lebih peka, melihat tampilannya yang tak berkerudung cukup membuat pian berkesimpulan bahwa pemain biola itu adalah seorang laki-laki. tampilan muka dan badannya pun memang menyiratkan hal yang sama.

Dia mulai memainkan biolanya. dengan tenang. tanpa ada rasa gugup dan malu, padahal sebetulnya dia sedang konser. konser biola di angkot. lalu, pian pun merasa bisa saja sepanjang anak itu memainkan biolanya, ia tetap mendengarkan musik dari headsetnya. tapi tidak ia lakukan, ia segera melepas headsetnya dan mulai mendengarkan bunyi biola. bukan apa-apa, karena tampaknya akan terasa lebih menyakitkan ketika pemain biola itu tahu bahwa dia tidak sedang di dengarkan. pian lebih ingin menghargai dan memahami perasaannya. maka di lepaslah headset yang menempel di telinganya itu.

Lalu konser pun usai, kami merogoh kocek, ada beberapa orang yang baik. diberilah ia barang beberapa rupiah. dan satu hal lagi yang pian kagumi dari pemain biola itu. dia ikhlas menerima berapapun, bahkan bila itu hanya sekedar koin recehan yang tak akan cukup untuk membeli satu buah gorengan sekali pun. tapi ia menerima dengan senyuman mengembang di sekitar bibirnya. manis sekali.

Ah, pian. terima kasih atas pelajaran yang berharga hari ini. karena kita pun tahu. kita yang sebagai sesama manusia harus bisa memahami dan menjaga perasaan manusia lainnya. menyakiti seorang manusia tiada bedanya seperti menyakiti seluruh manusia. menyakitinya sama saja dengan ingin dipertanyakan dimana letak kemanusiaan yang ada padanya.

  • view 77