Balada Tukang Cukur

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Januari 2016
Balada Tukang Cukur

Rambut, seperti halnya kuku, memang ditakdirkan untuk terus tumbuh. Memanjang dan harus dipotong. Untunglah proses pemotongannya itu tidak menimbulkan rasa sakit. Sehingga ketika sudah memanjang pun jadi tidak masalah, karena tinggal di potong saja. Selesai perkara. Atau kau bisa saja untuk tetap membiarkannya begitu tanpa ada keinginan untuk memotongnya, dan itu silakan, tidak ada yang melarang. Bebas. Dan itu pun bukan merupakan sebuah pelanggaran terhadap hukum manakala kita memanjangkan rambut atau kuku. Kecuali bagi siswa sekolahan yang sampai saat ini masih dilarang untuk memanjangkan rambut demi alasan kerapihan dan kebaikan yang cenderung dipaksakan. Sementara kuku bisa jadi masalah kalau dipanjangkan dan nantinya digunakan untuk hal-hal yang bersifat kriminal, tapi jelas itu lain soal. Sebelumnya saya pernah mengetahui, walaupun tidak mengalami, bahwa dulu ketika rezim Presiden Soeharto (era Orde Baru), rambut panjang bagi laki-laki (berpendidikan) atau mahasiswa menandakan sebuah pemberontakan. Makanya lahirlah kebijakan yang mengharuskan untuk setiap pelajar agar mencukurnya, atau dalam bahasa yang baik, ?Merapihkan? rambutnya. Sehingga dari kasus ini, lahirlah istilah yang disebut dengan razia. Razia rambut gondrong. Padahal kalau ditelisik, apa yang salah dengan rambut gondrong? Bahkan Nabi Muhammad saw atau Nabi Isa (atau Yesus) saja rambutnya gondrong kok.

Terdapat perbedaan pandangan mengenai mode rambut hari ini. Ada yang mengatakan bahwa dari semenjak dulu hingga sekarang mode tersebut memang tetap seperti ini ; laki-laki berambut pendek, dan perempuan berambut panjang. Namun ada juga kalangan yang menyebutkan bahwa terkait dengan mode ini terjadi beberapa perubahan hingga akhirnya menjadi seperti sekarang. Menurut kalangan ini, dulunya mode rambut terbalik, tidak seperti sekarang, yang laki-laki berambut panjang dan perempuan berambut pendek. Pembedaan ini perlu guna untuk mengidentifikasikan masing-masing jenis kelamin. Meskipun sebetulnya tidak perlu-perlu amat, dan tidak esensial, tapi begitulah sejarah. Lantas, pada tahun-tahun itu, ketika kerajaan masih banyak dan tergelar hamper disetiap penjuru bumi, ada inisiasi dari kerajaan yang superior dan super power, yang menginstruksikan untuk mengganti mode tersebut menjadi dibalik ; laki-laki berambut pendek dan perempuan berambut panjang. Karena katanya itu yang lebih cocok. Rakyat pun tidak bisa menolak, sehingga hal ini dengan sendirinya menjadi sesuatu yang dituruti dan berlaku untuk semua orang. Hingga saat ini.

Dari hal tersebut, tampaknya terlihat bahwa campur tangan politik dan kekuasaan sangat kentara dalam mempengaruhi gaya rambut. Kalaumemang sejarah tersebut valid dan benar adanya. Atau tesis ini juga bisa merujuk kepada seperti yang tekah diulas di atas, yang menyebutkan bahwa ada hubungan antara rambut gondrongnya laki-laki dengan bagaimana ia bisa menjadi ancaman bagi sebuah Negara. Namun saya tidak akan memfokuskan diri pada bahasan itu, saya lebih ingin untuk menceritakan tentang balada seorang cukur, sebuah profesi yang berangkat dari pemahaman umum bahwa manusia membutuhkannya. Butuh untuk dicukurkan oleh orang lain. Karena berbeda dengan memotong kuku, bahkan sekaliber tukang cukur professional pun akan merasa kesulitan untuk mencukur rambutnya sendiri. Hamper-hampir mirip dengan seorang dokter yang manakal sedang sakit tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Dalam pada ini, kita bisa melihat bahwa proses cukur-mencukur ini adalah sebuah proses sosial, sehingga semakin mengukuhkan teori yang menyebutkan bahwa manusia memang merupakan makhluk sosial, yang tidak bisa hidup tanpa yang lain. Untuk saling bersinergi dalam hidup dan kehidupannya.

