Tiada Pelangi Selepas Hujan Itu

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 11 Februari 2016
Tiada Pelangi Selepas Hujan Itu

Bebatuan di pinggir jalan berlonjak kegirangan, "Hei, ayo kita main. ayo!" yang bersuara lantang pada derap gerimis hujan yang mulai mengencang. hujan pun sontak kaget, "Eh? Maaf, aku tak bisa main denganmu, batu. aku harus membasahi bumi dulu, nantilah kalo sudah, mungkin ada temanku yang akan menemanimu bermain". Hmmm, .. !

Di tempat lain, yang agak jauh, sekira 2 cm dari sana terdapat kerumunan semut, "Cepat berlindung, kalau kehujanan kalian akan basah dan masuk angin. segera masuk rumah, jangan membantah !", berduyun-duyun pasukan semut berjalan beriringan, tak ada yang mendahului, semua baris teratur punya jatahnya sendiri-sendiri. sang ibu semut terus memperhatikan, dengan raut kaget karena khawatir anak-anaknya akan terseret banjir bah dari hujan. tapi kata hujan menenangkan, "Tenang, kami tak akan menenggelamkanmu, kalian bukan makhluk pembangkang. tenang saja." Iya. al-Hamdulillaaah.

Lantas, bicaralah Jendela pada hujan, "Jangan cepat-cepat, perlahan saja. aku senang kalian telah datang. pemilik rumah ini terlalu malas untuk membersihkanku. aku senang sekarang ada kalian disini",
"Kami pun begitu, Mari bersenang-senang. masih banyak waktu."
Hujan masih menetes, satu persatu, semuanya kebagian misi untuk membersihkan bumi, jendela, kaca mobil, bebatuan, genting-genting, dan tak lupa, menyempatkan juga untuk mengairi beberapa daerah aliran sungai.

Kata hujan, "Aku tak mau kebagian menjadi air banjir. aku tak mau meluap. tempatku adalah meresap ! sudah banyak masalah yang menimpa manusia, masa aku harus menjadi masalah juga untuk mereka? Ini adalah musimku. dan aku tidak mau membebani mereka. seharusnya, aku menyenangkan hati mereka dan kedatanganku adalah rahmat, bagi sekalian daerah tertentu. titik "
lantas di jawab oleh bumi, "aku mengerti. tapi tempatku tak cukup untuk menampungmu semuanya. kau harus berbagi tempat dengan sampah. silakan meluap. biar manusia sadar."
Hujan pun sedih, "Aku tidak mau disangka kambing hitam."
Lantas sampah menengahi, "Jangan khawatir, Hujan. Kau, sampai kapan pun tetap bermanfaat. banjir itu bukan oleh sebab engkau, tetapi oleh sebab manusia yang enggan merawat tempat hidupnya, mereka dengan perilaku mereka, akan menuai akibatnya. biar aku yang bertanggung jawab"

Dengan syahdu, di balik gubuk, seorang anak kecil yang memandangi percakapan batu, hujan, semut, dan yang lainnya, perlahan bersuara, terdengar lirih, "Aku malu, bila menjadi manusia seperti itu. Ah iya, kalau aku sudah besar, aku akan mengingatkan para orang dewasa, bahwa alam ini, lingkungan tempat hidup kita semua, nyatanya tidak kita warisi dari nenek moyang kita, tetapi alam ini adalah pinjaman dari anak cucu kita. maka, bila ini adalah pinjaman, seandainya bila masih mengaku menjadi manusia, maka harus merawat dan menjaga hak-haknya".

Kadang anak kecil lebih manusiawi daripada orang-orang dewasa.