Lampu Merah di Persimpangan Jalan

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Januari 2016
Lampu Merah di Persimpangan Jalan

Ketika kau sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat, atau katakanlah sedang pulang menuju rumah, dengan suatu kondisi yang hiruk pikuk penuh debu dan asap knalpot berseliweran menghiasai langit jalanan serta mulai meluncurnya tetesan keringat di wajah dan punggungmu karena lama berada di jalan raya, tiba-tiba kau dipaksa untuk berhenti, karena memang tidak diperbolehkan untuk tetap berjalan oleh sebab sedang lampu merah. Mungkin kau akan kesal. Dan itu wajar, meskipun sebenarnya tidak ada gunanya juga sesalanmu itu selain yang bisa kau lakukan adalah duduk menunggu, menunggu agar lampu merah segera berubah warna menjadi hijau agar perjalananmu bisa diteruskan dan bisa sampai di tempat yang dituju tanpa harus membuang waktu lama-lama berada di jalan. Jalanan adalah tempat membosankan dengan aktivitas yang minim untuk dilakukan. Terlebih kalo kondisinya saat itu kamu sedang mengendarai kendaraan.

Ini sering pula dialami oleh saya, yang sehari-harinya menggunakan angkot yang berguna untuk memindahkan saya dari satu tempat menuju tempat lainnya yang sudah disesuaikan dengan jalur trayek dari angkot tersebut sehingga bebas dari nyasar atau terdampar di tempat antah berantah. Biasanya kemanapun tujuan itu, selalu ada angkot yang khusus dengan trayeknya itu, seolah membuat saya berpikir bahwa tempat dimanapun yang ada di dunia ini, tak luput dari jangkauan supir-supir angkot. Jalanan baru, maka akan ada pula trayek baru, angkot baru, dengan supirnya yang baru pula. Semacam proses adaptasi dan evolusi dari angkot terhadap kebutuhan para penumpangnya untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan mereka. Nampaknya, para supir angkot ini paham terhadap teorinya Charles Darwin yang terkenal itu.

Di dalam angkot itu, tak jarang pula saya sering terkena lampu merah, semacam merasa di jebak, terlebih ketika kondisi mengharuskan saya untuk segera tiba ditempat tujuan. Tapi apa daya dan tak punya kuasa. Seperti pengendara lainnya yang sama-sama terjebak oleh lampu merah, yang di beberapa titik ruas jalan yang mempunyai 4 arah lalu lintas, kadang durasinya teramat lama dan cukup untuk (misalnya) mandi dan menyetrika baju.

Dengan kondisi menunggu semacam itu, tak ada banyak hal yang bisa dilakukan, ditambah tak ada kawan dalam perjalanan. Kalau pun ada penumpang lain, itu hanya orang lain yang keberadaannya hanya kebetulan berada dalam satu ruang, lainnya, tidak perlu merasa terganggu bila tidak menyapa atau mengajaknya mengobrol. Tak ada perlunya juga untuk menjalin keakraban di angkot, yang meskipun bisa berkenalan dan mengetahui namanya, entah kapan lagi akan bertemu setelah lepas dari itu berpisah karena berbeda tujuan dan tempat berhenti.

Lampu merah, dalam benak saya, adalah semacam penghambat dalam perjalanan. Sering saya beralasan dengan lampu merah yang durasinya lama ini untuk diajukan sebagai alasan ampuh atas keterlambatan saya dalam menghadiri rapat-rapat penting organisasi. Meskipun, tanpa beralasan pun sebetulnya manusia Indonesia bisa menerima sebuah keterlambatan dengan wajar. Bukankah terlambat itu sebagaian dari perilaku orang Indonesia? ini memang fakta yang memalukan. bahkan, saya sering berpikir bahwa untuk apa tepat waktu kalo bisa terlambat. Maksudnya, apa perlunya juga saya datang tepat waktu kalo orang lain saja biasanya (malah ini mayoritas) datang tidak tepat waktu. Karena akan ada saya sebagai pihak yang dirugikan karena ketepatan waktu itu, yang harus menunggu mereka yang terlambat, sehingga dengan begitu, lebih baik untuk ikut saja yang mayoritas tersebut. Jadi, ungkapan satirnya adalah, ?Jika engkau bisa datang terlambat, ngapain harus repot-repot untuk datang tepat waktu??, . Dan soal masalah tentang terlambat ini, saya tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya bila ada seorang ibu hamil atau misalkan korban kecelakaan yang dibawa oleh mobil ambulance, lalu terjebak oleh lampu merah seperti ini. Bisakah mereka menunggu? Bisakah bayinya itu untuk mengerti pula agar tidak segera keluar, atau katakanlah yang kecelakaan tersebut, untuk menunggu dan memberikan jeda agar tak usah datang lekas-lekas malaikat maut karena sebab kehabisan darah? Bisakah? Andai lampu merah punya hati dan nurani.