Secara iseng, saya pernah menanyakannya kepada tukang cukur yang kebetulan sedang mencukur rambut saya. Ini adalah kesempatan langka, karena kapan lagi saya bisa mengobrol dengan leluasa dan bebasnya dengan tukang cukur kalau tidak sedang dicukur olehnya. Terlebih, tukang cukur di Indonesia sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk melakukan hal yang sepele seperti mengobrol dengan saya.

?Pak, semahir-mahirnya bapak mencukur, saya jadi mau tau, kalau rambut bapak panjang dan sudah waktunya untuk dicukur, oleh siapakah gerangan rambut bapak di cukur? Tidak mungkin, kan bila dicukur oleh diri sendiri? Meskipun mungkin saja, hanya hasilnya pasti akan berantakan??, dengan sambil tetap menerus mencukur rambut saya, si bapak tersebut menjawab, ?Ya iya de, saya dicukurkan oleh orang lain. Jangan kira saya tidak punya teman tukang cukur. Justru dikalangan tukang cukur, juga ada perhimpunannya gitu. Semacam perkumpulan sesama profesi lah. Saling mencukurkan satu sama lain, ..? walaah, begitu ya. Tidak hanya kaum buruh saja yang mempunyai serikat pekerja, tukang cukur pun mempunyai perhimpunan seprofesi. Dan saya jadinya curiga, jangan-jangan kemahiran dan softskill mereka terkait mencukur ini didapatkan secara otodidak dan dari hasil saling share ilmu cukur diantara sesama mereka. Maksud saya, bisa saja demikian, mengingat tidak ada sekolah khusus yang membuka jurusan mencukur. Karena kalaupun ada, bagaimana mereka akan tertarik untuk memasukinya bila keahlian mencukur akan bisa juga diperoleh dengan mudahnya, yaitu dengan bergabung dengan perhimpunan tersebut.

Dan, setiap tukang cukur, mempunyai karakteristiknya masing-masing yang membedakan hasil cukuran mereka. Alat yang dipergunakan bisa saja sama, rambut yang dicukur juga mungkin bisa jadi sama, tetapi hasilnya bisa jadi beda, dan apa yang dirasakan oleh setiap orang yang dicukurpun bisa beda-beda kesannya. Karena memang akivitas mencukur ini tidak berbeda jauh dengan seorang chef atau koki. Alat dan bahan-bahannya bisa sama tetapi hasil masakannya sangat mungkin sekali berbeda. Racikan dan khas masing-masing membuat hasilnya berbeda, ini saya rasakan sendiri antara feel mencukur tukang cukur yang satu dengan yang lainnya. Saya cukup bisa mengetahui perbedaan tukang cukur yang professional, yang lihai memainkan guntingnya dalam memangkas rambut, dengan tukang cukur yang biasa atau bahkan dalam tahap sedang masih belajar. Pegangan mereka terhadap gunting dan cara mengayunkannya pun sangat kentara jelasnya dirasakan oleh objek yang sedang dicukur.

