Dunia Yang Aku Lihat

Kilau Tegar Mahajuna
Karya Kilau Tegar Mahajuna Kategori Filsafat
dipublikasikan 10 Februari 2016
Dunia Yang Aku Lihat

Tidak ada yang lebih saya inginkan ketika memikirkan tentang dunia selain untuk bisa menyederhanakan kekompleksannya pada sebaris kata-kata atau selaksa pikiran yang sederhana. mudah di cerap dan dimengerti. sehingga itu artinya saya harus merenungi setiap yang tampak dan di sebaliknya. dan menjadi tahulah saya, bahwa dunia ini kadang tidak hanya sekedar urusan makan, tidur, internetan atau berkedip saja. *Apasih*

Tetapi, adapun saya menjumpai kesederhanaan dalam dunia itu hanya ketika saya memandangnya dalam persepsi yang saya punya. dan mungkin ini letak kekeliruannya, saya memahami dunia dari bagaimana saya memandangnya, bukan dari dunia itu sendiri. Tapi, bila tidak ada saya yang dalam hal ini adalah sebagai penafsir(?) atau pe-mandang, maka, pertanyaan konyol saya, masihkah dunia itu ada? atau justeru tidak ada? benarkah yang meng-ada-kan dunia itu adalah manusia ?

Kita pun sekarang tahu bahwa ini adalah dunia, bahwa itu adalah pohon, bahwa ini adalah bangku, itu semua merupakan hasil dari refleksi dan pandangan manusia terhadap dunia yang lalu kita menamainya. Menamai pohon sebagai pohon, bangku sebagai bangku, sendok sebagai sendok, dan yang lainnya. kita hidup dalam kesepakatan dengan orang lain di seluruh dunia.

Lalu ketika saya memandang sebuah mobil, masihkah benda tersebut (yang disebut mobil) akan disebut mobil bila tidak ada manusia yang menamainya dengan sebutan mobil? (*gak ngerti ya? sama. Haha*). Maksud saya, kenapa sesuatu itu punya nama dan bisa disebut? Apakah nama menjadi segalanya? atau ia hanya serupa seperti bahasa yang tidak lebih merupakan sebuah sarana saja? sarana untuk menjembatani antara apa yang dipandang oleh manusia dengan realitas sesungguhnya. tapi, paradoksnya, itu hanya sebuah cara, tidak benar-benar menggambarkan realitas yang sebenarnya. dengan begitu, apa sebetulnya hakikat dari dunia itu sendiri ? *garuk-garuk pala*

Kalau lah memang dunia itu ada, itu tidak lebih hanya karena ada manusia (yang menafsirkannya). Maka, sebetulnya dunia ini tidak ada. dan ia baru ada setelah di-ada-kan oleh manusia. tetapi pertanyaan selanjutnya, kalo manusia yang mengadakan dunia, sebetulnya itu buat apa? *Bener sekali* ituu adalah salasatu cara untuk membuat dunia tampak lebih bermakna. dan jangan lupa, biar ada nilai gunanya juga.

Bahwa tak penting kita tau kelapa itu apa, serabutnya bagaimana atau yang lainnya, tetapi bila ada gunanya, maka jadi pentinglah ia. karena manusia, sedikitnya agak meminggirkan penelusuran tentang dunia ini, dan pengetahuan semacam itu tidak lebih dari sebuah omong kosong belaka. sehingga yang lebih penting bagi manusia adalah masalah kegunaan dari alam ini (*Naif sekali yah saya), sehingga bila tidak berguna, kenapa harus repot-repot memikirkannya? benar apa betul? sayangnya, saya pun tidak yakin-yakin amat dengan apa yang barusan saya pikirkan. *gubrak. Haha*.

  • view 126