Satu point penting sebagai pelajaran yang saya dapatkan dari lampu merah adalah kesabaran untuk menunggu. Membiarkan orang lain yang sedang ketiban lampu hijau untuk lewat dan pergi begitu saja, tak perlu pula ada ucapan terimakasih. Karena pada kondisi lainnya, bisa jadi mereka yang berada di pihak yang menunggu, dan saya yang berada di pihak yang lolos dan ngeloyor lewat di hadapan mereka. Semuanya mempunyai waktunya masing-masing yang sudah ditentukan oleh si Lampu merah itu, dan karena lampu merah adalah benda digital, maka durasinya akan sama dan adil. Tapi benarkah adil itu sama rata? sama rasa? Entah kenapa, bila mengingat-ngingat frasa itu, yang muncul dan terbayang dibenak saya malah konsep komunisme yang katanya adil, padahal menindas kemanusiaan. Konsep utopis yang untungnya sudah hancur dan tidak bisa memberikan kesejahteraan kepada kemanusiaan dan manusia yang berada di dalamnya. Ada untungnya juga tidak mengglobal. Maksudnya, meskipun dunia ini tahu tentang pahaman itu, sepertinya tidak akan menjadi alternatif pilihan utama.

Lalu, karena yang akan merasakan lampu merah itu tidak hanya yang berada di jalur saya saja, melainkan ada waktunya untuk pindah giliran ke jalur yang lain. Maka saya menerima lampu merah ini dengan suka rela, dengan kesadaran bahwa akan tiba saatnya nanti giliran saya untuk lewat. Dan menjadi rusaklah moral saya bila sedang lampu merah begini, malah memaksakan untuk tetap melaju dan akhirnya malah mengacaukan lalu lintas. Untung bila tidak terjadi kecelakaan oleh sebab bertabrakan dengan kendaraan lain yang memang seharusnya harus lewat. Tetapi, bila pun tidak, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa yang bersangkutan, yang tidak sabaran itu, cukup dan pantas untuk disebut berengsek dan mendapatkan titel sebagai pelanggar lalu lintas.

Lampu merah, adalah kondisi dimana kita harus mau untuk tunduk pada hukum. Hukum lalu lintas yang sudah diatur guna untuk menciptakan ketertiban lalu lintas. Bila tidak ada lampu merah, dengan kondisi perempatan jalan yang mempunyai arah yang berbeda-beda itu, maka bisa dipastikan bahwa lambat laun akan segera tercipta kekacauan yang sedemikian rupa bila tidak diatur oleh lampu merah. Bisa saja di atur oleh polisi, tapi karena polisi juga adalah seorang manusia, yang nantinya akan pula merasakan jenuh, bosan dan lelah. Sementara lampu merah, karena digital, tidak mempunyai perasaan semacam itu. Dan malah akan jadi aneh pula bila lampu merah bertindak seperti polisi, yang dalam hal-hal tertentu, malah memanipulasi keadaan agar bisa dijebak untuk keuntungannya sendiri.

Logika sederhananya, adalah karena apabila tidak ada lampu merah malah akan mengacaukan lalu lintas, dan dengan begitu malah akan membuat saya semakin terlambat. Maka, secara nalar dan logika akal sehat pula, jadinya tidak apa menunggu lampu merah barang sepuluh atau lima belas menit, tetapi setelah itu bisa melanjutkan perjalanan kembali. Durasi waktunya jelas, meskipun terkesan lama, walaupun masalah lama atau tidaknya adalah sesuatu hal yang relatif. Tetapi kita masih bisa menerimanya, karena kalo tidak di atur oleh lampu merah dan membiarkan manusia dengan egonya masing-masing untuk mau lebih dulu jalan, yang nantinya akan tergambar kemacetan dan kekacauan lalu lintas, yang tadinya mau jalan duluan tetapi karena semua orang berpikiran sama seperti itu, walhasil malah hanya akan menyebabkan kondisi semuanya tidak bisa jalan, karena sudah kacau duluan. Dan bila sudah begitu, tidak cukup 15 menit untuk mengurai kekacauan yang kadung sudah terjadi. Maka, menuruti lampu merah bukankah sebuah tindakan yang terpuji dan perlu?