Namun, satu hal yang disyukuri oleh para tukang cukur ini, adalah kenyataan bahwa setiap orang mempunyai rambut dan setiap waktu rambut tersebut terus tumbuh, kecuali kalauorang tersebut mempunyai kelainan genetic atau penyakit. Sehingga dengan demikian, mereka masih bisa untuk tetap melanjutkan profesi mereka, bila perlu hingga hari kiamat. Saya pernah membaca tagline sebuah salon yang lucu sekaligus menarik, katanya, ?Selagi ada rambut yang memanjang, selama itu pula kami akan tetap mencukur?. dalam bahasa khas rakyat kecil, kalau rambut tidak memanjang, dari mana tukang cukur itu makan? Justru dari sanalah mereka tetap bisa makan. Dan ini mengingatkan saya pada dokter, yang meskipun berusaha untuk menyembuhkan orang sakit, dan kenyataannya memang demikian, namun tetap saja para dokter tersebut mengharapkan pula ada orang yang sakit. Karena kalau semua orang di dunia ini sehat, apalagi kalau sampai selamanya, maka tidak perlulah ada dokter. Dokter akan kehilangan lapaknya. Seperti itu pula untuk kasus tukang cukur.

Dari tukang cukur pula saya mengetahui informasi lain, yang terkait dengan harga cukur. Ini sangat relative dan tidak ada batasan penetapan mutlaknya. Dan sepertinya Negara pun tidak perlu repot-repot untuk membuat regulasi atau kebijakan untuk menetapkan harga cukur. Karena, tukang cukur pun sudah mampu untuk mengkalkulasikannya masing-masing, yang diterima oleh konsumen sebagai sesuatu yang maklum. Namun, biasanya harga akan relative sama untuk wilayah tertentu yang saling berdekatan, karena mau bagaimana pun dikalangan tukang cukur pun terjadi persaingan yang sehat, tetapi akan bisa jadi berbeda harga bila dengan wilayah lain. Dan hal ini sangat ditentukan oleh kualitas hidup dan biaya hidup di wilayahnya masing-masing. Bila wilayahnya cukup makmur dan sejahtera, dengan ongkos hidup yang tidak terlalu melangit, menyebabkan harga cukur jadi tidak terlalu mahal. Hanya cukup dengan setelah kalkulasi pendapatan perhari yang dihubungkan dengan seberapa banyak jumlah pengunjung ke salon tersebut. Karena seperti yang bisa kita duga, bila kesejahteraan telah diperoleh dan ongkos hidup yang rendah, minimum biaya untuk sekali cukur bisa sangat rendah. Apalagi kalo pendapatan tukang cukur ini dijamin oleh Negara, insyaAllah kita akan menjumpai penggratisan untuk setiap kali cukur dimana pun.

Namun berbeda dengan wilayah yang biaya hidupnya mahal karena metropolitan, menyebabkan ongkos cukur bisa menjadi mahal beberapa ribu rupiah. Sekali lagi, bahwa harga ini tidak baku, akan sangat ditentukan dimana mereka hidup dengan menyesuaikan, yang tujuannya hanya agar mereka bisa melangsungkan hidup selayak mungkin, memberikan pendidikan yang terbaik buat anaknya, dan memberikan penghidupan kepada anak dan istri sebaik mungkin. ?Bila bisa, bapak justru ingin harga cukur itu semurah mungkin. Tetapi apa daya, karena sekarang harga-harga kebutuhan pokok dan yang bukan pokok sudah pada mahal, mau diapain lagi?? Keluh bapak tukang cukur tersebut. Sembari membereskan peralatannya yang menandakan bahwa saya telah selesai dicukkur dan untuk sebentar memandang cermin di depan untuk mengagumi hasil karya masterpiecenya pada rambut saya yang menjadi bagus. Sampai kapanpun tukang cukur akan tetap ada hingga akhir zaman, hingga tidak ada lagi kehidupan (mungkin), karena semasih ada kepala yang menumbuhkan rambut dan perlu dipangkas, selama itu pula komunitas tukang cukur tak akan hilang. ?Tukang cukur sepanjang masa!?

Dan, Ah iya. Kata seseorang, hanya tukang cukurlah yang mengukur kedewasaan seseorang tidak dilihat dari umurnya, melainkan dari rambutnya. dewasa 15 ribu, kalo anak-anak 8 ribu.

Ditulis pada waktunya, ketika langit bandung sedang tidak hujan, tidak panas, juga tidak senja.

  • view 255