Ada konsep kebebasan dalam berlalu lintas di jalan raya dan kaitannya dengan lampu merah. Kebebasan yang tidak boleh saling mengacaukan. Meskipun bebas, tetap terdapat consensus umum yang bilang bahwa batas dari kebebasan seseorang adalah kebebasan orang lain. Sehingga, tidak bisa dibilang bahwa ia sedang menikmati kebebasannya, bila hal itu malah menimbulkan orang lain tidak mendapatkan kebebasannya. Seperti itu pula ketika di lampu merah, .. orang yang sedang kebagian lampu hijau mempunyai kebebasannya untuk lewat, dan yang sedang kebagian lampu merah mempunyai kebebasannya untuk menunggu. Bila keduanya tidak begitu, maka otomatis mereka telah melanggar kebebasan itu sendiri, karena telah mengganggu kebebasan orang lain. Dan pelanggaran kebebasan itu, hakikatnya adalah sesuatu kegiatan yang zhalim, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dan dimana-mana, orang yang zhalim adalah orang yang tidak punya perasaan untuk saling menghormati dan menghargai manusia yang lainnya. Bila begitu, itu pun cerminan dari pribadi yang memang tidak mau dihargai dan dihormati.

Di kota metropolitan semacam Bandung, entah bagaimana pengaturan durasi lampu merahnya, di perempatan tertentu bisa sangat cepat, bisa sangat lambat, bisa sebentar, dan bisa pula lama. Tetapi saya yakin, pihak keamanan sudah mengaturnya sedemikian rupa dengan melihat lalu lintas dan volume kendaraan yang melewati rute itu. Lampu merah lama bisa jadi karena volume kendaraannya cukup banyak. Dan sederet pertimbangan lainnya yang diambil tidak dengan omong kosong atau sekonyong-konyong. Ada rekayasa lalu lintas, dan saya selalu senang bila mendengar istilah ini disebutkan. Seolah-olah tugas polisi itu menjadi keren dan berbau intelektual. Menandakan bahwa pekerjaan mereka bukan semata-mata untuk menilang pengendara yang sedang apes saja. lebih dari itu, saya menghormati pak polisi dan bu polisi dengan penghormatan yang sebesar-besarnya manakala mereka menjalankan tugas sebagaimana seharusnya tugas tersebut dikerjakan guna untuk kepentingan masyarakat. Mereka, dalam hal ini adalah pelayan masyarakat, bukan? Dan untuk itulah mereka ada.

Kendaraan akan berhenti ketika lampu merah menyala, dan pejalan kaki bebas menyeberang dengan aman. Di sebuah tempat yang sudah disediakan, yang tidak semestinya didiami oleh kendaraan. Memberikan jalan pada orang yang mau menyeberang (di Bandung, tempat ini dinamai dengan sebutan zona Merah) dan mempersilakannya adalah merupakan cerminan perilaku beradab dalam berlalu lintas. Mau bagaimana pun, selalu ada aturan-aturan dan kesepakatan umum di jalan raya. Dan bila tidak dituruti, merupakan sejelek-jeleknya perilaku.

Dan pada saat-saat menunggu pergantian warna dari lampu merah ke hijau, saya biasanya selalu menggunakan waktu tersebut untuk jeda dalam sebuah perjalanan. Mengambil nafas sebentar sebelum melanjutkan kembali perjalanan tersebut. Atau dalam bahasa kerennya, jeda tersebut adalah waktunya untuk memberi makna pada perjalanan yang telah dilalui. Bukankah dengan diam di lampu merah, maka akan ada waktu bagi kita untuk memperhatikan pengendara lainnya? Yang dalam hal ini, tidak melulu soal kepentingan dan egoisme diri sendiri, tapi ada saatnya untuk melihat orang lain, bahwa yang menggunakan jalan raya itu ternyata tidak hanya kita saja.

Gambar diambil dari : disini

  • view 225